Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah sinyal keterbatasan inflow valuta asing (valas) perbankan nasional, PT Allo Bank Indonesia Tbk mencatatkan inflow valas yang relatif stabil hingga akhir 2025.
Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), transaksi pasar uang antar bank (PUAB) valas pada November 2025 turun 39,13% secara bulanan menjadi US$ 59,65 juta. LPS menilai, tren tersebut mencerminkan menurunnya permintaan jangka pendek perbankan terhadap pendanaan valas di tengah terbatasnya arus masuk.
Namun begitu, Head of Treasury Allo Bank Bagus Razy mengatakan, minat nasabah terhadap dana pihak ketiga (DPK) valas masih terjaga meski tidak semasif pada kuartal-III 2025.
“Di akhir tahun, inflow valas kami cukup stabil. Beberapa nasabah DPK valas masih menunjukkan minat, walaupun volumenya tidak sebesar pada kuartal III-2025,” ujar Bagus kepada Kontan, Rabu (7/1/2026).
Baca Juga: Transaksi Digital Allo Bank Tumbuh 3 Kali Lipat, Begini Strateginya
Dari sisi produk, permintaan DPK valas Allo Bank paling kuat berasal dari deposito valas, disusul giro valas dan tabungan valas. Menurut Bagus, tren ini sejalan dengan kebutuhan nasabah terhadap instrumen simpanan valas yang menawarkan fleksibilitas sekaligus imbal hasil yang kompetitif.
Sebelumnya, Himbara menaikkan suku bunga deposito valas dolar ke level 4%. Rupanya, kata Bagus, hal itu belum memberikan dampak signifikan terhadap penghimpunan DPK valas Allo Bank. Hal ini seiring posisi Allo Bank yang relatif baru dalam layanan perbankan valas.
“Allo Bank masih dalam tahap ‘new to market’ sejak perizinan layanan bank dalam valuta asing resmi berjalan pada kuartal II 2025. Saat ini kami masih memberikan pricing yang kompetitif dibandingkan suku bunga deposito valas Himbara,” jelasnya.
Ke depan, Allo Bank membidik pertumbuhan DPK valas yang lebih agresif pada 2026. Strategi ini sejalan dengan ambisi perseroan untuk tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan kredit industri perbankan.
Baca Juga: Kredit Tumbuh Moderat, Allo Bank Fokus Jaga Kualitas Aset
“Target DPK valas 2026 cukup besar, karena dalam menjalankan fungsi intermediasi, kami ingin tumbuh di atas rata-rata industri,” kata Bagus.
Sejumlah katalis yang diperkirakan memengaruhi inflow valas ke depan antara lain pergantian Ketua Federal Reserve serta rencana penurunan suku bunga global yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, baik secara global maupun domestik.
Dari sisi penyaluran, Allo Bank juga menargetkan pertumbuhan kredit valas yang agresif namun tetap berkelanjutan pada 2026. Inflow valas akan disesuaikan dengan strategi pembiayaan guna menjaga rasio loan to deposit ratio (LDR) di kisaran 90%–95%.
“Kami menargetkan pertumbuhan pembiayaan valas 2026 di atas rata-rata industri perbankan, dengan tetap menjaga keseimbangan likuiditas,” pungkas Bagus.
Baca Juga: Allo Bank Optimistis Capai Target RBB 2025, Ini Alasannya
Selanjutnya: Kredit Investasi Danamon Melaju, Sektor Manufaktur Jadi Pendorong
Menarik Dibaca: 6 Bahaya Duduk Terlalu Lama Menurut Dokter yang Penting Diketahui
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













