kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.531.000   5.000   0,20%
  • USD/IDR 18.153   -6,00   -0,03%
  • IDX 5.097   39,78   0,79%
  • KOMPAS100 657   5,57   0,85%
  • LQ45 518   2,72   0,53%
  • ISSI 170   0,84   0,50%
  • IDX30 291   1,43   0,49%
  • IDXHIDIV20 391   -0,27   -0,07%
  • IDX80 76   0,57   0,76%
  • IDXV30 109   -0,28   -0,25%
  • IDXQ30 97   -0,51   -0,52%

LDR Industri Ketat, Bank INA Andalkan KPR dan Dana Murah Capai Target


Senin, 02 November 2026 / 17:18 WIB
LDR Industri Ketat, Bank INA Andalkan KPR dan Dana Murah Capai Target
ILUSTRASI. Bank INA klaim kondisi likuiditas tetap aman dengan LDR per 30 September adalah 66,89%, naik 8,07% secara tahunan (yoy). (Dok/Bank Ina)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren pengetatan likuiditas di industri perbankan, yang ditandai dengan tingginya loan to deposit ratio (LDR), tidak menyurutkan optimisme PT Bank Ina Perdana Tbk.

Berbekal likuiditas yang masih longgar dan kinerja operasional yang solid pada kuartal III 2026, bank tersebut mengandalkan segmen KPR dan penguatan dana murah untuk memenuhi target pertumbuhan kredit hingga akhir tahun tanpa harus merevisi rencana bisnisnya.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan, khususnya di kelompok bank bermodal inti (KBMI) 1 dan 2, terus mengalami tren kenaikan menuju batas atas.

Baca Juga: RoI Dana Pensiun Naik Jadi 2,12% per Agustus 2026, Ini Penyebabnya

Tercatat pada Agustus 2026, posisi LDR untuk KBMI 1 telah menyentuh 85,61%, sementara KBMI 2 menembus angka 88,72%. Di tengah kondisi industri yang makin mengetat tersebut, PT Bank Ina Perdana Tbk justru mencatatkan kelonggaran likuiditas yang berbeda.

Direktur Utama Bank INA Henry Koenaifi membenarkan bahwa perusahaannya masih memiliki ruang penyaluran kredit yang memadai dan belum terbebani oleh isu pengetatan likuiditas seperti rata-rata industri saat ini.

Mengutip laporan keuangan kuartal III 2026 Bank INA, LDR perusahaan per 30 September adalah 66,89%, naik 8,07% secara tahunan (year on year/yoy).

"Kondisi likuiditas Bank INA cukup baik," ujar Henry kepada Kontan, Senin (2/11/2026).

Menurut Henry, pemenuhan target kredit di sisa tahun 2026 akan dicapai melalui optimalisasi pencairan fasilitas dari debitur eksisting. Di samping itu, bank juga membidik portofolio baru yang secara khusus diarahkan pada segmen Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Melalui strategi ini, ia memastikan bahwa kinerja penyaluran pembiayaan sejauh ini masih on track atau selaras dengan Rencana Bisnis Bank (RBB), sehingga perseroan belum berencana melakukan revisi target pertumbuhan hingga tutup tahun.

Baca Juga: Lelang Properti, Pintu Masuk Pemain Baru di Pasar

Sebagai mesin penopang ekspansi tersebut, perburuan Dana Pihak Ketiga (DPK) terus diakselerasi agar margin bunga tetap efisien.

Bank INA mencatatkan penghimpunan total DPK sebesar Rp 25,60 triliun. Guna memperkokoh struktur pendanaan tersebut, Henry menuturkan bahwa penghimpunan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) kini menjadi salah satu fokus perhatian utama bank.   

Hingga akhir kuartal ketiga tahun ini, porsi CASA Bank INA telah mencapai Rp 9,52 triliun.

Angka dana murah tersebut ditopang oleh instrumen giro sebesar Rp 7,90 triliun dan tabungan yang menyumbang Rp 1,62 triliun.

Sementara itu, porsi dana mahal atau deposito tercatat sebesar Rp 16,08 triliun. Langkah edukasi dan penetrasi pasar akan semakin digencarkan, mengingat masih tingginya potensi akuisisi dari nasabah bank lain yang belum sepenuhnya mengenal profil serta ragam layanan Bank INA.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×