Reporter: Aura Putri | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham perbankan berkapitalisasi besar atau big banks masih menghadapi tekanan jual di pasar saham. Kekhawatiran investor terhadap isu reklasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan saham sektor perbankan sepanjang pekan ini.
Pada penutupan perdagangan Jumat (30/10/2026), saham-saham big banks bergerak variatif. Kondisi tersebut terjadi ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,80% ke level 5.057,05.
Berdasarkan data Stockbit, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menjadi salah satu yang mencatatkan penguatan pada perdagangan hari ini. BBNI naik 2,47% ke level Rp 3.320. Meski demikian, secara mingguan saham ini masih terkoreksi 2,92%.
Hal serupa terjadi pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang menguat 0,81% ke Rp 4.980 pada perdagangan Jumat. Namun, dalam sepekan BBCA masih melemah 0,90%.
Baca Juga: Mandiri Utama Finance Perkuat Dukungan Pembiayaan dalam Ekosistem Motor Listrik
Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ditutup turun 0,36% ke Rp 2.800. Secara mingguan, saham BBRI terkoreksi lebih dalam sebesar 3,78%.
Adapun saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berakhir stagnan di level Rp 3.720. Kendati demikian, saham BMRI mencatatkan penurunan sebesar 4,62% sepanjang pekan ini.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai, tekanan terhadap saham perbankan terutama dipengaruhi oleh kekhawatiran investor terhadap isu konsultasi reklasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI.
"Tekanan tersebut utamanya dipicu oleh kecemasan pasar terkait isu konsultasi reklasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI yang mendorong terjadinya aksi jual bersih (foreign outflow) cukup signifikan oleh investor asing," ujar Nafan kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).
Selain sentimen MSCI, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75% untuk menjaga stabilitas rupiah turut memberikan tekanan terhadap saham perbankan.
Nafan menjelaskan, tingkat suku bunga yang masih relatif tinggi membuat biaya dana atau cost of fund perbankan tetap berada pada level tinggi. Kondisi tersebut membatasi ruang ekspansi margin bunga bersih atau net interest margin (NIM).
Tekanan ini juga terjadi di tengah pertumbuhan kredit nasional yang bergerak moderat, yakni sekitar 12,7% secara tahunan atau year on year (yoy) per September 2026.
Baca Juga: Pengembalian Dana Nasabah Bank BUMN Tak Serta-merta Jadi Kerugian Negara
"Penyesuaian portofolio akibat pembekuan beberapa saham perbankan utama dari daftar efek short selling BEI periode November 2026 juga menambah dinamika volatilitas jangka pendek di pasar," katanya.
Fundamental Big Banks Masih Solid
Meski harga saham mengalami koreksi, Nafan menilai fundamental emiten perbankan nasional, khususnya kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 4, masih cukup solid dan resilien.
Hal tersebut tercermin dari rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) yang tetap terjaga, kualitas aset dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) relatif rendah, serta pencadangan yang memadai.
Di samping itu, efisiensi operasional dan pertumbuhan pendapatan berbasis komisi atau fee based income dari pengembangan layanan digital perbankan turut menopang profitabilitas emiten di tengah tekanan biaya dana.
Menurut Nafan, koreksi harga saham perbankan justru membuka peluang bagi investor untuk mencermati valuasi emiten. Pasalnya, sejumlah saham perbankan mulai diperdagangkan di sekitar rentang rata-rata historis bawah.
"Sehingga prospek pergerakannya tetap konstruktif untuk jangka panjang dengan potensi terjadinya pemulihan secara bertahap," jelasnya.
Sentimen Saham Bank yang Perlu Dicermati Pekan Depan
Memasuki pekan depan, terdapat sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi pergerakan saham perbankan. Salah satunya adalah publikasi laporan keuangan kuartal III-2026 yang dapat memberikan gambaran terbaru mengenai kinerja emiten.
Baca Juga: Unitlink Menyumbang 74% Pendapatan Premi Prudential Indonesia pada Semester I-2026
Selain itu, prospek pembagian dividen interim dan peluang aksi pembelian kembali saham atau buyback oleh emiten perbankan juga perlu dicermati investor.
Kepastian respons Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) terhadap isu MSCI turut menjadi perhatian. Kejelasan kebijakan dari kedua otoritas tersebut dinilai berpotensi meredakan ketidakpastian di pasar modal domestik.
Faktor eksternal juga tidak kalah penting, terutama stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi BI serta arah kebijakan suku bunga global menjelang akhir tahun. Kedua faktor ini berpotensi memengaruhi pergerakan aliran dana asing ke pasar saham Indonesia.
Dari sisi strategi investasi, Nafan merekomendasikan akumulasi beli pada sejumlah saham perbankan. Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) direkomendasikan dengan target harga Rp 1.480.
Selain itu, Nafan merekomendasikan saham BBCA dengan target harga Rp 6.775 dan BBRI dengan target harga Rp 3.360.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














