kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45941,29   5,94   0.64%
  • EMAS1.321.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Tokio Marine Indonesia Sebut Penggunaan AI Tak akan Gantikan Peran Agen


Rabu, 13 Desember 2023 / 18:40 WIB
Tokio Marine Indonesia Sebut Penggunaan AI Tak akan Gantikan Peran Agen
Performa keuangan kuat dan komitmen ekspansi ritel melalui inovasi produk dan digital PT Asuransi Tokio Marine Indonesia/TMI ? (kiri ke kanan); Shiro Kiyohara, Finance Director; Sancoyo Setiabudi, President Direktur TMI; dan Hajime Jodai, Managing Director TMI


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan patungan antara Tokio Marine Asia Pte Ltd dan PT Asuransi Jasa Indonesia, Tokio Marine Indonesia (TMI) menyebut, penerapan Artificial Intelligence (AI) dalam bisnis perusahaan tak akan menggantikan peran agen. Adapun TMI menerapkan AI dalam proses klaim dan operasional call center.

Mengenai hal itu, Digital Strategy Tokio Marine Indonesia Foster Kurniawan menyampaikan, terdapat dua tipe nasabah saat ini, yakni ada yang suka berbisnis secara online dan tatap muka dengan manusia. 

Baca Juga: Tokio Marine Indonesia Sebut Terapkan Kecerdasan Buatan dalam Proses Klaim

Untuk nasabah yang nyaman dengan online, AI memang bisa mengurus dari penawaran sampai pembelian produk, sedangkan untuk nasabah yang memang masih nyaman dengan agen asuransi bukan berarti AI tak bisa mendukung. 

"Malahan bisa untuk menelepon guna menawarkan produk. Jika tertarik, nantinya akan diberikan ke agen untuk di-follow up. Jadi, tidak akan menggantikan agen," ungkapnya dalam konferensi pers di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (13/12).

Senada dengan Foster, Presiden Direktur TMI Sancoyo Setiabudi menyatakan AI tak akan menggantikan peran manusia, dalam hal ini agen asuransi.

Menurut Sancoyo, segmen masyarakat itu penangkapannya berbeda-beda antara mereka yang nyaman berkomunikasi dengan manusia atau melalui online.

Baca Juga: Premi Tokio Marine Tumbuh Positif, Ini Pendorongnya

Dia pun menceritakan fenomena di perusahaan asuransi yang terletak di Pantai Barat Amerika Serikat (AS) itu ada masyarakat cenderung nyaman membeli produk asuransi lewat agen, tetapi masyarakat di Pantai Timur AS itu malah nyaman membeli secara online.

"Jadi, waktu itu dilakukan eksperimen, kenapa yang online tak diterapkan juga di West Coast atau Pantai Barat karena operasional lebih rendah sehingga semua digital? Jadi, perusahaan tidak bisa memaksa. Oleh karena itu, perusahaan harus sudah siap menyediakan channel sesuai dengan pasar yang ada," ujarnya.

Berdasarkan hal itu, Sancoyo menyebut TMI berkomitmen untuk terus mengembangkan channel digital, tetapi agen asuransi juga tetap dipertahankan. 

Baca Juga: Mengenal Asuransi Pengangkutan, Apa Saja Manfaatnya?

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Bern Dwiyanto menegaskan tidak semua produk asuransi dapat didigitalisasi. Dia mengatakan hanya produk simple risk yang membutuhkan proses digital, seperti kendaraan bermotor personal, house hold, personal accident, dan travel insurance.

"Sebagian besar masih membutuhkan pemasaran secara tatap muka. Oleh karena itu, tenaga pemasar masih sangat dibutuhkan. Untuk produk masal atau mikro, lebih efektif menggunakan online," kata Bern.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×