Reporter: Ferry Saputra | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Amerika Serikat dan Iran sepakat berdamai dan mengakhiri konflik di Timur Tengah. Sebagai bagian dari kesepakatan, Iran membuka perlintasan di Selat Hormuz dan mengumumkan pembebasan biaya bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz selama 60 hari.
Mengenai hal itu, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) menilai perbaikan situasi di kawasan tertentu pada prinsipnya dapat memberikan sentimen positif terhadap kelancaran arus perdagangan dan pengiriman barang. Namun, Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo Brellian Gema Widayana mengatakan dampaknya terhadap kinerja asuransi marine cargo tetap perlu dilihat secara bertahap.
"Salah satunya dengan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti volume perdagangan, kondisi ekonomi, dan kebutuhan perlindungan dari para pelaku usaha," katanya kepada Kontan, Jumat (19/6/2026).
Baca Juga: Jasindo Mengklaim Dampak Perlambatan Ekonomi terhadap Bisnis Masih Terkelola
Lebih lanjut, Gema mengatakan Asuransi Jasindo juga akan terus memantau perkembangan kondisi geopolitik global, termasuk dinamika yang dapat memengaruhi aktivitas perdagangan dan logistik internasional.
Hingga Mei 2026, Gema menerangkan lini bisnis pengangkutan (marine cargo) Asuransi Jasindo membukukan premi sebesar Rp 32,14 miliar. Dia menjelaskan kinerjanya masih didominasi oleh aktivitas pengiriman domestik.
Untuk mengoptimalkan kinerja asuransi marine cargo, Gema mengatakan pihaknya akan menerapkan sejumlah strategi. Dia bilang Jasindo akan memperkuat kinerja melalui optimalisasi portofolio bisnis yang sehat, peningkatan kualitas layanan kepada tertanggung, serta penerapan manajemen risiko dan underwriting yang prudent.
"Sejalan dengan hal tersebut, Asuransi Jasindo akan terus mencermati perkembangan kondisi geopolitik dan perdagangan global guna memastikan strategi bisnis yang adaptif terhadap dinamika pasar," ucap Gema.
Sebelumnya, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyampaikan konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah turut memberikan dampak signifikan terhadap lini asuransi marine cargo di industri asuransi umum.
Asal tahu saja, data AAUI mencatat, klaim asuransi marine cargo mengalami peningkatan sebesar 6,7% Year on Year (YoY), menjadi Rp 357 milair per Maret 2026. Adapun premi asuransi marine cargo tercatat terkontraksi cukup dalam sebesar 12,6% YoY, menjadi Rp 1,49 triliun per Maret 2026.
Baca Juga: Timur Tengah Memanas, Jasindo Pastikan Klaim Asuransi Perjalanan Tetap Terjaga
Ketua Umum AAUI Budi Herawan menjelaskan dampak konflik Timur Tengah menyebabkan alur transportasi laut yang melalui Selat Hormuz terganggu. Hal itu juga dirasakan eksportir maupun importir yang berasal dari Indonesia. Alhasil, kondisi itu memengaruhi jumlah pengangkutan, sehingga berefek juga ke kinerja lini asuransi marine cargo.
"Jelas bahwa impor turun, sehingga memang asuransi marine cargo kena hit, khususnya yang sektor perminyakan dan pengangkutan bahan baku. Indonesia juga tidak bisa melakukan ekspor terhadap hasil-hasil produk yang ada ke luar negeri dan banyak yang menuju ke Timur Tengah juga," ujarnya dalam konferensi pers AAUI di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026).
Jadi, Budi menyampaikan bukan hanya klaimnya saja yang meningkat, melainkan kecukupan premi yang didapatkan untuk lini asuransi marine cargo juga tak sebanding.
"Sebenarnya angka klaim yang terjadi masih di tingkat wajar, hanya saja memang berbanding signifikan dengan penerimaan premi di lini tersebut," tuturnya.
Budi menambahkan, kinerja asuransi marine cargo untuk pengiriman domestik masih terkendali dengan baik. Dia berharap konflik yang terjadi di Timur Tengah bisa ada perdamaian sehingga jalur distribusi bisa kembali pulih, sehingga dapat berdampak positif terhadap asuransi marine cargo ke depannya.
Baca Juga: Fluktuasi Harga Minyak Bayangi Bisnis Asuransi Energi, Ini Strategi Jasindo
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













