Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Transaksi kartu kredit masih menunjukkan pertumbuhan positif di tengah penurunan jumlah kartu yang beredar. Kondisi ini mengindikasikan aktivitas penggunaan kartu kredit oleh nasabah tetap meningkat, meskipun pertumbuhan jumlah kartu belum terlalu agresif.
Mengacu data Statistik Sistem Pembayaran dan Infrastruktur Pasar Keuangan (SPIP) Bank Indonesia (BI), jumlah kartu kredit mencapai 18,31 juta kartu pada Agustus 2026. Jumlah tersebut turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 18,87 juta kartu.
Meski demikian, volume transaksi kartu kredit justru tumbuh 22,69% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi 52,67 juta transaksi pada Agustus 2026.
Dari sisi nilai, transaksi kartu kredit juga meningkat 14,34% yoy menjadi Rp 43,82 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan nilai transaksi pada Agustus 2025 yang mencapai Rp 38,33 triliun.
Baca Juga: Bisnis Paylater Perbankan Masih Tumbuh Subur, Bank Digital Masih Unggul
Direktur Eksekutif Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) Steve Marta mengatakan, pertumbuhan transaksi kartu kredit perbankan masih berlanjut hingga kuartal III 2026, baik dari sisi volume maupun nilai transaksi.
"Transaksi kartu kredit sampai dengan kuartal III mengalami kenaikan, baik dari transaksi maupun nilai rupiah," ujar Steve kepada kontan.co.id, Jumat (6/11).
Menurutnya, salah satu faktor pendorong pertumbuhan tersebut adalah semakin luasnya kebiasaan masyarakat dalam menggunakan transaksi digital. Selain itu, nasabah kartu kredit yang relatif stabil juga masih aktif menggunakan kartu kredit untuk transaksi domestik maupun saat melakukan perjalanan pada musim liburan.
"Faktor-faktor yang mendorong tentunya salah satunya adalah kebiasaan untuk menggunakan transaksi digital yang semakin memasyarakat," katanya.
Steve optimistis tren transaksi kartu kredit masih akan berlanjut hingga akhir tahun ini. AKKI memperkirakan volume dan nilai transaksi kartu kredit masing-masing dapat tumbuh sekitar 18% dibandingkan tahun lalu.
"Industri masih yakin tren untuk transaksi kartu kredit positif dan akan berkembang terus. Diharapkan pertumbuhan di angka sekitar 18% untuk volume dan nilai transaksi tahun ini dibanding tahun lalu," ungkapnya.
Meski prospeknya masih positif, Steve mengingatkan adanya sejumlah hal yang perlu diperhatikan industri, terutama pertumbuhan jumlah pemegang kartu yang belum sebesar pertumbuhan transaksi.
Baca Juga: Krom Bank Bukukan Laba Bersih Rp 157,91 Miliar hingga September 2026
Dari sisi risiko, ia menyebut rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) kartu kredit menunjukkan sedikit kenaikan. Saat ini, NPL kartu kredit berada sedikit di atas 2,5%, atau meningkat sekitar 0,15 poin persentase dibandingkan tahun lalu.
"NPL kartu kredit saat ini sedikit di atas 2,5%, kenaikan sebesar 0,15% dibanding tahun lalu," jelas Steve.
Menurutnya, kenaikan tersebut perlu dicermati di tengah kondisi ekonomi dan peningkatan harga kebutuhan pokok. Namun, pertumbuhan pemegang kartu baru yang tidak terlalu agresif dibandingkan produk kredit lainnya dinilai turut membantu menjaga kualitas portofolio.
Di sisi perbankan, pertumbuhan bisnis kartu kredit juga masih terlihat. VP Credit Cards Group Bank Mandiri Agus Hendra Purnama mengatakan, pada kuartal III 2026 volume transaksi kartu kredit Bank Mandiri tumbuh 15% secara tahunan. Sementara itu, baki debet kartu kredit meningkat 6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Pertumbuhan tersebut didukung oleh strategi bisnis yang berfokus pada pengembangan segmen affluent, melalui penguatan akuisisi nasabah berkualitas, optimalisasi potensi cross-selling dari basis nasabah prioritas dan wealth management, serta penyediaan berbagai manfaat premium dan penawaran yang disesuaikan dengan kebutuhan nasabah," kata Agus.
Ke depan, Bank Mandiri akan mempertahankan fokus pada pengembangan segmen nasabah affluent dengan didukung penguatan kapabilitas digital.
Sejumlah inovasi layanan yang dikembangkan antara lain pembayaran berbasis QRIS, penggunaan virtual card untuk transaksi e-commerce, fasilitas penarikan dana tunai, serta fitur Tap to Pay.
Dari sisi kualitas aset, Agus menyebut NPL kartu kredit Bank Mandiri masih berada pada level terkendali.
Baca Juga: Asing Serok Saham Big Banks Jelang Review MSCI, Ini Rekomendasinya
"Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) Kartu Kredit Bank Mandiri tetap terjaga pada level yang terkendali," ujarnya.
Sementara itu, EVP Corporate Communication & Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Hera F. Haryn mengatakan, transaksi kartu kredit BCA juga menunjukkan tren positif.
Per September 2026, outstanding pinjaman konsumer lainnya yang mayoritas merupakan kartu kredit tumbuh 11,5% yoy menjadi Rp 26,3 triliun.
"Hal ini merupakan suatu bentuk kepercayaan nasabah yang tetap menggunakan kartu kredit BCA dalam memenuhi kebutuhannya," kata Hera.
Untuk mendorong pertumbuhan bisnis, BCA secara konsisten menghadirkan berbagai promo dan manfaat bagi nasabah melalui kerja sama dengan sejumlah rekanan.
Selain itu, BCA juga menghadirkan inovasi produk dan layanan. Terbaru, perseroan meluncurkan BCA Kartu Kredit Indonesia (KKI) yang memungkinkan nasabah bertransaksi menggunakan QRIS dengan sumber dana dari KKI melalui aplikasi myBCA.
BCA juga meluncurkan Kartu Kredit BCA Blibli Tiket Mastercard dengan tema "One Card More Rewards". Melalui kartu tersebut, nasabah dapat memperoleh berbagai reward dari transaksi di ekosistem Blibli Tiket.
"Kami berharap bisnis kartu kredit masih akan terus tumbuh ke depannya," tutup Hera.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
