kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 16.818   19,00   0,11%
  • IDX 8.925   -19,34   -0,22%
  • KOMPAS100 1.227   -4,69   -0,38%
  • LQ45 868   -3,70   -0,43%
  • ISSI 323   -0,54   -0,17%
  • IDX30 440   -3,19   -0,72%
  • IDXHIDIV20 519   -1,77   -0,34%
  • IDX80 137   -0,51   -0,37%
  • IDXV30 144   -0,52   -0,36%
  • IDXQ30 141   -1,08   -0,76%

Nasabah Affluent Jadi Penopang Stabilitas Inflow Valas HSBC


Kamis, 08 Januari 2026 / 00:05 WIB
Nasabah Affluent Jadi Penopang Stabilitas Inflow Valas HSBC
ILUSTRASI. Direktur Wealth and Personal Banking HSBC Indonesia Lanny Hendra (KONTAN/Nurtiandriyani)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah dinamika pasar keuangan global dan fluktuasi aliran dana valuta asing (valas), PT Bank HSBC Indonesia mencatat inflow valas yang relatif stabil.

Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan transaksi pasar uang antarbank (PUAB) valas turun 39,13% secara bulanan menjadi US$ 59,65 juta pada November 2025.

LPS menilai penurunan tersebut mencerminkan melemahnya permintaan pendanaan valas jangka pendek di sektor perbankan, seiring terbatasnya arus masuk dana asing.

Baca Juga: Inflow Valas Allo Bank Stabil pada Akhir 2025, Target DPK Valas Agresif pada 2026

Meski demikian, Direktur International Wealth and Premier Banking PT Bank HSBC Indonesia Lanny Hendra mengatakan, kondisi inflow valas di HSBC tetap terjaga.

Menurutnya, nasabah HSBC telah terbiasa menghadapi dinamika pasar dan tidak bergantung pada satu instrumen atau produk valas tertentu.

“Kondisi inflow valas di HSBC relatif stabil. Nasabah affluent kami sudah berpengalaman menghadapi volatilitas pasar dengan melakukan diversifikasi aset, sehingga tidak ada satu produk valas yang terlalu dominan,” ujar Lanny kepada Kontan, Rabu (7/1/2026).

Baca Juga: Kredit Investasi Danamon Melaju, Sektor Manufaktur Jadi Pendorong

Lanny menambahkan, segmen nasabah affluent menjadi penopang utama stabilitas transaksi valas HSBC.

Meski strategi diversifikasi dilakukan, dolar Amerika Serikat (AS) masih menjadi mata uang asing yang paling banyak dipilih nasabah, sejalan dengan perannya sebagai mata uang global yang likuid dan digunakan luas dalam transaksi lintas negara.

Di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah, pemerintah tengah mendorong peningkatan inflow valas, salah satunya melalui kebijakan menaikkan bunga deposito valas dolar AS di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) hingga 4%.

Kendati kebijakan tersebut berpotensi memicu persaingan dengan bank swasta, HSBC mengaku tidak merasakan dampak signifikan terhadap aktivitas nasabahnya.

Menurut Lanny, penggunaan valas oleh nasabah HSBC lebih didorong oleh kebutuhan riil dibandingkan semata-mata pertimbangan imbal hasil.

Baca Juga: BPSJ Watch Nilai Imbal Hasil BPJS Ketenagakerjaan 2025 Belum Optimal

“Nasabah kami menggunakan valas untuk berbagai kebutuhan nyata, seperti perjalanan ke luar negeri, pendidikan internasional, hingga layanan kesehatan, termasuk medical check-up,” jelasnya.

Ke depan, HSBC memproyeksikan pertumbuhan transaksi dan simpanan valas akan cenderung stabil sepanjang 2026. Proyeksi tersebut didukung oleh kebutuhan berkelanjutan nasabah affluent terhadap layanan keuangan lintas negara.

“Kami melihat pertumbuhan transaksi dan simpanan valas akan tetap stabil pada 2026, seiring kebutuhan nasabah yang bersifat berkelanjutan,” tutup Lanny.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×