kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.702   58,64   1,04%
  • KOMPAS100 737   8,81   1,21%
  • LQ45 558   5,02   0,91%
  • ISSI 199   2,06   1,05%
  • IDX30 316   2,20   0,70%
  • IDXHIDIV20 390   0,42   0,11%
  • IDX80 84   0,86   1,04%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,39   0,38%

Relaksasi FFR bisa perdalam pasar keuangan


Minggu, 21 Januari 2018 / 13:19 WIB
ILUSTRASI. Antre Nasabah di Teller Bank Mandiri


Reporter: Galvan Yudistira | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Mandiri Tbk memproyeksi langkah BI memperkenalkan penghitungan rasio likuiditas baru yaitu financing to funding ratio (FFR) bisa berefek positif memperdalam pasar keuangan.

Relaksasi FFR menurut istilah BI adalah rasio intermediasi dan penyangga likuiditas makroprudensial.

Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas mengatakan, relaksasi FFR bisa melebarkan peran perbankan dalam fungsi intermediasi. "Selain menyalurkan kredit, bank juga dapat melakukan pembelian surat berharga korporasi," kata Rohan kepada Kontan.co.id, Jumat (19/1).

Selain itu, dengan semakin banyaknya bank menerbitkan surat utang pada 2018, maka diproyeksi relaksasi FFR bisa meningkatkan pendalaman pasar keuangan terutama pasar obligasi.

Dody Budi Waluyo, Asisten Gubernur merangkap Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI bilang, ada dua poin menyempurnakan rasio likuiditas bank.

"Pertama adalah rasio intermediasi makroprudensial untuk bank umum dan bank syariah," kata Dody, Kamis (18/1). Rasio intermediasi makroprudensial pada bank umum berlaku 16 Juli 2018, sedangkan untuk bank dan unit usaha syariah berlaku per 1 Oktober 2018.

Lalu, kedua penyangga likuiditas makroprudensial (PLM), juga dibagi menjadi dua, yaitu untuk bank umum konvensional dan bank umum syariah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×