kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.830   2,00   0,01%
  • IDX 8.132   99,86   1,24%
  • KOMPAS100 1.146   13,97   1,23%
  • LQ45 829   8,49   1,03%
  • ISSI 288   4,60   1,62%
  • IDX30 431   4,26   1,00%
  • IDXHIDIV20 519   5,74   1,12%
  • IDX80 128   1,62   1,28%
  • IDXV30 141   1,99   1,43%
  • IDXQ30 140   1,49   1,07%

Kredit Macet Fintech P2P Lending Masih Tinggi, Capai 4,32% per Desember 2025


Senin, 09 Februari 2026 / 09:20 WIB
Kredit Macet Fintech P2P Lending Masih Tinggi, Capai 4,32% per Desember 2025
ILUSTRASI. Tingkat kredit macet pinjaman online (TWP90) mencapai 4,32% per Desember 2025. Analisis Celios ungkap penyebab utamanya (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) terbilang masih berada di level tinggi, yakni sebesar 4,32% per Desember 2025.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), angka tersebut hanya membaik tipis dibanding posisi per November 2025 yang sebesar 4,33%. Sementara jika dibandingkan Oktober 2025, TWP90 industri mengalami lonjakan signifikan dari 2,76%.

Pengamat sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai salah satu penyebab TWP90 masih tinggi adalah adanya kontribusi dari gagal bayar PT Dana Syariah Indonesia (DSI). Faktor lain yang memengaruhi adalah bencana alam yang terjadi di wilayah Sumatra pada akhir 2025.

Baca Juga: Penyaluran Pinjaman Fintech Lending Syariah Rp 1,85 Triliun per Akhir 2025

"Akhir tahun 2025 naik, karena ada faktor dari bencana alam di beberapa tempat, termasuk di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh," ungkapnya kepada Kontan, Minggu (8/2/2026).

Lebih lanjut, Nailul memproyeksikan TWP90 industri seharusnya bisa lebih rendah pada awal 2026 dibandingkan akhir 2025.

Meski demikian, ia mengingatkan industri untuk tetap mewaspadai potensi keadaan kahar atau kondisi luar biasa yang berada di luar kendali manusia, seperti bencana alam, yang dapat membuat borrower kesulitan membayar pinjaman.

"Oleh karena itu, otoritas dan industri seharusnya bisa lebih bersiap pada kondisi tahun ini," tambahnya.

Terkait kinerja, data OJK mencatat, outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp 96,62 triliun per Desember 2025. Nilai ini tumbuh sebesar 25,44% secara Year on Year (YoY), menandakan ekspansi industri yang masih berlanjut meski risiko kredit macet relatif tinggi.

Selanjutnya: Naik Kelas Jadi BUMN dengan Kinerja Solid, BSI Mengubah Peta Perbankan Indonesia

Menarik Dibaca: Naik Lagi! Cek Tabel Harga Emas Antam Hari Ini Senin 9 Februari 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×