CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.604.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.627   61,00   0,35%
  • IDX 6.541   -47,96   -0,73%
  • KOMPAS100 858   -8,05   -0,93%
  • LQ45 650   -6,26   -0,95%
  • ISSI 227   -3,10   -1,35%
  • IDX30 361   -3,60   -0,99%
  • IDXHIDIV20 450   -2,93   -0,65%
  • IDX80 98   -0,98   -0,99%
  • IDXV30 125   -0,95   -0,75%
  • IDXQ30 116   -1,19   -1,02%

Allo Bank Indonesia (BBHI) Atur Strategi Turunkan Kredit Bermasalah


Minggu, 13 September 2026 / 17:43 WIB
Allo Bank Indonesia (BBHI) Atur Strategi Turunkan Kredit Bermasalah
ILUSTRASI. Allo Bank (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) terus memantau kualitas kredit di tengah ekspansi bisnis yang cukup agresif.  

Per Juni 2026, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross Allo Bank tercatat 1,73%, naik dibandingkan posisi Maret 2026 sekitar 1,6% maupun Juni 2025 sekitar 1,53%.

Kendati begitu, Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo memastikan kenaikan NPL tersebut masih berada dalam level yang dapat dikelola perseroan.

Baca Juga: Allo Bank Waspadai Kenaikan NPL Usai Lebaran

Meski meningkat, posisi NPL Allo Bank masih lebih rendah dibandingkan rata-rata industri perbankan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), NPL gross industri perbankan pada Juni 2026 mencapai 2,09%.

Pun, kenaikan NPL tersebut terjadi bersamaan dengan pertumbuhan kredit yang cukup tinggi. Hingga akhir Juni 2026, kredit Allo Bank tumbuh 28% secara tahunan menjadi Rp 9,55 triliun.

Destya bilang pertumbuhan tersebut berasal dari segmen Retail Banking maupun Wholesale Banking. Menurutnya, ekspansi portofolio yang signifikan tersebut perlu diimbangi dengan pengelolaan risiko yang tetap prudent.

“Yang menjadi fokus kami adalah memastikan pertumbuhan kredit tetap menghasilkan risk-adjusted return yang sehat dan sustainable,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (10/9/2026). 

Allo Bank tak mematok target numerik untuk NPL. Destya menyebut kualitas aset bakal sangat bergantung pada kondisi ekonomi, perilaku nasabah, serta dinamika masing-masing portofolio.

Baca Juga: Allo Bank (BBHI) Bidik Pertumbuhan Kredit di Atas Industri pada 2026

Untuk menjaga kualitas kredit, bank digital milik Chairul Tanjung ini bakal memperkuat underwriting berbasis data, segmentasi nasabah dan risk-based pricing yang lebih granular.

Selain itu, monitoring kualitas kredit secara dini, collection, serta early warning system juga akan diperkuat.

Allo Bank juga bakal terus mengevaluasi kinerja masing-masing segmen dan produk. Jika terdapat perubahan profil risiko, bank memiliki ruang untuk menyesuaikan appetite, limit, pricing maupun strategi akuisisi.

“Kami ingin menjaga NPL tetap berada pada level yang prudent dan kompetitif dibandingkan industri,” kata Destya.

Lebih lanjut ia bilang sejumlah faktor eksternal yang bakal menjadi perhatian hingga akhir tahun antara lain daya beli dan kemampuan bayar masyarakat, kondisi sektor usaha dan employment, arah suku bunga, serta perkembangan ekonomi makro.

Di tengah tantangan tersebut, Destya masih melihat fundamental Allo Bank cukup kuat. Selain kredit yang tumbuh 28% secara tahunan, Allo Bank berhasil mencatat laba bersih Rp 234 miliar pada semester I-2026.

Baca Juga: Tak Agresif, Allo Bank Turunkan Bunga Deposito Secara Selektif

Margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) juga meningkat menjadi 10,9% pada Semester I-2026 dari 10,4% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

“Kami ingin kredit tumbuh secara sehat, memberikan return yang optimal sesuai risikonya, dan pada akhirnya menghasilkan revenue serta profitabilitas yang sustainable bagi Allo Bank,” tukas Destya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×