kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.770.000   11.000   0,40%
  • USD/IDR 18.046   -27,00   -0,15%
  • IDX 5.595   -245,02   -4,20%
  • KOMPAS100 736   -35,18   -4,56%
  • LQ45 558   -23,17   -3,99%
  • ISSI 195   -8,81   -4,33%
  • IDX30 316   -12,58   -3,83%
  • IDXHIDIV20 392   -14,84   -3,65%
  • IDX80 84   -3,56   -4,08%
  • IDXV30 107   -4,76   -4,28%
  • IDXQ30 102   -3,95   -3,72%

OJK Perketat Pengawasan Valas Perbankan Menyusul Pelemahan Rupiah


Jumat, 05 Juni 2026 / 17:00 WIB
OJK Perketat Pengawasan Valas Perbankan Menyusul Pelemahan Rupiah
ILUSTRASI. OJK akan memperketat pengawasan terhadap aktivitas transaksi valuta asing (valas) perbankan di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bakan memperketat pengawasan terhadap aktivitas transaksi valuta asing (valas) perbankan di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya ketidakpastian global.

Pada akhir perdagangan Jumat (5/6/2026), rupiah spot ditutup di harga Rp 18.036. Secara harian, posisi ini menunjukkan penguatan tipis 0,07%. Namun, sejatinya rupiah sudah melemah sebesar 7,83% sejak awal tahun. 

Meski dampak langsung pelemahan rupiah terhadap sektor jasa keuangan, khususnya perbankan, masih relatif terkendali, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi bilang pihaknya tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi risiko yang dapat muncul.

Baca Juga: OJK Optimistis Tak Ada Bank Rush Meski Rupiah Masih Terus Melemah

"Untuk memitigasi risiko-risiko yang ada, kami akan memperkuat pemantauan aktivitas valas di perbankan melalui pemantauan posisi devisa neto harian, kecukupan likuiditas valas, serta kepatuhan terhadap ketentuan valas secara lebih intensif," ujar wanita yang akrab disapa Kiki ini dalam paparan hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK, Jumat (5/6/2026).

Kiki bilang kondisi industri perbankan saat ini masih cukup kuat dalam menghadapi tekanan nilai tukar. Hal itu tercermin dari rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan yang mencapai 23,97% per April 2026.

Menurutnya, level permodalan tersebut masih memberikan ruang penyangga yang memadai bagi perbankan untuk menyerap berbagai potensi risiko yang berasal dari gejolak pasar keuangan maupun pelemahan rupiah.

Selain itu, eksposur langsung perbankan terhadap risiko nilai tukar juga masih terkendali. OJK mencatat posisi devisa neto (PDN) industri perbankan secara konsisten berada jauh di bawah batas maksimum yang ditetapkan regulator sebesar 20% dari modal bank.

Meski demikian, OJK menilai pelemahan rupiah tetap berpotensi menimbulkan risiko tak langsung terhadap sektor keuangan. Salah satunya melalui meningkatnya beban kewajiban valas yang harus ditanggung korporasi.

Baca Juga: Jadi Biang Kerok Anjloknya IHSG, Ini Target Harga Saham Bank Besar Konsensus Analis

Risiko lain berasal dari sektor usaha yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor. Kiki menjelaskan, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya bahan baku dan biaya operasional perusahaan, terutama apabila diikuti kenaikan harga komoditas energi global.

"Kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi kualitas aset perbankan melalui penurunan kemampuan bayar debitur yang terdampak," katanya.

Untuk itu, selain memperkuat pemantauan harian terhadap posisi devisa neto dan likuiditas valas, OJK juga akan meningkatkan supervisory dialogue dengan bank-bank yang menunjukkan akumulasi posisi tertentu. 

Langkah itu dilakukan untuk memastikan penerapan manajemen risiko pasar dan risiko likuiditas berjalan secara memadai.

Di sisi lain, OJK akan terus mempererat koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) guna memastikan kecukupan likuiditas valas di sistem keuangan tetap terjaga.

Kiki menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah merupakan kepentingan bersama seluruh pemangku kepentingan di sektor keuangan. Oleh karena itu, sinergi antara OJK dan bank sentral bakal terus diperkuat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×