kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.637.000   -3.000   -0,11%
  • USD/IDR 17.657   -7,00   -0,04%
  • IDX 6.620   -16,80   -0,25%
  • KOMPAS100 866   -0,88   -0,10%
  • LQ45 656   -1,17   -0,18%
  • ISSI 231   0,64   0,28%
  • IDX30 367   -0,76   -0,21%
  • IDXHIDIV20 454   -0,16   -0,04%
  • IDX80 99   -0,07   -0,07%
  • IDXV30 126   0,61   0,49%
  • IDXQ30 118   -0,24   -0,21%

Kredit ke BUMN Masih Jadi Motor Pertumbuhan Kredit Himbara


Senin, 07 September 2026 / 18:39 WIB
Kredit ke BUMN Masih Jadi Motor Pertumbuhan Kredit Himbara
ILUSTRASI. Kinerja Perbankan-Pengunjung di booth HIMBARA (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyaluran kredit kepada badan usaha milik negara (BUMN) masih menjadi salah satu motor pertumbuhan kredit Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, BUMN masih menjadi salah satu motor penting pertumbuhan kredit Himbara, terutama melalui pembiayaan korporasi dan investasi.

"BUMN masih menjadi salah satu motor penting kredit Himbara, terutama melalui kredit korporasi dan investasi untuk infrastruktur, energi, hilirisasi, transportasi dan proyek strategis," kata Trioksa kepada kontan.co.id, Senin (7/9/2026).

Baca Juga: Premi Asuransi Kendaraan Tumbuh 4,9%, Kendaraan Listrik Jadi Perhatian

Meski demikian, Trioksa mengingatkan bahwa tingginya pertumbuhan kredit bank BUMN tidak otomatis berarti seluruh pertumbuhan tersebut berasal dari penyaluran kredit kepada perusahaan BUMN.

Menurutnya, dari sisi risiko, bank perlu memperhatikan bukan hanya rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL), tetapi juga konsentrasi eksposur. Pasalnya, sejumlah BUMN memiliki keterkaitan dengan proyek pemerintah, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), maupun sektor ekonomi yang sama.

"Yang perlu dijaga bukan hanya NPL, tetapi konsentrasi eksposur karena sejumlah BUMN dapat memiliki keterkaitan dengan proyek pemerintah, APBN maupun sektor ekonomi yang sama," ujarnya.

Trioksa melihat ruang bagi Himbara untuk terus memperbesar kredit kepada BUMN masih terbuka, selama tetap memenuhi ketentuan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) dan didukung kapasitas modal yang memadai.

Namun, bank sebaiknya tidak hanya berpatokan pada batas regulator. Himbara juga perlu menggunakan limit internal yang lebih konservatif serta memanfaatkan skema sindikasi dan risk sharing agar eksposur tidak terlalu terkonsentrasi pada satu grup usaha atau sektor.

"Ruang ekspansi masih ada sepanjang memenuhi BMPK dan kapasitas modal, tetapi bank sebaiknya juga menggunakan limit internal yang lebih konservatif, sindikasi dan risk sharing sehingga tidak terlalu terkonsentrasi pada satu grup atau sektor," jelas Trioksa.

Hingga akhir 2026, ia memperkirakan kredit kepada BUMN masih berpotensi tumbuh. Beberapa sektor yang dinilai memiliki prospek antara lain energi dan transisi energi, hilirisasi, telekomunikasi dan digital, transportasi-logistik, serta infrastruktur yang memiliki arus kas jelas.

Sebaliknya, bank perlu lebih selektif terhadap perusahaan dengan leverage tinggi, proyek berjangka panjang, ketergantungan besar terhadap pembayaran pemerintah, serta BUMN yang masih menjalani restrukturisasi.

Baca Juga: KPR FLPP 40 Tahun Belum Bisa Diajukan, BTN Masih Tunggu Aturan BP Tapera

"Fokus Himbara seharusnya bukan semata mengejar pertumbuhan kredit, tetapi kualitas dan risiko terukur dari setiap pembiayaan," tegasnya.

Besarnya peran ekosistem BUMN terhadap pertumbuhan kredit Himbara tercermin dari penyaluran Bank Mandiri.

Sebelumnya, Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista mengatakan, perseroan terus berkomitmen mendukung pembiayaan proyek strategis dan pembangunan infrastruktur nasional, termasuk melalui ekosistem pemerintahan dan BUMN.

Per Juni 2026, penyaluran kredit Bank Mandiri kepada ekosistem pemerintahan dan BUMN mencapai Rp489 triliun, tumbuh 41,6% secara tahunan. Penyaluran tersebut mencakup pembiayaan proyek strategis, infrastruktur, energi, pertahanan hingga layanan publik.

"Dapat kami sampaikan, Bank Mandiri terus berkomitmen mendukung pembiayaan proyek strategis dan pembangunan infrastruktur nasional, termasuk melalui ekosistem pemerintahan dan BUMN," kata Adhika.

Meski pertumbuhannya tinggi, Bank Mandiri memastikan ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko.

"Bank Mandiri akan terus mengoptimalkan penyaluran kredit secara selektif dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko yang disiplin," ujarnya.

Bank Mandiri juga terus menjaga kualitas aset melalui pengelolaan risiko secara prudent serta memastikan kecukupan pencadangan dan permodalan.

Hingga Juni 2026, kualitas aset Bank Mandiri masih terjaga. Hal tersebut tercermin dari rasio NPL secara bank only sebesar 0,98%, dengan NPL coverage ratio sebesar 242%.

Baca Juga: OJK Tangani 187 Perkara hingga Agustus 2026, Mayoritas Kasus Perbankan

Menurut Adhika, kondisi tersebut menunjukkan pertumbuhan kredit Bank Mandiri tetap berjalan beriringan dengan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko yang disiplin.

"Dengan pendekatan tersebut, kami optimistis Bank Mandiri dapat terus memberikan kontribusi positif dalam mendukung agenda prioritas pemerintah sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan," katanya.

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatat pertumbuhan kredit kepada BUMN cukup tinggi. Hingga Juni 2026, kredit BNI kepada BUMN naik 63,2% secara tahunan menjadi Rp197,8 triliun.

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, perseroan memastikan eksposur pembiayaan kepada BUMN Karya tetap dikelola secara hati-hati, terutama di tengah isu perpanjangan pembayaran utang proyek infrastruktur.

Menurut Okki, pengelolaan portofolio kredit kepada BUMN Karya mempertimbangkan profil risiko debitur, prospek usaha serta perkembangan proyek yang dibiayai.

"BNI senantiasa mengelola portofolio kredit secara prudent dengan mempertimbangkan profil risiko, prospek usaha debitur, serta perkembangan proyek yang dibiayai," ujar Okki.

Untuk menjaga kualitas pembiayaan, BNI secara berkala melakukan evaluasi bersama debitur dan para pemangku kepentingan terkait. Evaluasi tersebut dilakukan untuk menyesuaikan skema pembiayaan dengan perkembangan proyek dan kemampuan pembayaran debitur.

Baca Juga: OJK Catat Aset Industri Penjaminan Turun 5,09% Jadi Rp 45,93 Triliun per Juli 2026

"Setiap penyesuaian skema pembiayaan dilakukan berdasarkan hasil evaluasi masing-masing proyek, dengan tetap mengacu pada prinsip kehati-hatian serta ketentuan yang berlaku," katanya.

Dari sisi pencadangan, BNI memastikan pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dilakukan secara prudent sesuai standar akuntansi dan ketentuan regulator.

Pembentukan CKPN didasarkan pada penilaian kualitas aset dan expected credit loss (ECL), dengan mempertimbangkan profil risiko debitur, prospek usaha, kualitas agunan hingga proyeksi arus kas.

"Dengan pendekatan tersebut, kecukupan pencadangan tetap terjaga untuk mengantisipasi potensi risiko kredit," ujar Okki.

Ke depan, BNI akan terus memperkuat pengelolaan kualitas aset melalui monitoring portofolio secara berkelanjutan, penyaluran kredit yang lebih selektif, penerapan manajemen risiko yang disiplin serta optimalisasi penyelesaian kredit sesuai ketentuan.

"Seluruh langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas aset, ketahanan permodalan, dan keberlanjutan kinerja perseroan," katanya.

Di tengah tantangan sektor konstruksi, BNI tetap berkomitmen mendukung pembiayaan pembangunan nasional, termasuk proyek infrastruktur yang memiliki prospek dan fundamental baik. Namun, penyaluran pembiayaan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik dan manajemen risiko yang prudent.

Di sisi lain, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) juga mencatat pertumbuhan pembiayaan double digit hingga kuartal II 2026.

Baca Juga: OJK Perintahkan Bank Blokir 38.375 Rekening Terindikasi Judi Online

Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengatakan, hingga Juni 2026 pembiayaan BSI tumbuh 15,98% YoY menjadi Rp340,09 triliun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri perbankan.

Pertumbuhan tersebut mendorong market share pembiayaan BSI terhadap perbankan nasional meningkat menjadi 3,75%, naik 21 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Wisnu, pertumbuhan pembiayaan tersebut ditopang oleh segmen yang memiliki tingkat return yang baik dengan kualitas pembiayaan yang tetap terjaga.

Segmen wholesale tumbuh 16,62%, terutama didorong segmen corporate yang tumbuh 21,13%. Sementara itu, segmen retail tumbuh 12,58%, dengan pertumbuhan SME mencapai 19,98%.

"Dari porsi pembiayaan BSI secara keseluruhan, pembiayaan ke sektor usaha BUMN tersebar di segmen wholesale dan retail," ujar Wisnu.

Ia menambahkan, BSI menjaga kualitas pertumbuhan pembiayaan melalui disiplin pada fokus bisnis, monitoring kualitas pembiayaan serta peningkatan kompetensi analisis pembiayaan.

"Kami optimis pertumbuhan pembiayaan masih solid di beberapa segmen konsumer, retail maupun segmen wholesale dengan sektor usaha yang memiliki kombinasi antara yield yang tinggi dengan kualitas yang baik," katanya.

Baca Juga: OJK Perintahkan Bank Blokir 38.375 Rekening Terindikasi Judi Online

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×