Reporter: Ade Priyatin | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembiayaan industri modal ventura mengalami kontraksi per Juli 2026.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pembiayaan industri modal ventura tercatat sebesar Rp16,32 triliun atau terkontraksi sebesar 0,46% year on year (YoY).
Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) menilai penurunan tersebut bukan karena keterbatasan likuiditas, melainkan perubahan strategi investasi yang makin selektif.
"Amvesindo melihat hal tersebut sebagai cerminan nyata dari fase konsolidasi dan prinsip kehati-hatian (prudence) yang sedang berlangsung," ujar Ketua Umum Amvesindo Eddi Danusaputro kepada Kontan, Jumat (11/9/2026).
Baca Juga: LLV Beberkan Tantangan yang Masih Dihadapi Industri Modal Ventura hingga Akhir 2026
Menurutnya, penyaluran modal ventura saat ini didorong oleh dua hal, yakni perusahaan modal ventura korporasi atau Venture Capital Corporation (VCC) yang memberikan pendanaan lanjutan kepada portofolio eksisting serta Venture Debt Corporation (VDC) yang aktif menyalurkan pembiayaan produktif ke sektor riil.
Sebagai gambaran, berdasarkan data statistik OJK per Maret 2026, realisasi pembiayaan modal ventura antara lain terdiri atas penyertaan saham sebesar Rp 4,9 triliun, penyertaan melalui pembelian obligasi konversi Rp 400,8 miliar, serta pembiayaan melalui pembelian surat utang untuk pasangan usaha tahap rintisan atau pengembangan sebesar Rp2 miliar.
Sementara itu, porsi terbesar mengalir ke pembiayaan usaha produktif yang mencapai Rp 11,21 triliun.
Di sisi lain, tekanan terhadap pembiayaan juga karena investor kini menerapkan proses uji tuntas atau due diligence yang lebih ketat.
Hal ini membuat ekosistem startup telah kembali pada kondisi business as usual sehingga investor tidak lagi mengejar pertumbuhan semata atau valuasi tinggi.
Baca Juga: Tech Winter Masih Membayangi, Modal Ventura Utamakan Startup Berfundamental Kuat
Di tengah kondisi ini pula, investor kini lebih fokus pada perusahaan yang memiliki unit economics positif, tata kelola perusahaan yang sehat, serta arus kas yang nyata.
Meski begitu, Amvesindo tetap optimistis terhadap prospek industri hingga akhir 2026.
Kuartal IV dinilai menjadi momentum realisasi berbagai kesepakatan yang telah melewati proses uji tuntas sepanjang tahun.
Tren flight to quality juga diperkirakan terus mewarnai pasar, dengan aliran modal semakin terkonsentrasi pada perusahaan yang memiliki fundamental kuat.
Baca Juga: Kenaikan BI Rate Berpotensi Pengaruhi Pembiayaan Modal Ventura
Di samping itu, Amvesindo justru memandang penyaluran pembiayaan yang lebih selektif sebagai fondasi jangka panjang untuk menciptakan ekosistem modal ventura dan startup Indonesia yang jauh lebih matang, tangguh, dan berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














