kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.020   39,00   0,22%
  • IDX 5.916   40,29   0,69%
  • KOMPAS100 770   5,43   0,71%
  • LQ45 584   2,70   0,46%
  • ISSI 205   1,22   0,60%
  • IDX30 331   1,85   0,56%
  • IDXHIDIV20 408   2,21   0,55%
  • IDX80 87   0,50   0,57%
  • IDXV30 110   0,09   0,09%
  • IDXQ30 107   0,43   0,40%

Undisbursed Loan Perbankan Masih Tinggi Meski Kredit Tumbuh


Senin, 06 Juli 2026 / 20:42 WIB
Undisbursed Loan Perbankan Masih Tinggi Meski Kredit Tumbuh
ILUSTRASI. INDONESIA-ECONOMY-CURRENCY (AFP/YASUYOSHI CHIBA)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah masifnya pertumbuhan kredit perbankan, nilai fasilitas pinjaman yang belum digunakan alias undisbursed loan juga tak kalah tinggi. Musababnya adalah ketidakpastian yang membayangi ekonomi, yang membuat dunia usaha cenderung menahan diri. 

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan penyaluran kredit industri perbankan tumbuh 11,51% secara tahunan (year-on-year/yoy) per Mei 2026. Capaian dalam periode ini menjadi pertumbuhan double digit pertama sejak awal tahun. 

Kendati begitu, di saat yang sama undisbursed loan perbankan juga masih tinggi, nilainya mencapai Rp 2.576 triliun atau setara dengan 22,41% dari plafon kredit yang tersedia. 

Baca Juga: Kenaikan BI Rate Berpotensi Menekan Penerbitan Obligasi Multifinance

Kondisi tersebut juga nampak di level individu bank, misalnya pada Bank Central Asia (BCA). Berdasarkan laporan bulanannya, penyaluran kredit bank hingga Mei 2026 tumbuh 4,85% yoy menjadi Rp 969,09 triliun. Di saat yang sama, fasilitas kredit dengan komitmen pencairan yang belum ditarik mencapai Rp 360,59 triliun, jumlahnya naik 6,61% yoy. 

Meski jumlahnya masih cenderung tinggi, EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn memastikan pihaknya senantiasa melakukan pengelolaan yang baik atas fasilitas pembiayaan yang belum ditarik. 

“Kami kelola secara pruden,” ujar Hera kepada Kontan, Senin (6/7/2026). 

Hera bilang pada prinsipnya dinamika penyaluran kredit perbankan sejalan dengan kondisi perekonomian. Dengan tren kinerja sejauh ini, pihaknya masih optimistis target pertumbuhan kredit di rentang 8%–10% hingga akhir tahun nanti masih dapat dicapai. 

Toh, lanjutnya, secara keseluruhan implementasi fungsi intermediasi BCA masih ditopang oleh likuiditas yang memadai. Di saat yang sama, bank juga berkomitmen menyalurkan kredit berkualitas ke berbagai segmen dan sektor, sembari tetap mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dengan penerapan manajemen risiko yang disiplin.

Baca Juga: Tifa Finance Raih Pinjaman Rp 400 Miliar dari Hana Bank

Di sisi lain, CIMB Niaga mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 8,61% yoy menjadi Rp 171,08 triliun, sementara fasilitas kredit dengan komitmen pencairan yang belum ditarik justru turun 1,11% yoy menjadi Rp 14,79 triliun. 

Namun begitu, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengaku ada sedikit kenaikan pada undisbursed loan bank. Ia bilang itu disebabkan oleh keputusan nasabah untuk menunda investasi di tengah situasi saat ini. “Mereka masih wait and see,” katanya.

Lani melihat kondisi ini masih bakal bertahan hingga setidaknya kuartal III-2026. Meski industri tentunya mengharapkan perbaikan jelang akhir tahun, menurutnya situasi masih sulit diprediksi di tengah ketidakpastian saat ini. 

Guru besar ekonomi Universitas Airlangga Rahma Gafmi menjelaskan, sejatinya debitur korporasi memang banyak yang meminta fasilitas kredit dalam bentuk revolving loan atau line of credit untuk menjaga likuiditas darurat atau modal kerja musiman. 

Nah, fasilitas ini sengaja disiapkan tetapi tidak ditarik seluruhnya, melainkan hanya diambil saat arus kas perusahaan membutuhkannya.

Masalahnya, dengan tren kebijakan moneter ketat untuk menjaga stabilitas nilai tukar, suku bunga kredit di pasar belum bisa turun secara agresif. Dus, dengan biaya dana (cost of fund) yang masih tinggi, kalkulasi bisnis sektor riil menjadi lebih sensitif. 

“Dalam kondisi ini, dunia usaha hanya menarik pinjaman jika imbal hasil proyek dipastikan mampu menutup beban bunga tersebut,” tutur Rahma.

Pada dasarnya BI melihat angka undisbursed loan saat ini menunjukkan bahwa likuiditas dan kapasitas perbankan untuk menyalurkan pembiayaan sangat tebal. Namun begitu, Rahma bilang ancaman inflasi pangan dunia karena gelombang panas Eropa serta tingginya suku bunga global tetap menjadi tantangan ekonomi domestik yang masih jalan ditempat. 

Baca Juga: Saham Big Banks Menguat di Awal Pekan, Simak Rekomendasi Analis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×