Reporter: Ferry Saputra | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Astra Sedaya Finance atau yang dikenal sebagai Astra Credit Companies (ACC) telah menerbitkan obligasi sebesar Rp 1,03 triliun pada semester I-2026.
EVP Corporate Communication & Strategy ACC Riadi Prasodjo menyampaikan dana yang diperoleh dari obligasi tersebut digunakan untuk modal kerja kegiatan usaha perusahaan. Dia bilang, ACC masih membuka peluang untuk menerbitkan obligasi dengan mempertimbangkan sejumlah faktor.
"Ke depan, kami akan terus mengevaluasi kebutuhan pendanaan dengan mempertimbangkan kondisi pasar, likuiditas, dan strategi bisnis perusahaan," katanya kepada Kontan, Selasa (7/7/2026).
Baca Juga: Krom Bank Evaluasi Target Pertumbuhan Kredit di Tengah Tantangan Segmen Ritel
Lebih lanjut, ACC menyebut, perkembangan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate merupakan salah satu faktor yang menjadi perhatian dalam mengelola pendanaan. Asal tahu saja, BI rate kembali naik menjadi 5,75%.
Namun, Riadi menerangkan, keputusan penerbitan obligasi juga mempertimbangkan faktor lain, seperti kebutuhan bisnis, kondisi pasar, dan strategi pendanaan perusahaan. Oleh karena itu, dia bilang perusahaan akan terus memantau perkembangan kondisi pasar dan dinamika suku bunga dalam rencana penerbitan obligasi.
Mengenai pergerakan tren kupon obligasi, Riadi bilang, pergerakan umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kondisi pasar keuangan, tingkat suku bunga acuan, serta profil risiko keuangan perusahaan. Hingga saat ini, dia bilang ACC masih memantau tren pergerakan pasar.
Sementara itu, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyebut laju penerbitan surat utang multifinance terbilang melambat pada tahun ini, dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: KB Bank Pangkas Target Pertumbuhan Kredit 2026
Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan hal tersebut dilihat dari nilai penerbitan surat utang multifinance hingga Juni 2026 yang tercatat sebesar Rp 12,93 triliun.
"Angka itu masih jauh di bawah realisasi penuh pada 2025 yang sebesar Rp 38,18 triliun. Jika angka Semester I-2026 disetahunkan secara sederhana, nilainya menjadi sekitar Rp 25,86 triliun, atau lebih rendah sekitar 32,3% dibandingkan dengan realisasi penuh 2025," ucapnya kepada Kontan. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














