Reporter: Ade Priyatin | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren underconsumption core atau tren gaya hidup di media sosial yang mengajak seseorang untuk membeli dan mengonsumsi barang secara lebih sedikit, bijak, serta fungsional berpotensi mempengaruhi pertumbuhan transaksi dompet digital atau e-wallet.
Di tengah tekanan daya beli, konsumen cenderung mengurangi pembelian barang sekunder dan tersier bernilai tinggi, lalu memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menilai, penggunaan e-wallet berkaitan erat dengan tingkat konsumsi masyarakat.
Baca Juga: OJK Sebut Asuransi Gadget Dapat Jadi Peluang yang Bisa Dikembangkan Industri Asuransi
Ketika belanja barang seperti gadget mulai ditekan, transaksi pembayaran digital yang berkaitan dengan konsumsi tersebut berpotensi ikut terkoreksi.
“Jadi saya rasa akan ada pengaruh dari konsumsi masyarakat terhadap penggunaan e-wallet. Sejatinya bukan hanya e-wallet, tapi transaksi secara keseluruhan akan terkoreksi,” ujarnya Kontan, Jumat (23/10/2026).
Meski demikian, tren underconsumption tidak serta-merta menutup peluang pertumbuhan bagi penyedia e-wallet. Menurutnya, promosi berupa diskon dan berbagai penawaran menarik masih dapat menjadi daya tarik bagi konsumen di tengah tekanan ekonomi.
E-wallet yang mampu menawarkan diskon berpotensi mendorong permintaan karena konsumen cenderung mempertimbangkan harga dan keuntungan yang bisa diperoleh saat bertransaksi. Namun, strategi tersebut memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait kemampuan perusahaan menyediakan anggaran promosi.
Dampak dari selektivitas konsumen ini mulai terasa oleh dompet digital LinkAja.
Baca Juga: OJK Sebut Masih Terdapat Ruang untuk Memperkuat Program Asuransi Usaha Tani Padi
Meskipun sepanjang periode berjalan di tahun 2026 ini transaksi pengguna LinkAja masih tumbuh 5%, Chief Executive Officer LinkAja Yogi Rizkian Bahar mengatakan dampak tren ini mulai terlihat pada beberapa kategori salah satunya adalah produk telekomunikasi.
Meski belum terjadi secara signifikan, Yogi mengatakan kalau kategori ini mulai menunjukkan tren perlambatan. Di sisi lain, walau transaksi pengguna masih menunjukkan pertumbuhan, tetapi perusahaan juga mulai melihat adanya kecenderungan penurunan ticket size atau nilai rata-rata transaksi.
"Pola tersebut dapat menjadi indikasi bahwa pengguna tetap memenuhi kebutuhannya, tetapi dengan nominal yang lebih terukur," katanya kepada Kontan, Jumat (23/10/2026).
Kendati demikian, tren ini belum memberikan dampak berarti bagi transaksi di aplikasi mereka. Ini terjadi karena pengguna LinkAja tidak hanya memanfaatkan aplikasi untuk transaksi berbelanja konsumtif saja, tetapi untuk kebutuhan sehari-hari yang bersifat rutin dan esensial.
Baca Juga: Dana DHE SDA Bank Mandiri Capai Rp 84,3 Triliun hingga September 2026
Untuk menjaga pertumbuhan transaksi, LinkAja tetap memastikan layanan memiliki fungsi yang jelas dan relevan sesuai kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Selain itu, perusahaan juga terus memperkuat manfaat layanan, meningkatkan kepercayaan dan kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, dan menghadirkan program yang relevan untuk kebutuhan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














