CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.604.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.627   61,00   0,35%
  • IDX 6.541   -47,96   -0,73%
  • KOMPAS100 858   -8,05   -0,93%
  • LQ45 650   -6,26   -0,95%
  • ISSI 227   -3,10   -1,35%
  • IDX30 361   -3,60   -0,99%
  • IDXHIDIV20 450   -2,93   -0,65%
  • IDX80 98   -0,98   -0,99%
  • IDXV30 125   -0,95   -0,75%
  • IDXQ30 116   -1,19   -1,02%

Kepemilikan di SRBI Melandai, Bank Mulai Alihkan Likuiditas ke Kredit


Minggu, 13 September 2026 / 18:54 WIB
Kepemilikan di SRBI Melandai, Bank Mulai Alihkan Likuiditas ke Kredit
ILUSTRASI. Penempatan dana perbankan pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mulai menunjukkan tren penurunan.(AFP/YASUYOSHI CHIBA)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Penempatan dana perbankan pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mulai menunjukkan tren penurunan.

Berdasarkan data per Agustus 2026, kepemilikan SRBI oleh bank tercatat sebesar Rp618,76 triliun, turun tipis 0,45% month-to-month (mtm) dari posisi Juli 2026 sebesar Rp621,56 triliun.

Kendati demikian, nilainya masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 563,50 triliun atau tumbuh sekitar 9,81% year-on-year (yoy).

Baca Juga: Bank Digital Ramai Cetak Laba, OJK Bandingkan Dengan Negara Lain: Patut Diapresiasi

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman menilai, penurunan tersebut masih terlalu tipis untuk dibaca sebagai perubahan strategi yang bersifat struktural.

“Penurunan kepemilikan SRBI dari Rp621,56 triliun menjadi Rp618,76 triliun memang masih tipis, sehingga belum bisa dibaca sebagai perubahan strategi yang struktural. Namun arahnya penting,” kata Rizal kepada kontan.co.id, Jumat (11/9/2026).

Menurutnya, ketika imbal hasil SRBI mulai kurang menarik, bank akan semakin memperhitungkan biaya peluang atau opportunity cost dari menahan likuiditas pada instrumen moneter dibandingkan menyalurkannya ke aset yang lebih produktif.

Rizal melihat, terdapat indikasi terjadinya penyeimbangan kembali portofolio atau rebalancing ke kredit, terutama karena pertumbuhan kredit perbankan mulai kembali kuat. Namun, ia mengingatkan bahwa penurunan kepemilikan SRBI tidak otomatis menunjukkan fungsi intermediasi perbankan telah membaik.

Baca Juga: Kinerja Perbankan Diproyeksi Membaik pada Triwulan III-2026

“Selama undisbursed loan masih besar, persoalan utamanya bukan kekurangan likuiditas, melainkan seberapa kuat permintaan kredit yang berkualitas dan seberapa besar keberanian bank menyalurkannya ke sektor produktif,” jelasnya.

Rizal menambahkan, perubahan portofolio tersebut tidak akan berlangsung seragam di seluruh industri perbankan. Bank dengan likuiditas kuat, kualitas aset baik, serta pipeline kredit yang sehat akan lebih agresif mengurangi penempatan dana di SRBI.

Sebaliknya, bank yang menghadapi risiko kredit lebih tinggi atau permintaan pembiayaan yang masih lemah cenderung tetap mempertahankan dana pada instrumen likuid.

“Agregat SRBI yang turun belum tentu mencerminkan perubahan perilaku seluruh industri,” ujarnya.

Ke depan, kepemilikan SRBI berpotensi terus menurun secara bertahap apabila imbal hasil SRBI melemah dan pertumbuhan kredit tetap tinggi. Namun, menurut Rizal, indikator keberhasilan transmisi kebijakan moneter bukan sekadar penurunan kepemilikan SRBI.

“Yang jauh lebih penting adalah apakah likuiditas benar-benar berpindah ke kredit produktif atau tidak. Jika hanya bergeser ke SBN atau instrumen likuid lain, maka transmisi kebijakan moneter ke sektor riil masih belum optimal,” tegasnya.

Baca Juga: Bank Nagari Optimistis Penarikan Dana Pemda Tidak Ganggu Likuiditas

Di sisi lain, Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan, kepemilikan SRBI di KB Bank tetap terjaga secara stabil. Menurutnya, penurunan kepemilikan SRBI secara industri lebih banyak dipengaruhi oleh langkah Bank Indonesia yang sejak Agustus 2026 mengurangi penyerapan melalui lelang SRBI.

Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kecukupan likuiditas sistem keuangan sekaligus mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

“Penurunan kepemilikan SRBI secara industri juga terjadi seiring dengan meningkatnya penyaluran kredit, di mana sejumlah bank mulai mengoptimalkan penempatan dananya ke berbagai sektor pembiayaan, termasuk segmen korporasi dan konsumsi, sejalan dengan meningkatnya permintaan kredit pada paruh kedua tahun ini,” kata Kunardy.

Ia menilai, penurunan kepemilikan SRBI lebih mencerminkan penyesuaian portofolio investasi, bukan pelepasan likuiditas bank.

Per Juli 2026, nilai surat berharga yang dimiliki KB Bank mencapai Rp47,94 triliun, naik 37,4% yoy dari Rp34,90 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, penyaluran kredit KB Bank tercatat sebesar Rp46,69 triliun, meningkat 5,71% yoy dari Rp44,17 triliun di periode sama tahun sebelumnya.

Kunardy mengatakan, KB Bank akan terus menyesuaikan posisi kepemilikan SRBI dengan arah kebijakan Bank Indonesia dan perkembangan kondisi pasar. Di tengah dinamika suku bunga serta volatilitas pasar global, perseroan tetap mengoptimalkan portofolio instrumen likuid dengan mempertimbangkan tingkat imbal hasil dan risiko.

“Strategi penempatan pada tenor yang lebih pendek atau shortening duration juga memberikan fleksibilitas bagi bank dalam mengelola likuiditas sekaligus mengurangi eksposur terhadap risiko jangka panjang,” ujarnya.

Hingga akhir tahun, KB Bank memperkirakan kepemilikan SRBI tetap berada pada level moderat sebagai bagian dari buffer likuiditas. Di sisi lain, bank tetap membuka ruang untuk mendorong ekspansi kredit produktif sesuai kondisi pasar dan kebutuhan nasabah.

Adapun, Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Hera F. Haryn mengatakan, fungsi utama perbankan adalah sebagai sarana intermediasi ekonomi, khususnya melalui penyaluran kredit.

Baca Juga: Allo Bank Indonesia (BBHI) Atur Strategi Turunkan Kredit Bermasalah

Namun, BCA juga menempatkan dana pada surat berharga, termasuk obligasi pemerintah, SRBI, dan instrumen surat berharga lainnya. Penempatan dana tersebut menjadi bagian dari strategi pengelolaan likuiditas sekaligus mendukung perekonomian nasional.

“BCA senantiasa menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan ekspansi kredit yang sehat. BCA berkomitmen untuk mengelola likuiditas secara prudent serta mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dalam penerapan manajemen risiko,” kata Hera.

Adapun total kredit BCA hingga Juli 2026 mencapai Rp 1.000,88 triliun, naik 8,38% yoy dari Rp 923,51 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada periode yang sama, nilai surat berharga yang dimiliki BCA mencapai Rp 419,24 triliun, meningkat 6,37% yoy dari Rp 394,15 triliun di periode sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, perseroan selalu mengarahkan likuiditas yang tersedia ke portofolio yang berkaitan dengan nasabah, baik melalui kredit maupun produk wealth management.

Menurutnya, strategi neraca atau balance sheet strategy CIMB Niaga akan mempertimbangkan margin serta dampak pendapatan yang paling efektif. Keputusan penempatan dana juga bergantung pada permintaan kredit, biaya dana atau cost of fund (CoF), serta tingkat bunga kredit yang masih dapat dimanfaatkan untuk memberikan keuntungan bagi nasabah.

“Kami selalu fokuskan likuiditas yang tersedia ke portofolio yang berhubungan dengan nasabah, baik kredit maupun wealth products. Strategi balance sheet selalu melihat margin dan revenue impact yang paling efektif,” ujar Lani.

Penyaluran kredit CIMB Niaga per Juli 2026 mencapai Rp179,18 triliun, naik 15,41% yoy dari Rp155,26 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, surat berharga yang dimiliki CIMB Niaga tercatat sebesar Rp63,39 triliun, turun 20,61% yoy dari Rp79,85 triliun di periode sama tahun sebelumnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×