Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) akan merevisi target pertumbuhan kredit dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026. Langkah tersebut diambil seiring perubahan kondisi makroekonomi, termasuk kenaikan suku bunga dan pelemahan nilai tukar rupiah yang dinilai berpotensi meningkatkan risiko kualitas aset.
Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie mengatakan, perseroan tidak ingin memaksakan pertumbuhan kredit jika harus mengorbankan prinsip kehati-hatian.
"Keadaan makro sudah berubah. Karena itu kami mau fokus terhadap kualitas. Kami tidak mau memaksakan pertumbuhan kredit hanya untuk mengejar target tetapi tidak prudent," ujar Kunardy di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sebelumnya, KB Bank menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 15% dalam RBB 2026. Namun, target tersebut akan disesuaikan agar lebih sejalan dengan proyeksi pertumbuhan industri perbankan yang berada di kisaran 8% hingga 11% sesuai arahan regulator.
Baca Juga: KB Bank Bidik Naik ke KBMI 3 Dalam Waktu Dekat
"Pertumbuhan kredit akan lebih moderat. Kami tidak lagi semata-mata mengejar volume, tetapi lebih mengedepankan prinsip kehati-hatian," katanya.
Kunardy menjelaskan, saat ini tantangan terbesar bukan hanya berasal dari kenaikan suku bunga, tetapi juga volatilitas nilai tukar yang dapat memengaruhi kemampuan debitur, terutama perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor.
"Kalau kenaikan bunga biasanya nasabah masih bisa mengantisipasi. Yang lebih kami khawatirkan justru fluktuasi nilai tukar karena berdampak pada biaya impor dan pada akhirnya bisa memengaruhi kualitas kredit," ujarnya.
Karena itu, perseroan akan memperketat proses seleksi debitur sekaligus meningkatkan pemantauan terhadap portofolio kredit yang telah disalurkan agar tidak mengalami penurunan kualitas.
Hingga Mei 2026, penyaluran kredit KB Bank tumbuh 3,84% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp 43,52 triliun dari Rp 41,92 triliun pada Mei 2025. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 6,03% YoY menjadi Rp 44,08 triliun, ditopang oleh pertumbuhan penghimpunan giro, tabungan, dan deposito.
Baca Juga: Pertumbuhan Kredit Melambat, Begini Strategi KB Bank
Di sisi pendanaan, KB Bank tetap agresif mengejar pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Namun, perseroan menegaskan fokus utamanya adalah menghimpun dana yang berkelanjutan (sticky fund), bukan dana yang mudah keluar masuk.
Kunardy mengibaratkan likuiditas sebagai darah dalam tubuh manusia yang menjadi penopang utama operasional bank.
"Funding itu seperti darah di tubuh manusia. Kami harus memiliki pendanaan yang cukup agar bisa beroperasi secara normal," katanya.
Untuk itu, KB Bank akan terus memperkuat pembangunan ekosistem nasabah agar mampu menghasilkan basis pendanaan yang lebih stabil. Selain itu, perseroan juga mendorong penghimpunan dana murah melalui pengembangan layanan Private Banking Center.
Menurut Kunardy, strategi tersebut diharapkan mampu menekan biaya dana (cost of fund) sehingga tetap mendukung ekspansi bisnis di tengah kompetisi penghimpunan DPK yang semakin ketat.
Ia mengakui, suku bunga deposito telah mengalami kenaikan. Saat ini, suku bunga deposito KB Bank untuk nasabah individu maupun korporasi berada di kisaran 6% setelah penyesuaian yang dilakukan sekitar sepekan terakhir.
"Kami juga harus menyesuaikan bunga agar tetap kompetitif. Tetapi kami tidak ingin menarik dana dengan harga yang terlalu mahal karena pada akhirnya akan meningkatkan biaya penyaluran kredit," ujarnya.
Baca Juga: Tawarkan Bunga Kompetitif, Portofolio KPR KB Bank Masih Didominasi Produk Take Over
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














