Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk, Selvi Mayasari | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan ekonomi rumah tangga tampaknya semakin berat di awal tahun ini. Hal itu salah satunya tercermin dari laju pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang masih lesu dan disertai penurunan kualitas aset.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) yang dikutip Sabtu (21/3/2026), outstanding KPR perbankan pada Januari 2026 tercatat mencapai Rp 836,28 triliun, hanya tumbuh 5,36% secara tahunan atau year-on-year (YoY). Lajunya melambat dari bulan sebelumnya yang tumbuh 6,84% YoY.
Adapun jumlah KPR bermasalah atau non-performing loan (NPL) mencapai Rp 26,99 triliun, setara 3,22% dari total portofolio KPR perbankan. Padahal, di akhir Desember 2025, NPL KPR tercatat Rp 26,04 triliun dengan rasio 3,11%. Artinya, NPL bertambah Rp 950 miliar hanya dalam waktu satu bulan.
Sementara dalam setahun terakhir, jumlah KPR bermasalah telah meningkat sebesar Rp 4,45 triliun. NPL KPR per Januari 2025 tercatat sebesar Rp 22,54 triliun atau 2,84% dari total portofolio saat itu.
Bila dirinci lebih jauh, NPL KPR untuk rumah tapak tipe di atas 70 meter persegi (m²) mencapai Rp 7,2 triliun dengan rasio 2,99%, naik dari Rp 6,95 triliun pada bulan sebelumnya.
Baca Juga: BRI Perkuat Bisnis KPR, Targetkan Pertumbuhan 17%
NPL KPR rumah tapak tipe di atas 22 m² hingga 70 m² mencapai Rp 15,79 triliun dengan rasio 3,1%, bertambah Rp 516 miliar dari akhir Desember 2025. NPL KPR rumah tapak di bawah 22 m² mencapai Rp 1,44 triliun dengan rasio 6,23%.
Data BI menunjukkan bahwa penjualan rumah primer masih didominasi KPR. Pada kuartal IV 2025, porsi KPR dalam skema pembayaran pembelian rumah mencapai 70,88%, namun turun dari kuartal sebelumnya yang mencapai 74,41%.
Survei BI menunjukkan penjualan rumah di pasar primer pada kuartal IV tercatat tumbuh 7,83% secara tahunan, membaik dari kuartal sebelumnya yang kontraksi 1,29% YoY.
Baca Juga: Rasio KPR Bermasalah BCA Meningkat, Manajemen Perketat Risiko
Namun demikian, penjualan properti residensial primer masih menghadapi tantangan. Berdasarkan hasil survei BI, penghambat utama pengembangan dan penjualan properti residensial primer meliputi kenaikan harga bahan bangunan (18,79%), suku bunga KPR (15,56%), masalah perizinan (14,79%), proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR (9,91%), dan perpajakan (9,42%).
Bankir Optimistis
Tantangan dalam menjaga kualitas aset KPR salah satunya dialami Bank Tabungan Negara (BTN). Bank ini terutama menghadapi tantangan di segmen kredit pemilikan rumah (KPR) nonsubsidi.
Adapun outstanding KPR nonsubsidi BTN mencapai Rp 113,04 triliun, naik 6,7% secara tahunan. Rasio NPL di segmen ini meningkat dari 3,7% pada 2024 menjadi 5,3%. Artinya, portofolio KPR nonsubsidi bermasalah mencapai sekitar Rp 5,99 triliun.
Tak hanya kualitas aset yang menurun, ekspansi KPR nonsubsidi BTN tahun lalu juga terbatas. Pencairan KPR baru atau new booking tercatat hanya mencapai Rp 11,3 triliun, melorot 42,8% dibandingkan 2024.
Adapun portofolio KPR subsidi tumbuh 10% secara tahunan pada 2025 menjadi Rp 191,18 triliun. Rasio NPL segmen ini menunjukkan perbaikan dari level 1,7% pada 2024 menjadi 1,4% pada 2025. Dengan begitu, nilai kredit bermasalah pada KPR yang hanya dikenakan bunga 5% sepanjang tenor ini tercatat Rp 2,67 triliun.
Baca Juga: BCA Targetkan Pertumbuhan Penyaluran KPR 6%–7% pada Tahun 2026
Direktur Manajemen Risiko BTN Setiyo Wibowo menyebut, NPL properti masih naik akibat ekonomi melambat, khususnya di segmen menengah bawah. "Namun, tahun ini seharusnya kondisi mulai membaik," ujar Setiyo belum lama ini.
BTN menargetkan NPL tetap di bawah 3% dengan memperkuat kualitas aset melalui automasi kredit berbasis data dan AI, penajaman collection berbasis segmentasi risiko, serta pengawasan portofolio end-to-end.
Sementara Bank Central Asia (BCA) mencatat rasio NPL KPR sebesar 1,54% pada akhir Desember 2025. Angka tersebut naik sekitar 0,18 poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, meski masih berada di bawah rata-rata industri perbankan.
EVP Consumer Loan BCA Welly Yandoko mengatakan, kenaikan rasio NPL tersebut dipengaruhi ketidakstabilan makroekonomi yang menekan kemampuan sebagian debitur untuk membayar cicilan. "Tekanan daya beli dan dinamika ekonomi global turut mempengaruhi kualitas kredit properti," ujarnya.
BCA juga menargetkan NPL KPR turun pada 2026 meski tekanan masih berlanjut. Upaya ditempuh melalui penguatan manajemen risiko, analisis kredit yang lebih ketat sejak awal, penerapan prinsip kehati-hatian dan sistem know your customer (KYC), penilaian agunan yang akurat, serta optimalisasi sistem peringatan dini dan pengawasan debitur berisiko.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













