Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah menjadi primadona dalam beberapa tahun terakhir, sektor teknologi terutama ecommerce dan ride hailing kini memasuki musim dingin alias winter. Kini, perusahaan teknologi kian gencar melakukan aksi pemutusan hubungan kerja (PHK) agar memiliki bisnis yang lebih efisien dan menguntungkan.
Riset Google, Temasek, Bain & Company menemukan jumlah transaksi investasi di sektor teknologi Indonesia cenderung konstan hingga semester 1-2022. Bahkan, nilai transaksi investasi tersebut turun sekitar US$ 2 miliar year on year (YoY).
“Karena investor memprioritaskan profitabilitas dan menghadapi kekhawatiran seputar valuasi perusahaan tahap akhir. Investasi di sektor ecommerce dan transportasi online (ride hailing) menurun,” mengutip riset itu pada Rabu (16/11).
Baca Juga: Biaya Tenaga Kerja Digital Perbankan Melonjak
Kendati demikian, analis sepakat isu ini tidak akan memberikan dampak negatif bagi saham bank digital. Meskipun, bank digital mengandalkan ekosistem dari perusahaan teknologi dalam memacu bisnis.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menyatakan, bisnis bank digital dengan perusahaan tech sangatlah berbeda.
Bank fokus pada fungsi intermediasi dan menghimpun dana masyarakat, sedangkan perusahaan teknologi cenderung untuk jual beli barang atau jasa.
“Sehingga ini tidak akan memberikan pengaruh kepada saham bank digital. Sampai sekarang, perusahaan teknologi kan tidak berhenti disitu, mereka tetap melakukan inovasi sehingga memberi daya tambah bagi penggunanya,” ujar Nico kepada Kontan.co.id pada Rabu (16/11).
Sedangkan, Research & Consulting Infovesta Nicodimus Kristiantoro menilai prospek bisnis, hadirnya e-commerce ataupun ride hailing justru akan meningkatkan pangsa pasar pada saham bank digital. Juga menarik minat investor dengan kolaborasi produk yang dihasilkan keduanya.
Baca Juga: Ratusan Mahasiswa Masih Terjerat Pinjol Cek Daftar Pinjol Legal yang Dirilis OJK
“Misalkan antara GOTO dengan ARTO yang menghadirkan produk pinjaman digital terbaru dari tokopedia bernama gopay later cicil. ARTO juga kolaborasi bersama GoTo Finansial. Kemudian Bank Neo Commerce (BBYB) yang kolaborasi dengan Akulaku yang menghadirkan pinjaman kredit langsung secara online,” paparnya kepada Kontan.co.id pada Rabu (16/11).
Ia menegaskan, kolaborasi ekosistem ecommerce dengan bank digital akan mendorong peningkatan nasabah ke bank Digital tersebut dengan harapan juga akan meningkatkan jumlah nasabah. Terutama sisi penempatan Dana Pihak Ketiga (DPK) dimana bank Digital terkenal dengan tawaran suku bunga yang lebih tinggi dibanding bank konvensional.
“Kalau yang saya baca beberapa hari lalu, Softbank justru mencatat peningkatan revenue setelah melepas e-commerce Alibaba karena memang pemerintah China sedang ada tindakan keras terhadap sektor teknologi. Jadi balik lagi ke kondisi dimana saham digital dan ecommerce itu berada, kalau di Indonesia saya rasa masih prospektif,” kata Nicodimus.
Terkait, investor yang lebih suka memilih fundamental dibandingkan valuasi, Nicodimus menyatakan tergantung karakteristik investor. Bagi investor jangka panjang pasti ingin melihat dan memilih bank digital yang mempunyai fundamental bagus.
“Itu ditopang dengan prospek bisnis kedepannya yang bagus. Namun bagi investor jangka pendek, melihat valuasi saham bank digital tersebut tergolong murah atau mahal masih menjadi salah satu cara untuk memilih bank digital,” jelasnya.
Dalam melihat kadar murah dan mahal dari suatu bank digital, Nicodimus menyatakan bisa menggunakan price to book value (PBV). Bank dengan PBV lebih rendah dibandingkan rata-rata industri PBV maka akan lebih murah, begitu sebaliknya
Baca Juga: Kinerja Bank Digital Membaik di Kuartal Ketiga, Begini Prospek Sahamnya
“Rata rata industri PBV bisa dihitung manual dari kumpulan PBV semua bank. Berdasar data infovesta, Rata rata PBV industri perbankan saat ini 3,51x,” pungkasnya.
Adapun pada penutupan perdagangan pasar saham Rabu (16/11), kinerja saham bank digital cukup beragam. Bank Jago (ARTO) ditutup menguat 5,93% menjadi Rp 6.250, Allo Bank (BBHI) naik 0,41% menjadi Rp 2.440. Lalu, Bank Neo Commerce melemah 2,17% menjadi Rp 900 dan Bank Raya tetap di level Rp 525.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













