kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.700.000   20.000   0,75%
  • USD/IDR 17.907   25,00   0,14%
  • IDX 6.289   -84,45   -1,32%
  • KOMPAS100 822   -14,08   -1,69%
  • LQ45 625   -9,23   -1,46%
  • ISSI 217   -2,83   -1,28%
  • IDX30 349   -5,07   -1,43%
  • IDXHIDIV20 425   -4,25   -0,99%
  • IDX80 94   -1,56   -1,63%
  • IDXV30 117   -1,01   -0,85%
  • IDXQ30 111   -1,31   -1,17%

Pertumbuhan kredit tak akan lebih dari 20%


Jumat, 16 Agustus 2013 / 16:31 WIB
ILUSTRASI. Waskita Karya (WSKT) masih terus berupaya menurunkan tingkat utangnya.


Reporter: Annisa Aninditya Wibawa |

JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung melambat tahun ini. Oleh sebab itu, Bank Indonesia (BI) menurunkan target pertumbuhan penyaluran kredit tahun ini menjadi 18%-20%.

Sebelumnya, bank sentral mematok target, kredit tahun ini bisa tumbuh antara 22%-24%.

"kami akan memberi waktu bagi perbankan supaya mereka menyesuaikan ini," ucap Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo, Jumat, (16/8).

BI melihat bahwa saat ini pun kredit perbankan sudah mengalami perlambatan. Pada bulan Juni, kredit tumbuh 20%. Ini turun sedikit dari 21% di posisi Mei 2013. Perry menilai, industri perbankan sudah mulai merespons perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Perry menyebut, BI akan meminta perbankan agar pertumbuhan kreditnya menyesuaikan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, perlambatan kredit saat perekonomian melambat merupakan hal yang wajar. Tadinya, perekonomian Indonesia diperkirakan dapat tumbuh 6,2%. Namun kini pertumbuhannya diperkirakan hanya 5,8%.

BI pun akan memperkuat pengawasan kepada sejumah bank dan sektor kredit yang melaju terlalu tinggi. Aksi pengawasan ini BI lakukan melalui perubahan Rencana Bisnis Bank (RBB). "Nanti pengawas akan bicara kepada bank. Kalau kredit masih tinggi, turunkan. Jangan terlalu kencang menyalurkan kredit," sebut Perry.

Ia bilang, ini juga bertujuan untuk mencegah timbulnya risiko. Menurut Perry, pengetatan ini BI lakukan untuk mengarahkan perbankan menjadi lebih optimal dan pruden. Sehingga, nantinya neraca pembayaran dapat lebih stabil dan pengendalian risiko bisa lebih kuat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×