Reporter: Ade Priyatin | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aset industri penjaminan tercatat melemah pada Mei 2026. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) total aset penjaminan tercatat sekitar Rp45,92 triliun atau turun 2,95% secara tahunan.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (Asippindo) Agus Supriadi mengungkapkan sejumlah faktor yang memengaruhi penurunan aset ini.
Menurutnya, tekanan pada hasil investasi karena volatilitas pasar keuangan dan kenaikan suku bunga mempengaruhi valuasi portofolio investasi.
Selain itu, penyisihan cadangan klaim yang lebih besar karena sejumlah sektor usaha melakukan langkah antisipasi guna menghadapi peningkatan risiko kredit.
Di sisi lain, adanya penyesuaian struktur portofolio bisnis karena perusahaan lebih selektif menerima risiko sehingga pertumbuhan aset tidak secepat pertumbuhan bisnisnya. Sejalan dengan itu, perusahaan juga mulai menguatkan tata kelola dan manajemen risiko sehingga lebih berhati-hati dalam ekspansi bisnis.
Kendati begitu, Agus menegaskan kalau pelemahan aset ini tidak serta-merta bisa disimpulkan sebagai pelemahan aktivitas bisnis.
Baca Juga: OJK Ungkap 19 Perusahaan Penjaminan Sudah Penuhi Modal Minimum 2026
"Pelemahan aset tidak selalu mencerminkan melemahnya aktivitas bisnis penjaminan," tegasnya kepada Kontan, Rabu (29/7/2026).
Hal ini terlihat dari penyaluran kredit perbankan yang menurut Bank Indonesia (BI) tumbuh 12% pada Juni 2026. Katanya, pertumbuhan kredit perbankan akan memberi dampak positif pada industri penjaminan.
Saat bank lebih agresif menyalurkan kredit, maka kebutuhan mitigasi risiko melalui penjaminan akan meningkat sehingga berpotensi mendorong volume penjaminan dan perolehan Imbal Jasa Penjaminan (IJP).
Asippindo sendiri mencatat nilai IJP industri tumbuh 6,13% secara tahunan atau mencapai Rp2,73 triliun hingga April 2026.
Baca Juga: IFG Lakukan Penyederhanaan 12 Entitas di Sektor Asuransi dan Penjaminan
Sementara itu, volume penjaminan menunjukkan tren peningkatan seiring dengan membaiknya penyaluran kredit produktif. Namun, hingga kini Agus menyebut kalau Asippindo masih melakukan konsolidasi data volume penyaluran terbaru.
Di sisi lain, pihaknya telah menyiapkan sejumlah strategi untuk mendorong kinerja hingga akhir tahun. Beberapa di antaranya dengan mendorong perluasan kerja sama dengan perbankan, lembaga pembiayaan, dan pemerintah daerah untuk meningkatkan penetrasi penjaminan, khususnya pada sektor produktif dan UMKM.
Di saat yang sama, asosiasi juga mendorong anggotanya memperkuat kualitas underwriting, manajemen risiko, serta mempercepat digitalisasi proses penjaminan guna meningkatkan efisiensi layanan.
"Kami optimistis industri penjaminan dapat memanfaatkan momentum pertumbuhan kredit nasional, sekaligus menjaga ketahanan permodalan dan kualitas aset sehingga pertumbuhan yang dicapai tetap sehat dan berkelanjutan," tutupnya.
Baca Juga: Aset Perusahaan Penjaminan Mencapai Rp 45,92 Triliun per Mei 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














