kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45893,43   -4,59   -0.51%
  • EMAS1.333.000 0,53%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Simak strategi fintech agar terhindar dari kredit macet


Rabu, 26 Mei 2021 / 17:17 WIB
Simak strategi fintech agar terhindar dari kredit macet
ILUSTRASI. Peer to Peer Lending.


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyaluran pinjaman yang kian agresif tidak membuat perusahaan fintech peer to peer lending lengah dalam menjaga rasio non-performing loan (NPL) atau kredit macet. Antisipasi risiko NPL diimplementasikan sedari awal untuk menjaga rasio NPL tetap rendah.

Pemain peer to peer lending mengaku terus memperhatikan keamanan pemodal dalam berinvestasi dengan selalu menjaga kualitas kredit yang disalurkan agar tepat sasaran.

Mereka juga memiliki skema untuk memitigasi risiko kredit macet para peminjam dana (borrower). Hal ini dapat dilihat dengan tingkat keberhasilan bayar dalam tempo 90 hari (TKB90) 100% atau risiko gagal bayar (NPL) 0%.

CEO & Co Founder Akseleran Ivan Nikolas Tambunan menuturkan, salah satu strategi yang diterapkan adalah terus selektif melalakukan credit assessment yang prudent atau penilaian terhadap aplikasi pinjaman nasabah.

Baca Juga: Ini faktor penyebab turunnya penyaluran kredit BRI pada awal tahun ini

"Kami juga punya program asuransi kredit yang melindungi 90% dari pokok pinjaman dalam hal terjadi NPL," kata Ivan kepada kontan.co.id, Selasa (25/5).

Hingga saat ini Akseleran mencatatkan tingkat NPL 0,12% dari total penyaluran, 0,97% dari total outstanding, atau tingkat keberhasilan bayar dalam tempo 90 hari (TKB 90) sebesar 99,03%.

"NPL Akseleran selama pandemi malah terus membaik, karena dari Januari 2020 kami sudah lakukan pengetatan asessment kredit yang prudent. Proyeksi tahun ini tetap sekitar itu. Kita make sure NPL akan terus di bawah 1% ke depannya," ujar Ivan.

Ia mengungkapkan, Akseleran terus berupaya menjaga kualitas pinjaman pada tahun ini dengan menerapkan penilaian kredit yang prudent dan berfokus kepada cashflow calon peminjam (borrower).

Sebagai antisipasi lainnya di masa pandemi, Akseleran menjadikan produk invoice financing sebagai yang mayoritas sebesar 60% dibandingkan pre-invoice financing sebesar 40%.

"Dengan demikian, diharapkan dapat menekan total NPL Akseleran tetap berada di bawah 1% di akhir tahun 2021. Selain itu saat ini hampir seluruh pinjaman di Akseleran diproteksi dengan asuransi kredit yang melindungi sampai dengan 90% pokok pinjaman," jelas Ivan.

Ivan menyebut, akseleran berfokus pada sektor agnostik, jadi tidak ada sektor yang diutamakan dalam mengajukan pinjaman. 

"Namun top sektornya sekarang di engineering/konstruksi, energi, mining/oil and gas, dan retail," katanya.

Hingga April 2021 Akseleran sudah menyalurkan pinjaman hampir Rp 500 miliar. Dengan target di tahun ini bisa menyalurkan pinjaman sekitar Rp 2 triliun.

Sementara itu, Dima Djani, CEO PT Alami Fintek Sharia (Alami) menyatakan, saat ini NPL Alami masih 0%. Pihaknya menargetkan penyaluran pinjaman di tahun ini sebesar Rp 1 triliun, sementara realisasi sampai dengan April 2021 sekitar Rp 700 miliar.

Baca Juga: Sebagian besar pinjaman fintech Julo dipakai nasabah tingkatkan kualitas hidup

"Dalam menjaga tingkat kesehatan pinjaman dan memitigasi risiko kredit macet, kami menjaga asuransi kredit dan menyasar sektor-sektor yang tahan terhadap pandemi. Selain itu dengan screening dan monitoring yang baik," ungkap Dima.

Ia mengatakan, pihaknya akan fokus ke sektor yang defensif dan risk assessment yang sangat berhati-hati. Menurutnya, tren akan positif di 2021 dengan perbaikan ekonomi setelah pandemi kemarin.  "Industri yang menjadi perhatian Alami dalam mengajukan pinjaman, yaitu trading, kesehatan, manpower, service," kata Dima.

PT Pasar Dana Pinjaman (Danamas) juga menyatakan, strategi Danamas dalam mengantisipasi Kerdit macet, adalah dengan melakukan verifikasi yang lebih ketat ke perusahaan/ekosistem yang ingin bekerjasama dengan Danamas.  

Direktur Utama Danamas Dani Lihardja mengatakan, hingga saat ini Danamas mencatatkan tingkat NPL 0,02% atau tingkat keberhasilan bayar dalam tempo 90 hari (TKB 90) sebesar 99,98%.

"Upaya kami dalam menahan NPL, jika ada kerjasama baru, beberapa management resiko sudah dilakukan. Serta melakukan verifikasi lebih ketat dengan bekerjasama dengan vendor seperti ASLI-RI. Selain itu, melakukan evaluasi kepada partner bisnis secara berkala sehingga pinjaman yang dilakukan dibatasi sesuai dengan kemampuan keuangan partner terkait, dan bekerjasama dengan perusahaan asuransi untuk menekan NPL yang dinilai berpotensi terjadi terhadap pinjaman tertentu," jelas Dani.

Dani menyebut, untuk saat ini industri yang menjadi perhatian Danamas dalam menyalurkan pinjaman adalah industri logistik karena menurutnya, di masa pandemi ini transaksi online memiliki pasar yang  potensial, bisnis ini memiliki khans terbesar untuk menguasai semua lini perekonomian indonesia.

Selain itu, dengan jangkauan yang cukup luas dimana Danamas memiliki 23 kantor representative yang berada di semua kota besar di Indonesia akan sangat membantu pembiayaan kepada pelaku UMKM.

Dani mengatakan, sejak awal berdiri hingga April 2021 Danamas sudah menyalurkan total pinjaman sebesar Rp 3,43 triliun.

"Untuk tren ke depan, Danamas memiliki target lebih besar lagi dengan mensupport semua UMKM Indonesia, karena melihat dari performa tahun sebelumnya dimana nilai pencairan dan outstanding meningkat sedangkan NPL stagnan cenderung menurun," tandas Dani.

Selanjutnya: Holding BUMN ultra mikro akan efektif mengatasi rentenir dan pinjol ilegal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Practical Business Acumen Supply Chain Management on Sales and Operations Planning (S&OP)

[X]
×