kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45941,36   -7,11   -0.75%
  • EMAS918.000 -0,54%
  • RD.SAHAM -0.83%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.19%

Sudah ada stimulus, kredit 2020 masih terkontraksi? Begini alasannya menurut ekonom


Minggu, 24 Januari 2021 / 18:40 WIB
Sudah ada stimulus, kredit 2020 masih terkontraksi? Begini alasannya menurut ekonom
ILUSTRASI. Kredit perbankan./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/08/01/2021.

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan kredit perbankan secara industri per Desember 2020 masih terkontraksi. Bank Indonesia mencatat laju kredit tahun lalu turun 2,41% secara year on year (yoy). Pertumbuhan itu jelas jauh lebih rendah dari realisasi kredit pada akhir 2019 yang tercatat naik 6,08% yoy. 

Tapi pada saat yang bersamaan, tahun lalu pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar 11,11% yoy. Meningkat signifikan dari laju pertumbuhan DPK pada akhir 2019 sebesar 6,54% yoy. 

Jelas, perlambatan kredit tahun 2020 sangat dipengaruhi oleh penurunan aktivitas ekonomi yang cukup tajam baik dari sisi permintaan dan produksi di tengah pandemi COVID-19. Menurut Ekonom PT Bank Pertama Tbk Josua Pardede pemerintah pun sudah melakukan strategi untuk menanggulangi hal itu. 

Salah satunya lewat inisiatif pemberian stimulus untuk pembiayaan sektor riil khususnya segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dengan menempatkan dana ke perbankan. Nilainya tahun lalu mencapai Rp 66 triliun yang dialokasikan ke Himbara, Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan Bank Syariah. 

Baca Juga: Ini sektor-sektor yang akan jadi sasaran penyaluran kredit perbankan tahun ini

Sayangnya, laju pertumbuhan kredit masih tetap lemah. Tapi menurut Josua hal itu lebih banyak disebabkan lesunya permintaan kredit di seluruh segmen. Secara khusus, lemahnya permintaan kredit korporasi sangat signifikan bedampak pada kontraksi laju pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan. 

Mengingat, kredit korporasi memang punya porsi paling besar yakni 51,9% dari total kredit perbankan. Laju pertumbuhan kredit korporasi pada akhir 2020 pun hasilnya tercatat -3,4% yoy. "Sementara itu,  program PEN yakni pembiayaan UMKM dengan penempatan dana pemerintah juga belum cukup signifikan meningkatkan pertumbuhan kredit UMKM karena segmen usaha UMKM juga terkena dampak yang cukup signifikan," terangnya kepada Kontan.co.id, Minggu (24/1). 

Ke depannya, Josua menilai permintaan kredit khususnya tahun ini akan meningkat. Tapi dengan catatan aktivitas ekonomi sudah lebih membaik. Salah satu pendukungnya tentu lewat penanganan COVID-19 di Tanah Air yang lebih baik dan disiplin. "Serta didukung oleh program vaksinasi yang selanjutnya akan mendorong terjadinya herd immunity," katanya.

Hanya pada kondisi itu, menurut Josua aktivitas ekonomi belum akan pulih secara signifikan. Dus, permintaan kredit pun dipastikan masih akan lemah. 

Selanjutnya: Selama pandemi, kebiasaan bertransaksi nasabah perbankan mulai bergeser

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×