Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Tendi Mahadi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jumlah pengguna produk asuransi syariah tumbuh tinggi di tahun ini. Sayangnya, tingkat penetrasi yang masih rendah membuat perkembangan asuransi syariah masih belum optimal.
Hingga semester I-2026, Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) mencatat, jumlah tertanggung di industri asuransi syariah 25,96 juta jiwa. Angka ini melompat 56,90% dibandingkan periode yang sama di tahun lalu.
Pertumbuhan jumlah tertanggung ini turut mengerek nilai pertanggungan industri setinggi 14,58% menjadi Rp 786 triliun.
Meski semakin banyak masyarakat yang memiliki proteksi dari perusahaan asuransi syariah, Ketua AASI, Fauzi Arfan mengakui perkembangan pasar asuransi syariah masih menemui sejumlah kendala. Salah satunya akibat tingkat literasi dan inklusi yang masih rendah.
Baca Juga: Penjualan Mobil Naik 13,9% hingga Agustus 2026, Angin Segar bagi Asuransi Kendaraan
Literasi asuransi syariah saat ini, disebutnya baru ada di level 43%. Bahkan, dari sisi inklusi baru ada di angka 13%.
"Sementara tingkat penterasi asuransi syariah masih di bawah 1%," kata Fauzi, Jumat (11/9).
Sejatinya, Fauzi menilai kondisi ini memberikan peluang bagi pelaku industri untuk bisa menggeber pertumbuhan. Karena itu, asosiasi menyiapkan beberapa program agar penetrasi asuransi syariah bisa dilakukan dengan lebih mendalam.
Salah satunya dari sisi pengembangan produk yang lebih beragam. Termasuk untuk lebih banyak menyasar segmen mass market, sehingga bisa lebih banyak produk yang semakin relevan dengan kebutuhan pasar.
Upaya lain yang didorong AASI adalah dari sisi tenaga pemasaran. Dari saat ini ada sekitar 100.000 agen asuransi syariah, asosiasi berupaya meningkatkan jumlah tenaga pemasar hingga berkali lipat.
Baca Juga: Daya Beli Tertekan, Allianz Ungkap Tantangan Bisnis Agen Asuransi
Menurut Fauzi, jurus ini juga bisa semakin realistis dilakukan di tengah musim spinoff unit usaha syariah (UUS) yang saat ini sedang gencar dilakukan. Pasalnya dengan semakin banyaknya perusahaan berstatus full fledge, maka industri akan lebih lincah dalam melakukan ekspansi.
"Termasuk dari sisi pengembangan produk baru," ujar Fauzi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














