Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Simpanan kecil di perbankan terpantau turun nominalnya pada tujuh bulan pertama tahun ini, meski di saat yang sama jumlah rekening terpantau masih naik.
Menurut data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), nominal simpanan di bawah Rp 100 juta mencapai Rp 1.160,35 triliun per Juli 2026, terkoreksi 0,5% dari bulan sebelumnya.
Menariknya, ini terjadi meski jumlah rekening justru bertambah 0,7% dalam periode yang sama menjadi 693,97 juta rekening.
Jika dilihat tren tahunannya, pertumbuhan nominal simpanan di tier ini juga tertinggal dari jumlah rekening beredar. Yang mana, nominal simpanan tumbuh 4,7% sementara jumlah rekeningnya naik 9% dalam periode yang sama.
Baca Juga: Tumbuh 8,84%, Piutang Pembiayaan Multifinance Syariah Rp 32,06 Triliun per Juli 2026
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menjelaskan, hal itu membuat saldo rata-rata per rekening otomatis turun. Dari sekitar Rp 3,1 juta pada 2018, turun menjadi Rp 1,8 juta pada 2024, dan sekitar Rp 1,7 juta pada Mei 2026.
“Jadi, kesannya masyarakat semakin sedikit menabung bukan semata karena uang di perbankan hilang, tetapi karena semakin banyak rekening dengan saldo yang kecil,” ujar Yusuf kepada Kontan, Senin (14/9/2026).
Menurut Yusuf, ini salah satunya dipengaruhi oleh fenomena makan tabungan yang terjadi utamanya pada rumah tangga dengan pendapatan kisaran Rp 1–4 juta. Sementara biaya kebutuhan sehari-hari naik, rumah tangga akhirnya menggunakan tabungan untuk mempertahankan konsumsinya.
Di luar itu, Yusuf bilang perluasan inklusi keuangan dan penyaluran bantuan sosial (bansos) juga menyebabkan hal ini. Ia melihat saat ini banyak rekening baru dibuka untuk menerima bantuan, gaji, transfer digital, atau program pemerintah.
Saldo rekening seperti ini, menurutnya, cenderung kecil karena uang yang masuk segera digunakan untuk kebutuhan sehari hari. Itulah yang membuat pertumbuhan rekening tak selalu berarti kapasitas menabung masyarakat juga bertambah.
Di level perbankan, Bank Syariah Indonesia (BSI) mengaku belum menangkap fenomena ini.
Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengungkapkan, dana pihak ketiga (DPK) bank tumbuh 21,81% secara tahunan menjadi Rp 393 triliun per Juni 2026, dengan tabungan mencapai Rp 173 triliun atau tumbuh 22,32% secara tahunan.
Secara khusus, tabungan BSI didominasi tabungan wadiah (tanpa biaya administrasi bulanan) serta tabungan haji dan umrah.
Wisnu bilang, nasabah dengan nominal tabungan rata-rata di bawah Rp 100 juta masih tumbuh di atas 12% dalam setahun, dengan jumlah nominal simpanan naik 10,32% dalam setahun.
Baca Juga: Saham Big Banks Kompak Menguat, Ini Prospek BBCA, BMRI dan BBNI
Wisnu memandang tren ini dipengaruhi keunggulan karakteristik BSI. “Nasabah tabungan masih mendominasi karena memang BSI sebagai dual license sharia bank dan bullion bank atau bank emas melalui Tabungan Emas,” ujarnya.
Senada, Bank Central Asia (BCA) menyebut simpanan di bawah Rp 100 juta masih tumbuh sehat.
EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F Haryn tak merincikan nilainya, tetapi sebagai gambaran, DPK BCA berhasil tumbuh 7,9% dalam setahun menjadi Rp 1.284 triliun per Juni 2026.
Secara umum, Hera bilang pertumbuhan simpanan dan DPK bakal bergantung pada sejumlah variabel makroekonomi. “Baik yang berasal dari kondisi eksternal maupun kondisi domestik,” sebutnya.
Ia memastikan pihaknya bakal senantiasa mencermati kebutuhan nasabah yang dinamis dan beragam, salah satunya dengan mendorong konsep hybrid banking untuk memberikan layanan secara holistik, baik di ekosistem online maupun offline.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














