kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45900,82   11,02   1.24%
  • EMAS1.333.000 0,45%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Melongok Prospek Investasi di Fintech P2P Lending pada Tahun Depan


Rabu, 27 Desember 2023 / 20:27 WIB
Melongok Prospek Investasi di Fintech P2P Lending pada Tahun Depan
ILUSTRASI. Industri fintech peer to peer (P2P) lending pada 2022 dan 2023 diguncang banyak masalah, termasuk meningkatnya kredit macet dan investasi nasabah tidak kembali.


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri fintech peer to peer (P2P) lending pada 2022 dan 2023 diguncang banyak masalah, termasuk meningkatnya kredit macet dan investasi nasabah tidak kembali.

Financial Planner CFP Fennicia Auliantika berharap pada tahun depan menjadi momentum bagi industri fintech P2P lending untuk bangkit. 

"Hal itu dipicu pandemi Covid-19 yang telah usai dan era suku bunga tinggi diprediksi akan menurun seusai The Fed mengeluarkan nada dovish. Di sisi konsumen, perlindungan akan lebih kuat seiring dengan telah diluncurkannya road map fintech P2P lending 2023 oleh OJK," ucapnya kepada Kontan.co.id, Kamis (27/12).

Mengenai prospek menanamkan investasi lewat fintech P2P lending pada 2024, Fennicia menyebut, imbal hasil diperkirakan akan masih tinggi pada kuartal awal 2024. Bahkan, masih akan lebih menarik daripada investasi di instrumen lain dengan tenor yang sama.

Namun ada pula risikonya. Seperti risiko kredit akibat keterlambatan atau tidak dibayarnya pokok dan bunga dari peminjam dikarenakan beberapa faktor.

Baca Juga: Pemain Fintech Yakin Lender Masih Tertarik Investasi Meski Bunga Akan Turun

Risiko lainnya, yaitu adanya eskalasi geopolitik di Timur Tengah, keberlangsungan bisnis yang didanai, hingga regulasi atas batasan suku bunga pinjol dimulai 2024 sehingga menurunkan potensi imbal hasil yang tinggi untuk investor.

Oleh karena itu, Fennicia mengimbau para investor untuk memastikan berinvestasi pada perusahaan P2P lending yang memiliki izin dan diawasi oleh OJK. Jika memilih berinvestasi pada P2P lending yang ilegal, keamanan data tidak akan terjamin. 

"Lain halnya untuk P2P lending yang telah berizin dan diawasi OJK ke depannya akan memperbaiki layanan serta keamanan untuk meningkatkan kepercayaan konsumen yang selaras dengan Roadmap Pengembangan Dan Penguatan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) 2023–2028 oleh OJK," ujarnya.

Mengenai sektor yang menarik untuk berinvestasi di fintech P2P lending, Fennicia mengatakan, menarik tidaknya sebenarnya tergantung pada kondisi perekonomian tahun depan, preferensi risiko, tujuan investasi, dan pemahaman akan sektor-sektor yang dituju. Dia menyebut ada beberapa sektor yang dapat dipertimbangkan untuk berinvestasi pada tahun depan.

Salah satunya kesehatan, mengingat tingkat Covid-19 masih naik turun serta terdapat varian baru yang masuk Indonesia sehingga produsen alat medis masih dapat meningkatkan penjualan. Selain itu, perdagangan ritel atau UMKM, yang mana daya beli masyarakat meningkat pada tahun politik.

Fennicia menerangkan potensi imbal hasil akan sangat bervariasi tergantung pada risiko bisnis, jangka waktu, tingkat suku bunga pasar, dan lainnya. Mempertimbangkan tahun depan memasuki tahun politik, maka tingkat imbal hasil diproyeksikan akan masih berada dalam rentang 10%-18%.

Fennicia menyampaikan ada sejumlah faktor positif yang akan mendorong bisnis usaha-usaha yang dibiayai di P2P lending di 2024. Salah satu faktornya, yakni tahun pemilu, yang mana banyak dana kampanye dan belanja pemilu membuat beberapa bisnis mendapatkan penghasilan lebih daripada tahun sebelumnya.

Ditambah regulasi pembatasan atau penurunan suku bunga pinjol membuat bisnis yang dibiayai P2P lending memiliki kemampuan untuk mengambil pinjaman guna ekspansi.

"Selain itu, inflasi yang terjaga dengan sasaran 2,5% plus minus 1% pada 2024 akan membuat sektor produksi dan konsumsi yang stabil," terangnya.

Di sisi lain, fintech P2P lending Modalku menyatakan modal usaha yang diberikan pemberi dana di platform pendanaan digital juga memiliki risiko. Untuk memitigasi risiko tersebut, Country Head Indonesia Modalku Arthur Adisusanto menerangkan, Modalku selektif dalam menyalurkan pendanaan dengan mengedepankan prinsip kehatian-hatian dan manajemen risiko serta menerapkan prinsip responsible lending. 

Modalku melakukan penilaian terhadap UMKM penerima dana serta kemampuan finansial mereka untuk melunasi modal usaha yang diberikan.

"Sebab, kami juga memiliki tanggung jawab kepada pemberi pemberi dana yang meminjamkan dananya melalui Modalku. Selain itu, Modalku juga melakukan monitoring secara rutin dengan berkomunikasi dengan penerima dana dan mendukung untuk menemukan solusi apabila pembayaran tidak lancar," ujarnya.

Baca Juga: Modalku Beri Tingkat Bunga Variatif ke Lender, Berkisar 10%-17% Per Tahun

Arthur bilang, Modalku juga menyediakan factsheet tentang profil usaha penerima dana serta informasi keuangannya agar pemberi dana dapat mengetahui kondisi finansial penerima dana sebelum melakukan pendanaan. Harapannya, pemberi dana dapat mengetahui seperti apa risiko yang mungkin akan terjadi.

Arthur pun menyampaikan tingkat bunga di Modalku cukup variatif sesuai dengan portofolio UMKM yang didanai oleh pemberi dana. Secara umum, pemberi dana bisa memperoleh tingkat bunga sekitar 10%–17% per tahunnya tergantung dengan preferensi dan toleransi risiko masing-masing pemberi dana.

Arthur mengatakan terdapat beberapa faktor positif yang dapat mendorong bisnis UMKM melalui pendanaan dari industri fintech lending pada tahun depan. Pertama, kata dia, akses pendanaan yang lebih mudah dapat membantu UMKM untuk mengembangkan usaha mereka.

Kedua, inovasi teknologi pada platform fintech lending dapat memberikan solusi yang lebih efisien dan mempercepat proses pengajuan. 

"Dengan memfasilitasi pendanaan yang lebih cepat dan fleksibel, UMKM dapat lebih fokus pada penjualan tanpa harus mengalami kendala keuangan," katanya.

Meski demikian, Arthur mengatakan ada sejumlah hal yang harus dipertimbangkan ketika ingin berinvestasi melalui platform P2P lending. Salah satunya memperhatikan kredibilitas perusahaan platform pendanaan digital yang terdaftar di OJK. Setelah itu memahami risikonya, mana yang masuk ke profil risiko rendah, sedang, dan tinggi. 

Dia bilang, lender harus memastikan untuk melakukan diversifikasi dana dengan mendanai lebih dari satu UMKM untuk menjaga portofolio pendanaan tetap positif. Untuk fintech pendanaan sektor produktif, Arthur menyebut lender harus memilih profil penerima dana yang dinilai tepat untuk didanai dan sesuai dengan profil risiko pemberi dana. 

Modalku tak menutup kemungkinan akan terus menggaet lender pada tahun depan. Arthur mengungkapkan Modalku selalu terbuka dengan pemberi dana baik individu dan institusi yang ingin turut serta dalam mendukung UMKM Indonesia.

Hingga saat ini, Grup Modalku telah menyalurkan pendanaan sebesar lebih dari  Rp 55 triliun kepada lebih dari 5,1 juta pinjaman UMKM di Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam.

Baca Juga: Kasus Gagal Bayar Belanjut, Ini Hasil Mediasi Pertama Antara Lender dengan iGrow

Sementara itu, fintech P2P lending Maucash menyatakan permasalahan yang terjadi pada 2022 dan 2023 kemungkinan besar lebih menyasar pada industri P2P lending yang mengelola dana nasabah dari crowdfunding, yakni menghimpun dana dari masyarakat dan terjadi gagal bayar. 

Direktur Marketing Maucash Indra Suryawan mengatakan seharusnya dalam menjalani pendanaan, perusahaan harus mengedepankan unsur kehati-hatian dan manajemen resiko.

Mengenai sektor yang menarik untuk berinvestasi di P2P lending, Indra menyebut, salah satu sektor yang sangat baik untuk dikembangkan seiring dengan imbauan dari OJK, yakni UMKM seperti otomotif, perdagangan, hingga food and beverage.

"Potensinya itu sangat besar sekali di Indonesia dan layak untuk didukung," katanya.

Indra menambahkan dalam berinvestasi, kalau mau tetap mendapatkan yield yang lebih baik, seharusnya di atas suku bunga Bank Indonesia dan juga ORI yang mana jauh lebih relevan. 

Indra mengatakan memang kondisi pada 2024 sangat menarik untuk melakukan pendanaan kepada bisnis usaha. Sebab, pada kuartal I-2024 hingga kuartal II-2024, konsentrasi masyarakat dan spending cukup tertahan karena adanya faktor wait and see.

"Namun, pada semester kedua saya yakin akan melesat dan akan melanjutkan pertumbuhan ekonomi yang baik. Di situ, kami harus siap, mampu, kuat, dan mendukung UMKM Indonesia untuk turut berkembang," ungkapnya.

Baca Juga: Pemain Fintech Yakin Lender Masih Tertarik Investasi Meski Bunga Akan Turun

Indra menyampaikan pada tahun depan Maucash juga akan gencar menggaet lender baru. Dia bilang Maucash akan tetap menggunakan strategi saat ini dengan menggunakan superlender, meningkatkan penetrasi lender-lender ke segmen produktif yang memang sedang dituju. Adapun sampai awal Desember 2023, Maucash sudah menyalurkan total pembiayaan sebesar 4,6 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×