Reporter: Aura Putri | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank digital memperluas layanan untuk menarik nasabah generasi Z (Gen Z). Kelompok usia ini tidak lagi menggunakan layanan perbankan hanya untuk menyimpan dana dan bertransaksi, tetapi juga mulai memanfaatkan fitur pengelolaan keuangan hingga investasi.
Head of Sustainability & Digital Lending Bank Jago, Andy Djiwandono, mengatakan pertumbuhan minat Gen Z terhadap layanan keuangan digital meningkat signifikan sejak pandemi Covid-19. Salah satu indikatornya terlihat dari meningkatnya jumlah investor ritel yang banyak berasal dari kelompok usia muda.
"Sejak Covid sampai sekarang, minat paling besar di Gen Z saya lihat di sisi investasi. Kami senang karena berarti mereka semakin melek mengenai pilihan investasi," ujar Andy dalam acara Forum Jurnalis Jagoan di Menara SMBC Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Head of Retail Banking Brand & Marketing Bank Jago, Michael Hartawan, mengatakan kebutuhan Gen Z terhadap layanan keuangan kini berkembang lebih luas. Menurutnya, kelompok ini mulai mencari layanan yang tidak hanya memudahkan transaksi, tetapi juga membantu mengatur keuangan secara lebih menyeluruh.
Baca Juga: BI Rate Naik, Bank Digital Kompak Tahan Bunga Deposito, Bahkan Ada yang Turun
Michael menjelaskan, fitur pengelolaan keuangan seperti kantong (pockets) menjadi salah satu layanan yang banyak digunakan nasabah Gen Z. Fitur tersebut memungkinkan pengguna mengatur dana sesuai kebutuhan, mulai dari transaksi harian hingga persiapan investasi.
Selain itu, penggunaan produk investasi juga mulai meningkat. Hal ini didukung integrasi Bank Jago dengan platform investasi Bibit dan Stockbit yang memungkinkan nasabah mengalokasikan dana ke berbagai instrumen, seperti deposito, reksa dana, hingga saham.
"Kami melihat keseimbangan antara penggunaan untuk transaksi, tabungan, dan instrumen investasi cukup menarik," kata Michael.
Menurut Michael, kemudahan dan fleksibilitas menjadi salah satu faktor yang menarik bagi Gen Z. Fitur seperti kantong terkunci diminati karena memungkinkan pengguna menyimpan dana sekaligus tetap dapat mengaksesnya melalui aplikasi.
"Anak-anak Gen Z maunya praktis dan sederhana. Itu yang menjadi salah satu daya tarik fitur kantong terkunci," ujarnya.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengatakan, keputusan Gen Z dalam memilih bank digital tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat bunga simpanan. Pengalaman penggunaan aplikasi, keamanan data, serta reputasi bank juga menjadi pertimbangan.
"Gen Z mempertimbangkan kemudahan interaksi, gamification atau model bank yang mirip dengan bermain game, serta tampilan aplikasi merupakan poin penting," ujar Bhima kepada Kontan, Kamis (9/7/2026).
Baca Juga: Bank Digital Tetap Menahan Suku Bunga Deposito Saat BI Rate Naik, Ini Alasannya
Bhima menambahkan, kolaborasi dengan platform digital dapat menjadi strategi untuk memperkuat daya tarik layanan perbankan di segmen muda. Menurutnya, Gen Z lebih tertarik dengan berbagai keuntungan yang terintegrasi dalam aktivitas digital mereka, seperti diskon maupun bonus pembelian di platform e-commerce.
"Gen Z lebih tertarik dengan iming-iming diskon produk di layanan platform digital karena interaksi mereka banyak dilakukan secara digital," katanya.
Vice President LPPI, Trioksa Siahaan menilai, bank digital memiliki sejumlah keunggulan dalam menarik Gen Z, mulai dari proses pembukaan rekening yang cepat, bebas biaya administrasi, aplikasi yang sederhana, hingga berbagai program promosi.
Menurutnya, Gen Z kini lebih mempertimbangkan kemudahan transaksi, biaya layanan, cashback, keamanan, serta pengalaman menggunakan aplikasi dibandingkan hanya melihat bunga simpanan.
"Bagi Gen Z, bunga simpanan bukan lagi faktor utama, karena bebas biaya admin, kemudahan transaksi, cashback, keamanan, dan pengalaman aplikasi yang nyaman umumnya lebih menentukan," ujar Trioksa kepada Kontan, Kamis (9/7/2026).
Gen Z juga menginginkan layanan perbankan yang terintegrasi dengan aktivitas digital sehari-hari, mulai dari transaksi QRIS, pengelolaan keuangan, investasi, hingga pembayaran kebutuhan harian.
Karena itu, Trioksa menilai bank digital perlu terus mengembangkan layanan yang sesuai dengan kebutuhan generasi muda melalui pengalaman aplikasi yang sederhana, personal, serta terintegrasi dengan ekosistem digital.
Baca Juga: Bukan Perang Bunga, Bank Digital Fokus Genjot Dana Murah Saat Persaingan DPK Ketat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














