kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Lima Tahun Beroperasi, Dana Kelolaan INA Tembus Rp 146,2 Triliun


Rabu, 01 Juli 2026 / 15:34 WIB
Lima Tahun Beroperasi, Dana Kelolaan INA Tembus Rp 146,2 Triliun
ILUSTRASI. Bank INA (Dok/Bank INA)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia Investment Authority (INA) mencatat dana kelolaan atau assets under management (AUM) mencapai Rp 146,2 triliun hingga akhir 2025, meningkat 1,9 kali dibandingkan saat sovereign wealth fund Indonesia itu mulai beroperasi pada 2021. 

Dalam lima tahun terakhir, INA bersama para mitra investasinya juga telah merealisasikan investasi senilai Rp 74,5 triliun.

Chief Executive Officer INA, Oki Ramadhana, mengatakan dari total AUM tersebut, Rp 110,2 triliun merupakan dana yang dikelola INA, sedangkan Rp 36 triliun berasal dari mitra investasi. Dana yang dimobilisasi dari mitra tersebut meningkat 4,5 kali dibandingkan tahun pertama operasional.

Baca Juga: Bisnis Bullion Dinilai Masih Menarik, Tapi Sulit Ditembus Gadai Swasta

"Lima tahun INA untuk Indonesia, total asset under management mencapai Rp 146 triliun atau tumbuh 1,9 kali dibandingkan tahun pertama kami beroperasi. Rp 110,2 triliun berasal dari INA, kemudian Rp 36 triliun dari mitra investasi," ujar Oki dalam media briefing di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Secara kumulatif, investasi yang disalurkan INA bersama para mitranya mencapai Rp 74,5 triliun. Rinciannya, investasi INA sebesar Rp 33,3 triliun, sedangkan investasi yang berasal dari mitra atau penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp 41,2 triliun.

Menurut Oki, capaian tersebut menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia. Hingga kini, INA telah memperoleh komitmen investasi sekitar US$ 25 miliar dari 40 mitra strategis di 15 negara, yang terdiri dari sovereign wealth fund, dana pensiun, perusahaan asuransi, manajer aset, korporasi strategis, hingga firma private equity.

"Lima tahun perjalanan INA mencerminkan bagaimana kepercayaan investor global terhadap Indonesia terus diterjemahkan menjadi investasi jangka panjang di berbagai sektor strategis. Di tengah kompleksitas global, INA tetap berfokus pada tata kelola yang baik, penciptaan nilai jangka panjang, serta praktik investasi yang disiplin," katanya.

Oki mengatakan, pada 2025 INA menjalankan tiga strategi utama, yakni meningkatkan investasi di lima sektor prioritas, mengoptimalkan portofolio ke kelas aset berpotensi imbal hasil lebih tinggi seperti private equityreal estate, dan hybrid capital, serta memperluas investasi tidak langsung untuk memperoleh akses terhadap peluang investasi global.

Berdasarkan portofolionya, sektor transportasi dan logistik masih mendominasi investasi INA dengan porsi 44%. Bersama para mitranya, INA telah mendukung pembangunan lebih dari 250 kilometer jalan tol, infrastruktur pelabuhan dan logistik utama, serta sekitar 200.000 meter persegi properti logistik modern.

Sementara itu, investasi di sektor digital dan kecerdasan buatan (AI) mencapai 29,5% dari total portofolio. Investasi tersebut mencakup salah satu operator menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari 40.000 menara, jaringan serat optik sepanjang 57.000 kilometer, serta platform pusat data hyperscale untuk mendukung pengembangan AI di Indonesia.

Selanjutnya, alokasi investasi pada sektor energi hijau mencapai 9,8%, yang mendukung pengembangan salah satu portofolio panas bumi terbesar di Indonesia dengan produksi listrik bersih sekitar 395 gigawatt hour (GWh) per bulan dan berkontribusi mengurangi sekitar 300.000 ton emisi setara karbon dioksida (CO2) setiap bulan.

Di sektor kesehatan, yang menyumbang 9,2% dari total portofolio, INA berinvestasi pada jaringan rumah sakit dan platform farmasi ritel terbesar di Indonesia, termasuk fasilitas fraksionasi plasma darah pertama di Indonesia dan terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas pemrosesan hingga 600.000 liter per tahun.

Sementara itu, sektor advanced materials mengambil porsi 5,5% dari portofolio investasi INA. Melalui investasi tersebut, INA mendukung pengembangan salah satu platform produksi katoda Lithium Iron Phosphate (LFP) terbesar di dunia di luar China dengan kapasitas 30.000 ton per tahun pada 2025. 

Kapasitas tersebut ditargetkan bertambah 110.000 ton pada 2026 dan 120.000 ton pada 2027 untuk mendukung pengembangan rantai pasok baterai kendaraan listrik dan hilirisasi industri nasional. Adapun 1,9% sisanya ditempatkan pada sektor-sektor strategis lainnya.

Di sisi lain, Chief Investment Officer INA, Laksono W. Widodo, mengungkapkan tantangan utama INA bukan lagi menarik komitmen investasi, melainkan menjaga kepercayaan investor agar tetap merealisasikan investasinya di Indonesia di tengah dinamika perubahan regulasi dan transformasi ekonomi.

Menurut Laksono, INA mengedepankan transparansi dengan menyampaikan seluruh potensi risiko investasi sejak awal kepada investor. 

Setelah investasi berjalan, INA juga membantu investor menavigasi berbagai tantangan melalui koordinasi dengan para pemangku kepentingan.

"Semua risiko, tantangan struktural maupun operasional kami sampaikan secara independen dan profesional. Tidak ada yang kami tutup-tutupi. Ketika ada perubahan, kami membantu investor menavigasi tantangan tersebut. Selama secara komersial masih masuk akal, investasi itu akan tetap berjalan," ujar Laksono.

Menurutnya pada 2025, INA juga mempertahankan peringkat BBB dari Fitch Ratings untuk skala internasional dan AAA (idn) untuk skala nasional. 

Selain itu, berdasarkan penilaian Global SWF, INA membukukan skor Governance, Sustainability, and Resilience (GSR) sebesar 72%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata sovereign wealth fund global yang sebesar 53%, mencerminkan penguatan tata kelola, praktik keberlanjutan, dan ketahanan kelembagaan.

Baca Juga: Allo Bank (BBHI) Siapkan Dana Rp 200 Miliar untuk Buyback Saham Mulai 1 Juli 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×