Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Dengan beban bunga yang tinggi, bank kini tidak hanya bisa mengandalkan pendapatan dari bunga dalam menjaga profitabilitasnya, bank juga terlihat mencari sumber pendapatan lain.
Ini tercermin dari pendapatan non bunga bank-bank besar yang mencatatkan pertumbuhan cukup tinggi pada kuartal I-2026. Bahkan, melampaui pertumbuhan pendapatan bunganya.
PT Bank Central Asia (BCA) menjadi salah satu bank yang terus mendorong pertumbuhan pada pendapatan non bunga. Pada kuartal I-2026, pendapatan non bunganya tumbuh 14,2% secara tahunan mencapai Rp 6,6 triliun, ditopang pendapatan fee dan komisi yang tumbuh 14,2% YoY menjadi Rp 5,5 triliun pada kuartal I 2026.
Sebagai perbandingan, pendapatan bunga bersihnya tidak mencatatkan kenaikan atau sama seperti periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 21,1 triliun.
Tak mau kalah, pendapatan non bunga PT Bank Negara Indonesia (BNI) tercatat meningkat 12,6% secara tahunan mencapai Rp 5,77 triliun pada kuartal I-2026. Sebagai perbandingan, pendapatan bunga bersihnya naik 12,1% mencapai Rp 11,02 triliun.
Baca Juga: OCBC NISP Kantongi Laba Rp 1,36 Triliun pada Kuartal I-2026, Kredit Juga Naik
Peningkatan pendapatan non bunga BNI didorong fee based income sebesar Rp 4,45 triliun, meningkat 13,3% YoY.
Fee based income berbasis komisi dari segmen konsumer tercatat naik 5,8% YoY menjadi Rp 1,91 triliun, yang utamanya ditopang oleh pendapatan dari ATM dan e-channel yang berkontribusi Rp 470 miliar atau meningkat 17,2%.
Sedangkan pendapatan non bunga BNI dari business banking berkontribusi Rp 2,33 triliun, atau meningkat 17,9%.
Utamanya ditopang dari komisi investasi saham, kustodi, dan lainnya sebesar Rp 874 miliar atau meningkat 24,2%, serta didukung dari surat berharga yang diperjualbelikan mencapai Rp 667 miliar, meningkat 12,3%.
Sementara, PT Bank Mandiri mencatatkan pendapatan bunga sebesar Rp 25 triliun, naik 11,3% YoY. Sedangkan pendapatan non bunganya tumbuh 6,06% mencapai Rp 11,26 triliun.
Pendapatan non bunga bank berlogo pita emas ini utamanya ditopang oleh Deposit Related and Remittance Fee yang tumbuh 25,7% mencapai Rp 1,50 triliun, kemudian e-channel tumbuh 20% mencapai Rp 1,50 triliun.
Livin’ by Mandiri kini digunakan oleh sekitar 39 juta pengguna terdaftar, tumbuh 27% YoY, dengan rata-rata akuisisi sekitar 27 ribu pengguna baru setiap harinya, serta frekuensi transaksi yang tumbuh 13% YoY ke angka 1,24 miliar transaksi.
Baca Juga: Memperluas Proteksi Asuransi untuk Pariwisata dan UMKM di Jawa Barat
Pada segmen bisnis, Kopra by Mandiri telah melayani sekitar 335 ribu pengguna terdaftar, tumbuh 27% YoY, di mana 85% merupakan pelaku UMKM, dengan frekuensi transaksi tumbuh 13% YoY ke angka 395 juta transaksi.
Hera F. Haryn selaku EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA mengatakan, peningkatan pendapatan selain bunga tidak lepas dari total frekuensi transaksi BCA yang tumbuh berkelanjutan.
"Hal ini seiring inovasi layanan dan produk yang konsisten guna melayani kebutuhan nasabah yang beragam," ungkap Hera kepada kontan.co.id, Rabu (29/4).
Ke depan, BCA berkomitmen memberikan layanan terbaik dan mengoptimalisasi berbagai produk perusahaan.
"Hal ini kami lakukan demi memastikan ketersediaan platform perbankan transaksi digital yang aman dan andal, sekaligus menjadi solusi relevan bagi nasabah," imbuh Hera.
Adapun Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengungkapkan, pendapatan non-bunga tumbuh 12,6% terutama didorong peningkatan fee dari transaksi pada platform digital atau e-channel.
Baca Juga: Bank Mandiri Tebar Dividen Rp 44 Triliun, Yield Dividen Tembus 8,4%
Kinerja yang positif ini mendukung pencapaian Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) Rp 9,3 triliun, yang merupakan pencapaian tertinggi apabila dibandingkan dengan kuartal I pada tahun-tahun sebelumnya.
"Kombinasi pertumbuhan bisnis yang sehat, peningkatan pendapatan bunga bersih dan pendapatan non bunga serta kualitas aset yang semakin resilien menghasilkan laba bersih sebesar Rp 5,6 triliun hingga kuartal I 2026," ungkap Hussein.
Hingga Maret 2026, jumlah pengguna wondr by BNI telah melampaui 13 juta dengan tingkat engagement yang meningkat signifikan, berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan tabungan ritel.
Sementara itu, platform BNIdirect juga mencatat pertumbuhan pengguna dan nilai transaksi lebih dari 16% YoY, yang berperan dalam memperkuat dana giro korporasi serta meningkatkan efisiensi layanan bagi segmen bisnis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













