kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.770.000   11.000   0,40%
  • USD/IDR 18.066   -11,00   -0,06%
  • IDX 5.625   -214,84   -3,68%
  • KOMPAS100 743   -28,90   -3,75%
  • LQ45 561   -19,51   -3,36%
  • ISSI 196   -6,97   -3,43%
  • IDX30 318   -10,27   -3,13%
  • IDXHIDIV20 394   -12,61   -3,10%
  • IDX80 85   -2,82   -3,23%
  • IDXV30 108   -3,82   -3,43%
  • IDXQ30 103   -3,28   -3,09%

Tahu soal masalah Jiwasraya sejak 2009, ini cerita Sri Mulyani


Kamis, 19 Desember 2019 / 19:58 WIB
Tahu soal masalah Jiwasraya sejak 2009, ini cerita Sri Mulyani
ILUSTRASI. Tampilan gedung kantor pusat Asuransi Jiwasraya di Jakarta, Selasa (15/1). Menteri Keuangan Sri Mulyani mengakui mengetahui permasalahan likuiditas Asuransi Jiwasraya sejak tahun 2008-2009 lalu. KONTAN/Carolus Agus Waluyo


Reporter: Grace Olivia | Editor: Tendi Mahadi

Revaluasi aset yang dilakukan, menurut cerita Sri Mulyani, juga memberikan ruang pada neraca perusahaan Jiwasraya. Harapannya, ruang tersebut bisa mengembalikan kinerja pengelolaan keuangan perusahaan menjadi lebih baik.

Akhir 2009, Sri Mulyani pun meninggalkan jabatannya sebagai Menteri Keuangan dan bertolak Amerika Serikat bekerja untuk Bank Dunia

Kini, persoalan Jiwasraya kembali terulang dan semakin besar. Sri Mulyani menilai, tata kelola perusahaan yang buruk menjadi biang kerok permasalahan Jiwasraya saat ini, terutama dalam hal manajemen investasi. 

Baca Juga: Dua bank pemberi fasilitas kredit ke Jiwasraya pastikan kredit dalam posisi aman

“Dengan adanya space yang positif tadi, seharusnya dipakai untuk memperbaiki (kinerja perusahaan). Tetapi ini malah di-abuse,” ujarnya. 

Tata kelola yang buruk oleh manajemen Jiwasraya tersebut terlihat dari penawaran imbal hasil terlalu tinggi pada produk asuransinya, serta penempatan dana pada instrumen investasi atau saham yang tidak bagus, lanjut Sri Mulyani. 

“Ini yang kami tengarai sebagai tindak kriminal di dalam perusahaan dan menjadi masalah yang sangat serius,” ucapnya.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×