Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut penarikan kembali dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 75 triliun yang sempat ditempatkan ke perbankan bisa memberikan efek nyata terhadap perekonomian.
Sebelumnya, Kementerian Keuangan sempat menambahkan penempatan SAL masing-masing sebesar Rp 25 triliun kepada PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk.
Namun, Purbaya memutuskan menarik kembali dana tersebut dan mengalihkannya untuk belanja rutin kementerian/lembaga.
Baca Juga: Bank Pelat Merah Berlomba-lomba Bidik Nasabah Korporasi Lewat Aplikasi Digital
“Jadi saya tarik, seperti ditarik dari sistem, tapi langsung dibelanjain lagi. Jadi langsung masuk ke sistem perekonomian,” jelas Purbaya saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jumat (2/1/2026).
Dengan begitu, lanjut Purbaya, penarikan dana tersebut tak mengganggu uang beredar di sistem perekonomian saat ini.
Alih-alih, pengalihan dana tersebut dinilai bakal memberikan efek yang lebih nyata terhadap perputaran uang, lantaran penggunaannya jelas untuk belanja.
“Malah harusnya lebih bagus karena ada dampak multiplier dari belanja pemerintah pusat maupun daerah. Jadi itu tidak ada masalah,” kata Purbaya.
Sementara itu, untuk sisa Rp 201 triliun yang sudah lebih dulu diterima himbara, Purbaya bilang hingga saat ini masih berada di perbankan.
Baca Juga: Mayoritas Bank Pelat Merah Catat Penurunan Pendapatan Recovery pada Kuartal III-2025
Penempatan dana SAL sebesar masing-masing Rp 55 triliun di Bank Mandiri, BNI, dan BRI, sebesar Rp 25 triliun di Bank Tabungan Negara (BTN), serta Rp 10 triliun di Bank Syariah Indonesia (BSI) sebelumnya telah tuntas disalurkan dalam bentuk kredit pada November 2025 lalu.
Namun, Purbaya sempat menyebutkan bahwa kebijakan penempatan dana SAL di perbankan memang belum berdampak optimal.
Pun kalau melihat tren penyaluran kredit, Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhannya masih cenderung moderat di level 7,74% hingga November 2025.
Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan pun menilai, besaran undisbursed loan yang masih sangat besar tak sebanding dengan realisasi penyerapan dana SAL.
Baca Juga: Purbaya: Dirut Bank Pelat Merah Pusing Menerima Dana Jumbo dari Pemerintah
“Undisbursed loan saat ini di atas Rp 2.000 triliun, sehingga permintaan kredit belum bisa diukur berdasarkan terserapnya Rp 200 triliun dari pemerintah,” ujar Trioksa.
Untuk diketahui, BI mencatat undisbursed loan perbankan hingga November 2025 masih tinggi mencapai Rp 2.509,4 triliun atau 23,18% dari plafon kredit tersedia.
Selanjutnya: Tinggalkan Doktrin Bela Diri, Jepang Gandakan Belanja Militer untuk Hadapi China
Menarik Dibaca: Lanjut Ngacir, Story (IP) Bertahan di Puncak Kripto Top Gainers 24 Jam
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













