kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -12.000   -0,46%
  • USD/IDR 18.083   -13,00   -0,07%
  • IDX 6.091   -39,20   -0,64%
  • KOMPAS100 796   -3,58   -0,45%
  • LQ45 607   -1,51   -0,25%
  • ISSI 210   -1,41   -0,67%
  • IDX30 341   -0,73   -0,21%
  • IDXHIDIV20 422   -0,86   -0,20%
  • IDX80 91   -0,33   -0,36%
  • IDXV30 115   -0,50   -0,43%
  • IDXQ30 109   -0,23   -0,21%

NIM Perbankan Terus Menyusut, OJK Beberkan Tekanan Baru di Industri Bank


Rabu, 29 Juli 2026 / 17:39 WIB
NIM Perbankan Terus Menyusut, OJK Beberkan Tekanan Baru di Industri Bank
ILUSTRASI. Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) industri perbankan kembali menyusut di tengah tingginya biaya dana (cost of fund). (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) industri perbankan kembali menyusut di tengah tingginya biaya dana (cost of fund).

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan NIM perbankan berada di level 4,36% pada Mei 2026, turun dari 4,38% pada April 2026 dan 4,45% pada periode yang sama tahun lalu.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan, penurunan NIM mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap profitabilitas intermediasi perbankan.

Menurutnya, biaya dana meningkat lebih cepat dibandingkan kemampuan bank menaikkan suku bunga kredit.

"Penurunan NIM perbankan pada semester I-2026 mencerminkan peningkatan tekanan terhadap profitabilitas intermediasi akibat biaya dana yang naik lebih cepat dibandingkan kemampuan bank menaikkan bunga kredit," ujar Trioksa kepada Kontan.co.id, Rabu (29/7/2026).

Baca Juga: Aset Industri Penjaminan Terkoreksi 2,95% pada Mei 2026, Asippindo Ungkap Penyebabnya

Ia menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh semakin ketatnya persaingan menghimpun dana, kenaikan suku bunga deposito, likuiditas yang lebih selektif, serta terbatasnya ruang bagi bank untuk melakukan repricing suku bunga kredit karena tetap harus menjaga permintaan pembiayaan dan kualitas aset.

Menurut Trioksa, tekanan tersebut diperkirakan masih berlanjut pada semester II karena transmisi kenaikan BI Rate umumnya lebih cepat meningkatkan biaya dana dibandingkan pendapatan bunga dari kredit.

"Akibatnya, NIM industri pada 2026 diperkirakan bergerak di kisaran 4,3%-4,5%, sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun masih berada pada level yang relatif sehat," katanya.

Untuk menjaga margin tetap stabil, Trioksa menilai bank tidak cukup hanya menaikkan bunga kredit.

Ia menyarankan perbankan memperbesar porsi dana murah (current account saving account/CASA), melakukan repricing kredit secara selektif berbasis risiko, meningkatkan penyaluran kredit ke segmen dengan imbal hasil lebih tinggi, memperbesar pendapatan berbasis komisi (fee-based income), serta meningkatkan efisiensi melalui digitalisasi.

"Dengan kondisi suku bunga yang masih tinggi, fokus utama perbankan ke depan lebih pada mempertahankan margin melalui pengelolaan struktur pendanaan dan efisiensi dibandingkan mengejar kenaikan NIM secara agresif," ujarnya.

Baca Juga: Bisnis Emas BSI Melesat, Transaksi Bullion Tembus 8,06 Ton hingga Juni 2026

Tekanan terhadap margin bunga juga dirasakan oleh bank-bank besar. PT Bank Central Asia Tbk (BCA), misalnya, mencatatkan NIM sebesar 5,3% pada semester I-2026, turun dari 5,8% pada periode yang sama tahun lalu atau terkontraksi sekitar 50 basis poin (bps).

Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim mengatakan, penurunan tersebut sejalan dengan tren industri.

Menurut Vera, sebelum BI menaikkan suku bunga acuan pada Mei 2026, suku bunga acuan sempat berada dalam tren penurunan sejak tahun lalu. Kondisi tersebut mendorong penurunan bunga kredit sepanjang 2025 dan dampaknya masih berlanjut hingga kuartal I-2026.

"Oleh karena itu, penurunan NIM pada semester pertama tahun ini merupakan konsekuensi dari penyesuaian suku bunga kredit yang terjadi sebelumnya, di tengah persaingan industri yang masih cukup ketat," ujarnya.

Hal serupa terjadi di PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN). Hingga Juni 2026, NIM BTN berada di level 3,5%, turun dari 4,4% pada Juni 2025.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menjelaskan, penurunan tersebut dipengaruhi perubahan pencatatan akuntansi pada tahun lalu.

Menurut Nixon, pada 2025 pendapatan bunga meningkat akibat implementasi PSAK baru, namun diimbangi dengan pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang lebih besar sehingga laba tidak melonjak terlalu tinggi. Tahun ini pendapatan bunga kembali ke level normal sehingga secara statistik NIM terlihat menurun, meski laba perseroan justru meningkat.

"Hingga akhir tahun kami akan menjaga NIM di kisaran 3,5%-3,8%. Memang level normal BTN berada di kisaran tersebut karena kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi tetap kami jaga agar bunganya berada di level 5%," ujar Nixon.

Sementara itu, PT CIMB Niaga Tbk juga memperkirakan tekanan terhadap NIM masih berlanjut.

Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, kenaikan biaya dana masih berpotensi terjadi, sementara pertumbuhan kredit lebih banyak berasal dari segmen nonritel yang memiliki tingkat imbal hasil (yield) lebih rendah.

"Kami juga tidak bisa serta-merta menaikkan bunga kredit, sehingga kelihatannya NIM belum bisa naik," ujar Lani.

Sebagai strategi, CIMB Niaga akan terus memperbesar porsi CASA untuk menekan biaya dana.

Sebagai informasi, NIM CIMB Niaga pada kuartal I-2026 tercatat sebesar 3,83%, turun dari 3,99% pada periode yang sama tahun lalu.

Penurunan margin juga terjadi di PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Secara bank only, NIM Bank Mandiri turun menjadi 4,37% per Juni 2026 dari 4,63% pada Juni 2025.

Baca Juga: BTN Siap Perkuat Kemitraan Strategis dengan Pemda

Direktur Commercial Banking Bank Mandiri Totok Priyambodo mengatakan, perseroan tetap berkomitmen mendorong fungsi intermediasi melalui penyaluran kredit dengan suku bunga yang kompetitif.

Per Juni 2026, outstanding kredit komersial Bank Mandiri mencapai Rp343 triliun, meningkat 15,1% secara tahunan.

"Kami terus mengarahkan pembiayaan kepada sektor-sektor yang memiliki efek berganda terhadap perekonomian nasional, termasuk perkebunan, hilirisasi, transportasi dan logistik, energi, serta berbagai sektor produktif lainnya," ujar Totok.

Menurutnya, pertumbuhan kredit, termasuk pada segmen UMKM dan komersial, merupakan wujud komitmen perseroan dalam memperkuat fungsi intermediasi sekaligus mendukung aktivitas usaha nasabah.

Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui pemberian suku bunga kredit yang tetap kompetitif, sehingga berdampak pada penurunan NIM menjadi 4,37% pada Juni 2026 dibandingkan 4,63% setahun sebelumnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×