Reporter: Aura Putri | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham bank berkapitalisasi besar atau big banks kompak memerah pada penutupan perdagangan sesi I, Senin (26/10/2026). Adapun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1% di level 5.384,98.
Pada akhir perdagangan sesi I hari ini, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 1,37% ke Rp 2.870. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) juga terkontraksi 1,17% ke Rp 3.380.
Sementara itu, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 1,03% ke Rp 3.860. Serta saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang melemah 1,09% ke Rp 4.970.
Baca Juga: IIF Kucurkan Rp 601,4 Miliar untuk Pusat Data dan Rumah Sakit Jantung
Adapun investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) pada sesi I hari ini, yakni sebesar Rp 1,14 triliun.
BBCA menjadi saham dengan net sell asing terbesar mencapai Rp 201,92 miliar. Disusul BMRI sebesar Rp 129,94 miliar dan BBRI senilai 89,67 miliar. Sementara itu, BBNI mencatatkan net sell asing sebesar Rp 15,81 miliar.
Padahal, saham bank Himbara besar pada akhir pekan lalu sempat ditutup menguat meski BBCA melemah.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, perbedaan arah gerak saham big banks dipengaruhi oleh rotasi portofolio investor, penyesuaian indeks global, serta perbedaan valuasi saham perbankan.
Menurut Nafan, BBCA masih menghadapi tekanan jual dari investor asing di tengah dinamika arus modal global. Sebagai saham dengan kapitalisasi pasar besar dan likuiditas tinggi, BBCA menjadi salah satu instrumen yang relatif mudah dilepas investor institusi asing saat melakukan penyesuaian portofolio.
“Sebagai saham dengan porsi free float dan kapitalisasi pasar terbesar dalam indeks global, BBCA menjadi instrumen utama yang dilepas investor institusi asing yang membutuhkan likuiditas di tengah tren penarikan dana dari pasar berkembang,” ujar Nafan.
Selain itu, valuasi BBCA yang sebelumnya berada pada level premium turut mendorong sebagian investor melakukan aksi ambil untung atau profit taking. Dana tersebut kemudian berpotensi dialihkan ke saham-saham Himbara yang dinilai memiliki valuasi lebih murah.
Baca Juga: NPL Bank Mandiri Turun Jadi 0,98% pada Kuartal III 2026
Di sisi lain, saham-saham Himbara mendapat sentimen positif dari kehadiran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Menurut Nafan, pembelian saham dan komitmen intervensi pasar oleh Danantara memberikan dukungan psikologis bagi investor sekaligus membantu meredam tekanan jual berlebihan pada saham bank-bank BUMN.
Nafan menilai fundamental perbankan berkapitalisasi besar atau big banks masih solid. Bank Mandiri dan BRI ditopang pertumbuhan kredit di segmen korporasi dan UMKM, sedangkan BNI dan BTN menunjukkan perbaikan kualitas aset serta efisiensi biaya dana.
Sementara itu, BBCA masih memiliki keunggulan dari sisi struktur dana murah atau current account saving account (CASA) yang tebal serta pendapatan berbasis komisi yang stabil. Menurut Nafan, pelemahan saham BBCA lebih dipengaruhi dinamika arus modal jangka pendek ketimbang penurunan kinerja fundamental perbankan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














