Reporter: Ferry Saputra | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyampaikan secara umum, biaya pendanaan multifinance masih berada pada level yang lebih tinggi dibandingkan dengan awal tahun ini. Seiring hal itu, Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan pergerakan kupon obligasi multifinance tidak naik secara merata di seluruh tenor dan kelompok peringkat.
Untuk benchmark obligasi korporasi tenor 3 tahun, dia menerangkan rata-rata kupon kelompok AAA pada September 2026 tercatat sebesar 6,49%, atau sedikit lebih tinggi dari 6,43% sepanjang 2025. Sementara itu, Ahmad mengatakan kelompok AA berada di level 5,82% pada September 2026, atau lebih rendah dari 6,99% sepanjang 2025.
"Artinya, arah pasar tidak sepenuhnya menunjukkan kenaikan kupon yang seragam, tetapi lebih mencerminkan penyesuaian yang berbeda menurut kualitas kredit, timing penerbitan, dan kondisi pasar pada saat transaksi dilakukan," ungkapnya kepada Kontan, Senin (5/10).
Baca Juga: Penyidik OJK Selesaikan 187 Perkara di Sektor Jasa keuangan hingga September 2026
Namun, Ahmad menyampaikan tren tersebut tidak berarti kupon terus naik setiap bulan. Setelah lonjakan pada pertengahan tahun, dia mengatakan kupon terlihat bertahan pada level yang relatif tinggi.
"Salah satu penerbit besar pada September 2026 menawarkan kupon sekitar 7,15% untuk tenor satu tahun dan 7,40% untuk tenor tiga tahun," tuturnya.
Dengan demikian, Ahmad mengatakan gambaran yang lebih tepat adalah biaya pendanaan multifinance telah mengalami repricing ke level lebih tinggi, dibandingkan dengan awal tahun, meskipun pergerakan selanjutnya tetap mengikuti yield pasar, tenor, dan profil kredit masing-masing penerbit.
Dari sisi pasar sekunder, Ahmad menuturkan tren yield obligasi korporasi juga mendukung gambaran tersebut. Dia menjelaskan yield di seluruh kelompok peringkat naik cukup jelas sejak akhir 2025 hingga mencapai puncak pada Juni 2026 hingga Juli 2026, lalu cenderung turun terbatas pada kuartal III-2026.
"Kenaikan paling tajam terlihat pada kelompok peringkat lebih rendah, terutama peringkat BBB, yang menunjukkan volatilitas paling tinggi, sedangkan kelompok AAA dan AA naik lebih moderat. Yield obligasi pemerintah juga bergerak naik pada periode yang sama, sehingga kurva yield korporasi ikut terdorong ke atas," ucapnya.
Ahmad menyampaikan implikasinya bagi multifinance cukup jelas. Dia bilang ketika yield pasar obligasi korporasi naik, investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi untuk penerbit baru.
Oleh karena itu, meskipun rata-rata kupon tenor 3 tahun tidak bergerak searah di semua kelompok peringkat, lingkungan pasar secara keseluruhan masih menunjukkan biaya pendanaan yang relatif ketat, khususnya bagi penerbit dengan kualitas kredit di bawah kelompok tertinggi.
Ahmad mengatakan kondisi itu menunjukkan bahwa penerbit multifinance tetap bisa masuk pasar, tetapi harus lebih selektif dalam menentukan tenor, volume, dan momentum penerbitan.
Baca Juga: Saham Big Banks Tertekan, Valuasi BBNI hingga BBCA Makin Murah
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














