kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Langkanya institusi pendidikan asuransi


Kamis, 07 Agustus 2014 / 19:33 WIB
ILUSTRASI. Ada program Motis (Motor Gratis) untuk mendukung Angkutan Lebaran 2023 yang dihelat oleh Kemenhub. KONTAN/Fransiskus Simbolon


Reporter: Christine Novita Nababan | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Dewan Asuransi Indonesia (DAI) menyebut, institusi pendidikan bidang asuransi di Indonesia masih langka. Lihat saja, saat ini, baru terdapat tiga institusi pendidikan asuransi, yakni Sekolah Tinggi Manajemen Risiko dan Asuransi (STIMRA), Sekolah Tinggi Manajemen Asuransi (STMA) Trisakti, dan program D3 Asuransi dan Aktuaria di Universitas Indonesia.

Bahkan, menurut Anton Lie, Ketua Komisi Pendidikan DAI, 50 institusi pendidikan asuransi saja belum tentu cukup untuk menghasilkan tenaga-tenaga ahli asuransi. “Di samping alasan lain, yaitu minimnya minat pasar terhadap profesi di bidang asuransi,” ujarnya, Kamis (7/8).

Padahal, melihat potensi pasarnya yang besar, kebutuhan sumber daya manusia di industri asuransi sangat besar, terutama di wilayah-wilayah selain Jakarta. Saat ini, tenaga ahli yang ada tidak mencukupi. Bahkan, profesi aktuaris menjadi sangat terbatas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×