kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Perbanas: Wajar DPK lebih tinggi dari kredit


Kamis, 30 April 2015 / 20:49 WIB
Perbanas: Wajar DPK lebih tinggi dari kredit
ILUSTRASI. Indeks harga saham gabungan atau IHSG pada sesi satu perdagangan Senin (20/11) ditutup menguat ke level 6.889,5


Reporter: Adhitya Himawan | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) bank umum lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit di akhir kuartal I 2015. Menurut Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas), fenomena tersebut wajar di tengah kondisi ekonomi yang melambat.

Sigit Pramono, Ketua Umum Perbanas mengatakan, perlambatan ekonomi Indonesia memang sudah terjadi sejak tahun lalu. Kondisi ini membuat laju pertumbuhan kredit industri perbankan tak bisa begitu tinggi. "Ini wajar karena pertumbuhan kredit perbankan pasti akan mengikuti kondisi market," kata Sigit di Jakarta, Kamis (30/4).

Mengenai fenomena pertumbuhan DPK bank umum yang lebih tinggi dari pertumbuhan kreditnya, Sigit menganggap hal yang lumrah. Sebab di tengah situasi ekonomi melambat, pelaku usaha akan menaruh dananya tidak dalam kegiatan usaha, melainkan menyimpannya di bank.

"Jadi bisa saja dana yang semula untuk investasi, untuk sementara disimpan dulu di bank," ujar Sigit.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2015, jumlah kredit yang disalurkan Bank Umum mencapai Rp 3.519,86 triliun atau tumbuh hanya 12,61% yoy dibanding Februari 2014 yang mencapai Rp 3.143,46 triliun.

Sementara DPK yang dihimpun Bank Umum mencapai Rp 3.988,28 triliun atau tumbuh 15,11% yoy dibanding Februari 2014 yang mencapai Rp 3.464,66 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×