Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Transmisi penurunan suku bunga kredit perbankan masih tersendat. Penurunan BI Rate dan likuiditas yang dirasa memadai rupanya belum cukup mendorong rata-rata bunga kredit turun signifikan.
Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah menyebut, faktor likuiditas lebih relevan untuk melihat kondisi bank-bank besar.
Sementara itu, bank-bank kecil belum tentu memiliki permodalan dan ruang likuiditas yang cukup untuk memangkas bunga kredit.
Baca Juga: Konflik Iran vs Israel-AS Memanas, Asuransi Maritim Cabut Perlindungan Risiko Perang
Namun, menurut Piter, bank besar sekalipun belum tentu bersedia menurunkan bunga kredit meski likuiditasnya longgar.
Pasalnya, penurunan suku bunga akan berdampak langsung pada margin dan pendapatan bunga bank.
“Bank-bank besar memang memiliki likuiditas lebih kuat. Tapi suku bunga bisa lebih turun kalau mereka siap menurunkan margin,” ujar Piter, Senin (2/3/2026).
Penurunan Kredit Belum Sejalan dengan BI Rate
Regulator, Bank Indonesia (BI) telah menurunkan BI Rate serta menerapkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna mempercepat transmisi suku bunga.
Namun, data BI menunjukkan suku bunga kredit perbankan baru turun 40 basis poin (bps) menjadi 8,8% pada Januari 2026, dari 9,2% pada Desember 2025.
Penurunan ini relatif kecil dibandingkan pemangkasan BI Rate yang mencapai 125 bps dalam periode yang sama.
Baca Juga: BTN Targetkan Transaksi Digital Naik 15% di Ramadan, Bale by BTN Jadi Andalan
BI juga telah menyalurkan insentif KLM sebesar Rp 427,5 triliun pada pekan pertama Februari 2026 untuk mendorong transmisi harga ke sektor riil.
Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman mengatakan, kebijakan tersebut terus diupayakan agar transmisi suku bunga berjalan lebih efektif.
Ia meminta publik bersabar karena dampak kebijakan membutuhkan waktu sebelum terlihat nyata.
Perbankan Masih Tunggu Kondisi Likuiditas
Dari sisi perbankan, belum semua bank memberikan kepastian mengenai arah suku bunga ke depan.
Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga Lani Darmawan menyebut, pihaknya berpeluang menurunkan bunga simpanan maupun kredit jika kondisi likuiditas tetap terjaga.
Baca Juga: Bencana Alam Berpotensi Dongkrak Klaim, Tugu Insurance Pastikan Rasio Tetap Terjaga
“Masih ada potensi penurunan bunga baik dana pihak ketiga (DPK) maupun kredit ke depan apabila likuiditas market tetap longgar,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa transmisi kebijakan moneter tidak hanya ditentukan oleh penurunan suku bunga acuan dan insentif likuiditas, tetapi juga oleh strategi bisnis perbankan dalam menjaga margin serta keberlanjutan pendapatan di tengah dinamika ekonomi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













