Reporter: Ferry Saputra | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Asei Indonesia mengidentifikasi sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi kinerja hasil investasinya sepanjang 2026.
Dinamika suku bunga, pergerakan nilai tukar rupiah, hingga kondisi geopolitik global menjadi sejumlah variabel yang perlu dicermati.
Baca Juga: BOPO Industri Multifinance Turun Jadi 79,21% per April 2026
Direktur Utama PT Asuransi Asei Indonesia Dody Dalimunthe mengatakan, arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI) maupun bank sentral global akan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kinerja investasi perusahaan.
Menurutnya, perubahan suku bunga akan berdampak langsung terhadap harga obligasi, biaya dana, serta arus modal yang bergerak di pasar keuangan.
"Pergerakan suku bunga BI maupun bank sentral global akan memengaruhi harga obligasi, biaya dana, dan arus modal di pasar keuangan," ujar Dody kepada Kontan.co.id, Senin (8/6/2026).
Baca Juga: Ini 10 Unitlink Saham yang Mencetak Return Tertinggi pada Mei 2026
Selain itu, Dody menilai volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga perlu menjadi perhatian.
Fluktuasi kurs dinilai dapat memengaruhi sentimen investor, pasar obligasi, hingga kondisi ekonomi makro secara keseluruhan.
"Fluktuasi kurs rupiah dapat memengaruhi sentimen investor, pasar obligasi, dan kondisi makroekonomi secara umum," katanya.
Di sisi eksternal, kondisi geopolitik global turut menjadi faktor yang berpotensi menekan kinerja investasi. Konflik regional maupun kebijakan perdagangan antarnegara dapat memicu ketidakpastian pasar dan meningkatkan volatilitas berbagai instrumen keuangan.
Baca Juga: 118 Perusahaan Perasuransian Sudah Penuhi Ekuitas Minimum untuk 2026
Dody juga menyoroti pentingnya mencermati pertumbuhan ekonomi domestik. Menurutnya, prospek investasi sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi, tingkat konsumsi masyarakat, serta aktivitas dunia usaha.
Selain itu, risiko inflasi juga perlu diwaspadai. Kenaikan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga dan menekan nilai riil hasil investasi.
"Di samping itu, kondisi pasar modal yang volatil, pergerakan pasar obligasi, dan tingkat likuiditas pasar juga akan menentukan kinerja portofolio investasi yang berbasis pasar," ujarnya.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah risiko kredit. Dody mengatakan perusahaan perlu memperhatikan kesehatan emiten maupun lembaga keuangan yang menjadi tujuan penempatan investasi, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Baca Juga: OJK: Potensi Pengembangan Bisnis Multifinance Syariah Masih Cukup Besar
Sebagai perusahaan asuransi, Asei akan terus menerapkan manajemen risiko investasi secara disiplin guna menjaga keseimbangan antara pencapaian imbal hasil yang optimal dan perlindungan terhadap tingkat solvabilitas perusahaan.
"Dengan pendekatan tersebut, perusahaan diharapkan tetap mampu menjaga stabilitas kinerja investasi di tengah dinamika pasar yang terus berkembang," jelas Dody.
Sebagai informasi, berdasarkan laporan keuangan perusahaan, PT Asuransi Asei Indonesia membukukan total investasi sebesar Rp 514,62 miliar per April 2026.
Portofolio investasi tersebut didominasi oleh deposito berjangka senilai Rp 220,13 miliar dan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 211,86 miliar.
Hingga April 2026, perusahaan mencatatkan hasil investasi sebesar Rp 6,56 miliar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













