Reporter: Ferry Saputra | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) angkat bicara mengenai pembiayaan multifinance yang banyak digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno mengatakan tren pembiayaan tersebut merupakan hal yang wajar.
"Dia punya jaminan untuk kebutuhan sehari-hari, kebutuhan modal kerja, dan lainnya itu wajar," katanya saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (10/9/2026).
Baca Juga: Makna 7 April: Wajib Tahu 4 Hari Besar Global, Ada Hari Kesehatan Dunia!
Namun, Suwandi mengkhawatirkan pembiayaan yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi orang tersebut tak memiliki pendapatan. Dia bilang hal itu tentu menjadi perhatian industri juga karena bisa saja menimbulkan potensi kredit macet.
"Selama menggunakan kebutuhan sehari-hari, tetapi masih punya pendapatan. Bukan kebutuhan sehari-hari, tetapi tidak punya pendapatan," tuturnya.
Suwandi juga menyoroti adanya pengajuan pembiayaan di tengah tantangan daya beli saat ini. Dia bilang dalam hal itu, perusahaan multifinance juga akan lebih selektif menganalisis calon debitur.
"Dalam menganalisis seseorang, misalnya dia mau beli mobil BMW, tentu kami cek mobil yang digunakan sebelumnya. Jika ternyata menggunakan mobil pick-up sebelumnya, tentu tidak mungkin. Seseorang itu pasti ada tingkatannya pada saat dia naik kelas," tuturnya.
Baca Juga: Dunia Merayakan 23 April: Ini 3 Hari Besar yang Berkaitan dengan Literasi Global!
Terkait kinerja, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, piutang pembiayaan perusahaan multifinance mencapai Rp 513,05 triliun per Juli 2026, atau tumbuh 2,01% secara tahunan (YoY).
Adapun Non Performing Gross (NPF) gross perusahaan pembiayaan per Juli 2026 sebesar 3,03%. Angkanya terbilang memburuk, jika dibandingkan posisi pada bulan sebelumnya yang sebesar 3,01%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














