kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.689.000   -24.000   -0,88%
  • USD/IDR 18.012   53,00   0,30%
  • IDX 5.854   -48,06   -0,81%
  • KOMPAS100 775   -7,51   -0,96%
  • LQ45 587   -2,61   -0,44%
  • ISSI 201   -1,09   -0,54%
  • IDX30 334   -0,93   -0,28%
  • IDXHIDIV20 414   0,89   0,21%
  • IDX80 88   -0,68   -0,77%
  • IDXV30 110   -0,44   -0,40%
  • IDXQ30 108   0,58   0,54%

Perbanas: Fundamental Perbankan Masih Solid Hadapi Dinamika Ekonomi


Kamis, 11 Juni 2026 / 14:35 WIB
Perbanas: Fundamental Perbankan Masih Solid Hadapi Dinamika Ekonomi
ILUSTRASI. Ketua Umum Perbanas Hery Gunardi


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menilai kondisi industri perbankan nasional masih terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global. 

Ketua Umum Perbanas Hery Gunardi menyebut, pertumbuhan kredit yang tetap kuat, likuiditas yang memadai, serta kualitas aset yang terjaga menjadi modal penting bagi perbankan untuk terus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran kredit perbankan hingga April 2026 tumbuh 9,98% secara tahunan (year on year/yoy). Di saat yang sama, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 11,40% yoy.

Baca Juga: Industri Asuransi Waspadai Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Bisnis Marine Cargo

"Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan tetap terjaga dan fungsi intermediasi berjalan dengan baik," ujar Hery dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).

Selain itu, rasio loan to deposit ratio (LDR) industri perbankan tercatat sebesar 86,88% per April 2026, sementara rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross industri berada di level 2,17%.

Hery bilang kondisi ini menunjukkan bahwa perbankan masih memiliki ruang yang cukup untuk menyalurkan pembiayaan ke sektor riil dengan tetap menjaga kualitas aset.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa industri perbankan tetap perlu mewaspadai berbagai risiko eksternal. Hery bilang ketegangan geopolitik, fluktuasi harga energi, hingga perlambatan ekonomi di sejumlah negara masih berpotensi mempengaruhi aktivitas usaha dan sentimen pasar keuangan.

Karenanya, manajemen risiko yang prudent, menjaga kecukupan likuiditas, serta memastikan pertumbuhan kredit tetap berkualitas menjadi penting dilakukan perbankan.

Baca Juga: BSI Kelola Payroll Karyawan di Lebih dari 27.000 Institusi pada April 2026

Herry mengatakan bahwa penguatan mitigasi risiko perlu dilakukan melalui berbagai langkah, mulai dari pelaksanaan stress test pada sektor-sektor yang rentan terhadap kenaikan biaya energi, penguatan sistem peringatan dini (early warning system), hingga penerapan disiplin pemberian kredit yang lebih ketat sesuai profil risiko debitur.

Di sisi likuiditas, perbankan juga perlu menjaga indikator seperti liquidity coverage ratio (LCR) dan net stable funding ratio (NSFR) guna mengantisipasi potensi volatilitas pasar maupun pergerakan dana masyarakat.

Tak hanya itu, pengelolaan risiko nilai tukar dan likuiditas valuta asing juga perlu diperkuat melalui pengelolaan posisi devisa neto (PDN) secara hati-hati, strategi lindung nilai (hedging), serta pengelolaan jatuh tempo aset dan kewajiban dalam valuta asing.

Perbanas juga menyambut positif hasil Survei Perbankan Bank Indonesia yang menunjukkan adanya ekspektasi peningkatan permintaan kredit baru pada kuartal II-2026. Asosiasi melihat temuan tersebut menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi domestik masih memiliki momentum yang cukup baik.

Baca Juga: TWP90 Fintech Lending Naik Jadi 4,62% per April 2026, Ini Respons AFPI

Ke depan, Hery optimistis sektor perbankan tetap menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung agenda pembangunan nasional, termasuk pembiayaan sektor produktif, penguatan UMKM, hilirisasi industri, serta berbagai program prioritas pemerintah.

"Dengan kondisi industri yang tetap kuat dan didukung pengelolaan risiko yang baik, kami optimistis perbankan dapat terus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan nasional," tukasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×