kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.028.000   16.000   0,53%
  • USD/IDR 16.814   -85,00   -0,50%
  • IDX 8.396   124,32   1,50%
  • KOMPAS100 1.183   18,77   1,61%
  • LQ45 848   12,48   1,49%
  • ISSI 300   4,67   1,58%
  • IDX30 445   8,19   1,88%
  • IDXHIDIV20 530   8,41   1,61%
  • IDX80 132   1,86   1,43%
  • IDXV30 145   1,60   1,12%
  • IDXQ30 143   2,42   1,73%

Penyaluran Kredit Multiguna Perbankan Masih Lesu Hingga Akhir 2025, Ini Penyebabnya


Senin, 23 Februari 2026 / 16:53 WIB
Penyaluran Kredit Multiguna Perbankan Masih Lesu Hingga Akhir 2025, Ini Penyebabnya
ILUSTRASI. Pinjaman multiguna melambat tajam di 2025, tak sesuai harapan bank besar.(KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sama halnya dengan penyaluran kredit konsumer secara keseluruhan, penyaluran kredit multiguna perbankan juga terlihat kian lesu. Hal ini terjadi di tengah gejolak ekonomi dan daya beli masyarakat yang masih tertekan.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kredit multiguna tercatat hanya tumbuh 7,7% secara tahunan atau year on year (YoY) pada Desember 2025 mencapai Rp 1.376,8 triliun.

Pertumbuhan ini terlihat lebih rendah dari bulan sebelumnya atau November 2025 yang tumbuh 8,8% mencapai Rp 1.363,7 triliun.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, penyebab masih melambatnya penyaluran kredit multiguna, karena melambatnya daya beli konsumen yang berdampak juga pada kredit multiguna.

Baca Juga: BFI Finance (BFIN) Tutup Usaha Fintech P2P Lending

"Tren tahun ini masih cukup menantang dan akan sangat bergantung pada perbaikan daya beli masyarakat," kata Trioksa kepada Kontan.co.id, Senin (23/2).

Dalam menggenjot penyaluran kredit, Trioksa menyarankan untuk efisiensi dan mendorong dana murah agar bunga kredit juga dapat ditekan.

Sejumlah perbankan juga mencatatkan pertumbuhan yang mini pada penyaluran kredit multiguna. PT Bank BPD DIY misalnya, hingga Januari 2026 ini kredit multiguna hanya tumbuh di kisaran 2%–3% secara tahunan dengan total outstanding loan mencapai Rp4,51 triliun.

“Kredit multiguna secara umum masih tumbuh, namun tidak sesuai harapan. Hanya pada kisaran 2% sampai 3% dengan total outstanding loan mencapai Rp 4,510 triliun,” ujar Direktur Pemasaran dan Unit Usaha Syariah BPD DIY, Raden Agus Trimurjanto.

Menurut Agus, perlambatan tersebut dipengaruhi oleh turunnya daya beli masyarakat serta kecenderungan nasabah menunda pengajuan pinjaman untuk kebutuhan konsumtif.

Ia menambahkan, secara pola musiman, permintaan kredit multiguna biasanya meningkat menjelang hari raya. Namun untuk tahun ini, kenaikan diperkirakan tidak sekuat periode sebelumnya.

“Berdasarkan siklus tahunan, menjelang hari raya biasanya ada kenaikan permintaan. Tetapi kami prediksikan tidak sebaik waktu-waktu lalu,” katanya.

Pada 2026, BPD DIY menargetkan pertumbuhan kredit multiguna di kisaran 7%–9%. Namun, target tersebut sangat bergantung pada perbaikan kondisi ekonomi daerah.

Agus menjelaskan, perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sangat bergantung pada sektor pariwisata. Seiring meningkatnya jumlah wisatawan dan belanja wisata (spending money), permintaan kredit konsumtif diharapkan ikut terdongkrak.

“Tahun 2026 kami menargetkan pertumbuhan 7% sampai 9%. Tapi ini harus didukung perbaikan ekonomi. DIY sangat mengandalkan pariwisata. Sepanjang wisatawan terus naik dan spending meningkat, harapannya permintaan kredit konsumer atau multiguna juga ikut meningkat,” jelasnya.

Produk pinjaman tanpa agunan milik Bank Central Asia atau BCA Personal Loan juga mencatat pertumbuhan positif seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan nasabah ritel.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan BCA Personal Loan merupakan fasilitas kredit multiguna tanpa agunan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari biaya pendidikan, renovasi rumah, pernikahan, pengobatan, hingga liburan.

“BCA memiliki produk Personal Loan, sebuah pinjaman tanpa agunan yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan nasabah. Pembayarannya bisa diangsur per bulan secara autodebet rekening,” ujarnya.

Produk ini dapat diajukan oleh nasabah payroll BCA maupun pemegang kartu kredit BCA. Sepanjang 2025, kinerja kredit konsumer lainnya yang mayoritas berasal dari kartu kredit, menunjukkan pertumbuhan solid.

Per Desember 2025, total outstanding pinjaman konsumer lainnya (mayoritas berasal dari kartu kredit) tumbuh 11% secara tahunan menjadi Rp 20,3 triliun.

Baca Juga: Permata Bank (BNLI) Bakal Gelar RUPST pada 7 April 2026

Hera menjelaskan, pertumbuhan personal loan turut didukung oleh perluasan basis nasabah BCA yang terus meningkat.

“Mayoritas personal loan digunakan untuk berbagai kebutuhan nasabah. Pertumbuhannya juga didukung oleh perluasan basis nasabah BCA,” jelasnya.

Meski mencatat pertumbuhan, BCA tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit. Perseroan memperkuat proses credit scoring dan monitoring guna menjaga kualitas aset.

“Kami terus memperkuat proses credit scoring dan monitoring untuk menjaga kualitas kredit serta menyediakan solusi proaktif bagi nasabah agar terhindar dari potensi kredit macet. Dengan demikian, NPL Personal Loan BCA tetap terjaga di level rendah dan terkendali,” tutup Hera.

Selanjutnya: PGN (PGAS) Kian Solid di 2026, Analis Jagokan Midstream–Downstream dan Peran LNG

Menarik Dibaca: Harga Emas Dunia Lanjut Naik di atas US$ 5.100, Terpicu Tarif AS

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×