Reporter: Ade Priyatin | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Jasa Indonesia atau Asuransi Jasindo menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kinerja pada lini asuransi properti di tengah tekanan yang masih membayangi industri hingga pertengahan tahun 2026.
Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), pada semester I-2026 premi asuransi properti terkoreksi 13,6% year on year (YoY) dari periode yang sama di tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp17,95 triliun menjadi Rp15,51 trilun.
Menurut Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo, Brellian Gema Widayana mengatakan tekanan pada lini properti yang terjadi di semester I-2026 merupakan bagian dari dinamika industri di tengah perekonomian nasional yang belum sepenuhnya stabil.
Baca Juga: Bank Jatim Beri Sinyal Dividen, Payout Ratio 50%-55% dari Laba Bersih
"Ketidakpastian ekonomi dan arah suku bunga dapat memengaruhi keputusan investasi maupun ekspansi usaha, yang pada akhirnya turut berdampak pada kebutuhan perlindungan asuransi properti," ujarnya kepada Kontan, Kamis (10/9/26).
Sementara dari sisi kinerja perusahaan, lini ini tecermin dari asuransi harta benda yang hingga Juni 2026 kinerja mereka juga mengikuti dinamika industri.
Ia berkata, ada sejumlah faktor yang mendorong kinerja premi asuransi properti. Secara umum premi lini dipengaruhi oleh perkembangan aktivitas ekonomi dan investasi, kebutuhan perlindungan aset di dunia usaha, hingga dinamika kompetisi dan karakteristik risiko yang diasuransikan.
Sejalan dengan itu, Brellian menyebut bahwa perusahaan tidak hanya melihat pertumbuhan premi dari sisi volume saja, melainkan mereka juga mempertimbangkan kualitas risiko dan keberlanjutan portofolio.
Oleh karena itu, hingga kuartal IV-2026 nanti, Jasindo akan memperkuat pengelolaan portofolio secara lebih selektif dan berbasis risiko. Perusahaan juga akan menjaga hubungan dengan tertanggung untuk memahami kebutuhan perlindungan yang terus berkembang.
Di sisi lain, diversifikasi portofolio dan optimalisasi peluang pada sektor-sektor yang masih memiliki prospek baik juga menjadi bagian dari strategi perusahaan. Selain itu, mereka juga akan memperkuat kualitas layanan untuk mendukung kinerja bisnis.
Dengan strategi tersebut, perusahaan tetap memiliki ruang untuk menangkap peluang pertumbuhan tanpa mengesampingkan aspek prudensi dan kualitas underwriting.
Sementara itu, secara industri ia menilai perkembangan lini ini akan sangat bergantung pada aktivitas ekonomi dan investasi ke depannya.
Baca Juga: Premi Asuransi Properti Turun 13,6% Jadi Rp 15,51 Triliun di Semester I-2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













