kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Kuartal I-2016, Bank Permata rugi Rp 376 miliar


Selasa, 26 April 2016 / 12:59 WIB


Sumber: Kompas.com | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. PT Bank Permata Tbk mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp 376 miliar pada kuartal I-2016.

Sementara pada periode yang sama tahun lalu, perseroan masih mencatatkan laba bersih sebesar Rp 567 miliar.

Direktur Utama Bank Permata Roy Arfandy mengatakan, kerugian yang dialami perseroan disebabkan alokasi beban pencadangan (provision expense) dalam jumlah yang signifikan. Tercatat beban pencadangan naik 552 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp 1,55 triliun.

"Beban pencadangan yang lebih tinggi ini merupakan langkah terencana yang diambil untuk meningkatkan kualitas aset bank," kata Roy dalam keterangan resmi, Selasa (26/4/2016).

Namun demikian, Bank Permata pun mencatatkan pendapatan bunga bersih tumbuh menjadi Rp 1,54 triliun dari Rp 1,50 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Ini berkat penurunan biaya pendanaan yang didukung peningkatan porsi giro dan tabungan (CASA).

“Laba operasional sebelum pencadangan mengalami pertumbuhan 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy), didukung oleh pertumbuhan pendapatan dengan terus mempertahankan kontrol yang kuat pada biaya," jelas Roy.

Total aset hingga 31 Maret 2016 mengalami penurunan sebesar 8 persen yoy menjadi Rp 175 triliun. Hal ini terutama didorong oleh penurunan kredit sebesar 6 persen yoy menjadi Rp 123 triliun pada Maret 2016. (Penulis: Sakina Rakhma Diah Setiawan)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×