kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Ini Bank yang Cetak Pertumbuhan KPR Tertinggi Hingga Kuartal I-2026


Minggu, 03 Mei 2026 / 15:11 WIB
Ini Bank yang Cetak Pertumbuhan KPR Tertinggi Hingga Kuartal I-2026
ILUSTRASI. Asuransi Properti Ritel (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) perbankan masih cenderung terbatas pada kuartal I-2026. Sejumlah bank besar tercatat hanya membukukan pertumbuhan single digit, mencerminkan belum pulihnya permintaan di sektor properti.

PT Bank Central Asia (BBCA) misalnya, mencatatkan pertumbuhan penyaluran KPR sebesar 5,25% secara tahunan mencapai Rp 142,4 triliun di kuartal I-2026 dari Rp 135,3 triliun di periode sama tahun sebelumnya. Kemudian, PT Bank Mandiri mencatatkan penyaluran KPR sebesar Rp 69,5 triliun atau naik 5,78% secara year on year (yoy).

Bahkan bank penyalur KPR terbesar di Indonesia yakni PT Bank Tabungan Negara (BTN) hanya mencatatkan pertumbuhan penyaluran KPR sebesar 6,84% mencapai Rp 306,12 triliun pada kuartal I-2026.

Baca Juga: Penyaluran KPR BCA Tumbuh 5,2% di Kuartal I-2026, Nilainya Capai Rp 142,4 Triliun

Adapun penyaluran KPR PT Bank Negara Indonesia (BNI) terlihat tumbuh 9,32% yoy mencapai Rp 73,9 triliun. Hanya PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang mencatatkan pertumbuhan penyaluran KPR double digit atau 11,06% yoy mencapai Rp 67,3 triliun di kuartal I-2026.

Jika dilihat berdasarkan data Bank Indonesia (BI) penyaluran KPR juga masih terbatas, hanya tumbuh 4,5% di Maret 2026 mencapai Rp 842,7 triliun. Pertumbuhannya terlihat lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 5%.

Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, terutama daya beli masyarakat yang belum mengalami peningkatan signifikan.

“Kalau kita lihat, income masyarakat belum naik signifikan. Jadi wajar kalau belum ada lonjakan besar pada penyaluran kredit, khususnya di sektor properti,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (3/5/2026).

Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang masih berada di kisaran 5%–5,4% juga dinilai belum cukup kuat untuk mendorong ekspansi kredit properti secara agresif. Di sisi lain, tingkat suku bunga yang masih relatif tinggi turut menahan minat masyarakat dalam mengambil KPR.

Meski demikian, ia menilai kinerja kredit properti tidak sepenuhnya lemah. Beberapa bank masih mampu mencatatkan pertumbuhan di atas 10% pada periode yang sama.

Baca Juga: Ditinggalkan Bank Swasta, Bisnis Agen Bank Dikuasai Bank Pemerintah

Untuk tahun ini, Myrdal memproyeksikan kredit properti masih memiliki ruang tumbuh di kisaran 8% secara tahunan. Proyeksi ini sejalan dengan pertumbuhan kredit domestik yang diperkirakan mendekati double digit, meski tetap dibayangi risiko global seperti fluktuasi harga komoditas dan ketidakpastian ekonomi.

“Dengan kondisi saat ini, kredit properti masih bisa tumbuh sekitar 8%, meskipun tetap ada tantangan dari sisi global,” jelasnya.

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) KPR dinilai masih terjaga di kisaran 3,1%. Namun, perbankan tetap perlu menjaga kewaspadaan dengan memperkuat manajemen risiko.

Ia menekankan pentingnya penerapan prinsip kehati-hatian, termasuk proses seleksi kredit (screening) yang ketat serta penguatan aktivitas penagihan (collection) terhadap debitur yang mengalami keterlambatan pembayaran.

“Bank harus tetap selektif dan disiplin dalam monitoring portofolio, termasuk intensif dalam melakukan collection untuk menjaga kualitas aset,” ujarnya.

Untuk mendorong pertumbuhan KPR ke depan, perbankan dinilai perlu memperkuat sinergi dengan berbagai pihak, termasuk mengikuti program pemerintah di sektor perumahan seperti program 3 juta rumah dan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Selain itu, pemanfaatan insentif pemerintah seperti Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) juga dinilai dapat meningkatkan daya tarik pembelian properti, khususnya bagi pembeli rumah pertama.

Baca Juga: Skema Baru Pendanaan OJK dari APBN dan PNBP, Begini Tanggapan Bank Jateng

Strategi lain yang dapat ditempuh bank antara lain memperkuat kerja sama dengan pengembang (developer), menawarkan skema bunga yang lebih kompetitif, serta mengembangkan proses pengajuan KPR berbasis digital untuk meningkatkan efisiensi dan aksesibilitas.

Perbankan juga didorong untuk lebih jeli melihat potensi wilayah yang berkembang, terutama kawasan yang didukung proyek infrastruktur pemerintah, serta memperluas pembiayaan ke segmen rumah menengah ke bawah yang permintaannya relatif lebih besar.

“Bank juga harus kreatif dalam membuat paket pembiayaan, baik untuk rumah subsidi maupun segmen menengah atas, agar bisa menjangkau lebih banyak pasar,” tambahnya.

Menurut Myrdal, dengan berbagai strategi tersebut, perbankan diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan kualitas aset, sekaligus mendorong pemulihan sektor properti di tengah dinamika ekonomi yang masih menantang.

BTN pun mengakui pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) dari subsidi dan non-subsidi lebih moderat pada kuartal I-2026.

Untuk KPR non subsidi hanya tumbuh sekitar 5,4% secara tahunan atau year on year (YoY) mencapai Rp 112,56 triliun per kuartal I-2026 dari Rp 106,81 triliun di periode sama tahun sebelumnya. 

Adapun KPR subsidi naik 7,7% yoy mencapai senilai Rp 193,55 triliun per kuartal I-2026 dari Rp 179,70 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama BTN Nixon L.P Napitupulu menyebut, perlambatan ini lebih dipengaruhi faktor musiman dan kondisi eksternal, bukan karena melemahnya permintaan.

Baca Juga: CIMB Niaga Cetak Laba Rp 1,76 Triliun, Ini Penyebab Utamanya

Ia menjelaskan, musim hujan yang datang lebih awal pada akhir 2025 hingga awal 2026 menghambat penyelesaian fisik proyek perumahan. Padahal, dalam skema KPR, pencairan kredit baru dapat dilakukan setelah rumah selesai dibangun.

Selain itu, momentum Ramadan dan Lebaran juga memperlambat progres konstruksi karena banyak tenaga kerja yang kembali ke kampung halaman.

Akibatnya, terdapat puluhan ribu unit rumah yang sebenarnya sudah mendapatkan persetujuan kredit, namun belum bisa direalisasikan karena pembangunan belum rampung.

“Ini bukan menghambat, tapi menunda realisasi kredit karena fisik rumah belum selesai,” katanya.

Dari sisi kualitas aset, BTN memastikan rasio NPL di sektor perumahan tetap terjaga. Secara umum, NPL perumahan berada di bawah 3%, bahkan untuk KPR subsidi di bawah 2%.

Menurut Nixon, risiko kredit di segmen ini relatif rendah karena mayoritas debitur merupakan pembeli rumah pertama yang cenderung menjaga kewajiban pembayaran.

“Aset NPL perumahan juga lebih mudah direcycle dibandingkan sektor lain karena masih ada pasar yang menyerap,” imbuhnya.

Sementara EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn mengatakan, tren penyaluran kredit, termasuk KPR, pada umumnya sejalan dengan kondisi perekonomian. Oleh karena itu, upaya mendorong permintaan menjadi salah satu fokus perseroan di tengah daya beli masyarakat yang masih bertahap pulih.

Baca Juga: Bank Negara Indonesia (BNI) Siap Dukung PINISI, Bidik Kredit ke Sektor Produktif

Salah satu strategi yang ditempuh adalah melalui ajang BCA Expoversary 2026 yang diperpanjang hingga 30 April 2026 secara online. Dalam program ini, BCA menawarkan berbagai promo menarik untuk mendorong minat masyarakat terhadap pembiayaan properti.

Di antaranya, bunga spesial KPR sebesar 1,69% efektif per tahun fixed satu tahun, disertai diskon provisi 50% dan potongan premi asuransi jiwa sebesar 5%.

“Kami berharap penyelenggaraan BCA Expoversary 2026 dapat meningkatkan volume aplikasi baru dari segmen KPR,” tambahnya.

Dari sisi kualitas aset, BCA memastikan portofolio KPR tetap terjaga dengan baik. Rasio kredit bermasalah alias non-performing loan (NPL) KPR berada pada level yang terkendali, sejalan dengan NPL gross perseroan yang tercatat sebesar 1,8% pada kuartal I-2026.

Ke depan, BCA optimistis penyaluran KPR masih memiliki ruang untuk tumbuh, seiring dengan perbaikan kondisi ekonomi dan berbagai stimulus yang diberikan untuk mendukung sektor properti.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×