kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45729,74   -6,98   -0.95%
  • EMAS963.000 3,44%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Terus berkembang, AAUI: Insurtech masih butuhkan dukungan regulasi


Senin, 24 Februari 2020 / 14:04 WIB
Terus berkembang, AAUI: Insurtech masih butuhkan dukungan regulasi
ILUSTRASI. Financial technology di adopsi oleh industrikeuangan non bank terutama industri asuransi. Pemasaran asuransi lewat kanal digital atau yang dikenal dengan insurtech kini miliki peluang untuk berkembang. KONTAN/Baihaki/18/04/2017

Reporter: Annisa Fadila | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemasaran asuransi lewat kanal digital atau yang dikenal dengan insurtech kini miliki peluang untuk berkembang. Sebab, perkembangan teknologi dalam sektor keuangan sudah sangat maju. 

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody AS Dalimunthe bahkan menyebutkan sektor asuransi tidak akan lepas dari penerapan teknologi (insurtech).

Baca Juga: Anjlok 70,07%, premi Jiwasraya hanya capai Rp 3,19 triliun di 2019

Ia menyebutkan, tujuan yang hendak dicapai insurtech diantaranya ialah kecepatan dan ketetapan proses bisnis asuransi agar memberikan keyakinan kepada konsumen kalau perusahaan asuransi mempunyai peluang untuk mampu berkembang. 

Tak hanya itu, Dody juga menambahkan tujuan lain yang hendak dicapai insurtech berupa inovasi produk-produk asuransi agar lebih cocok dengan kebutuhan masyarakat.

“Dan yang tak kalah penting tujuan dari insurtech itu sebenarnya agar efektivitas dan efisien. Agar proses bisnis industri asuransi lebih memiliki daya saing dan industri asuransi mampu melakukan manajemen resiko lebih baik,” jelasnya kepada Kontan.co.id Senin, (24/2).

Namun, Dody berpendapat hingga saat ini regulasi masih selangkah di belakang perkembangan teknologi. Menurutnya, dalam industri asuransi pun masih dibutuhkan dukungan regulasi guna memberikan keyakinan serta kelincahan pelaku bisnis untuk menghadapi disrupsi.

Baca Juga: Jasindo targetkan premi Rp 6,4 triliun tahun ini

Lebih lanjut, ia menyebutkan sampai saat ini perkembangan insurtech masih didominasi lini pemasaran, hal itu hanya memindahkan proses konvensional manual ke dalam aplikasi online.

“Diharapkan insurtech mulai banyak dalam penerapan back end, analitik dan artificial intelligence. Kebutuhan big data sangat diperlukan, untuk itu perlu juga dukungan terkait konsolidasi data industri asuransi,” tambahnya.

Meski begitu, Dody melihat hingga saat ini tak sedikit dari produk-produk asuransi individu dengan basis telematik yang ditandai dengan munculnya aplikasi-aplikasi proses bisnis asuransi. Tak hanya itu, ia juga menambahkan tak sedikit pula vendor-vendor supplier telematik insurance.

"Awalnya memang lebih banyak berupa penerapan online pada front end, ini bertujuan untuk mempermudah calon tertanggung mengakses produk asuransi. Namun saat ini sudah banyak pula analitik insurance dalam produk-produk asuransi individu," ujarnya.

Baca Juga: Jasa Raharja targetkan premi tumbuh 5% tahun ini




TERBARU

Close [X]
×