kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.526.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.159   -7,00   -0,04%
  • IDX 5.057   -41,01   -0,80%
  • KOMPAS100 651   -4,49   -0,68%
  • LQ45 515   -0,12   -0,02%
  • ISSI 169   -2,02   -1,18%
  • IDX30 290   0,46   0,16%
  • IDXHIDIV20 392   3,47   0,89%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,70   1,58%
  • IDXQ30 98   0,32   0,33%

Beban Operasional Sejumlah Bank Besar Naik hingga Kuartal III-2026, Cek Pemicunya


Minggu, 01 November 2026 / 17:00 WIB
Beban Operasional Sejumlah Bank Besar Naik hingga Kuartal III-2026, Cek Pemicunya
ILUSTRASI. Dana Pihak Ketiga (DPK) Perbankan Tumbuh 7% secara Tahunan (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Sejumlah bank besar mencatatkan kenaikan beban operasional atau operating expenses hingga kuartal III-2026.

Peningkatan biaya tersebut terjadi di tengah ekspansi bisnis, pengembangan layanan digital, serta penguatan infrastruktur teknologi perbankan.

Dari sejumlah bank besar, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan kenaikan beban operasional paling tinggi secara persentase.

Hingga September 2026, beban operasional BNI mencapai Rp 24,20 triliun, meningkat 12% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 21,60 triliun.

Baca Juga: Kredit Permata Bank Tumbuh 10,1% hingga Kuartal III 2026

Kenaikan tersebut sejalan dengan pertumbuhan pendapatan operasional BNI sebesar 11,8% YoY menjadi Rp 51,74 triliun dari sebelumnya Rp 46,28 triliun.

Namun, pertumbuhan beban operasional yang sedikit lebih tinggi dibandingkan pendapatan membuat laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) BNI hanya tumbuh 11,6% YoY menjadi Rp 27,53 triliun hingga kuartal III-2026. Pada periode yang sama tahun lalu, PPOP BNI mencapai Rp 24,67 triliun.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mencatatkan kenaikan beban operasional. Hingga September 2026, beban operasional BCA mencapai Rp 26,8 triliun, tumbuh 3,7% YoY dibandingkan Rp 25,8 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan terutama berasal dari biaya umum dan administrasi atau general and administrative (G&A) yang meningkat 8,7% YoY menjadi Rp 13,4 triliun. Sementara itu, beban tenaga kerja relatif terkendali dengan penurunan tipis 0,9% YoY menjadi Rp 13,4 triliun.

Baca Juga: Transaksi Reksadana KB Bank Melonjak 48% pada Kuartal III 2026

Di sisi lain, pendapatan operasional BCA tumbuh 2,9% YoY menjadi Rp 85,3 triliun. Dengan pertumbuhan beban yang lebih tinggi dibandingkan pendapatan, PPOP BCA hanya meningkat 2,5% YoY menjadi Rp 58,5 triliun.

Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, perseroan senantiasa mengelola biaya operasional secara efektif dan efisien untuk mendukung pertumbuhan bisnis.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengoptimalkan transaksi melalui layanan perbankan digital dan transaksi nontunai, seperti mobile banking dan internet banking.

"Hal tersebut tercermin pada Cost to Income Ratio (CIR) BCA yang terjaga sebesar 31,1% pada kuartal III-2026, relatif lebih efisien dibandingkan tahun sebelumnya," ujar Hera kepada kontan.co.id, Jumat (30/10).

Ke depan, BCA akan terus memperkuat ekosistem finansial serta memodernisasi infrastruktur teknologi informasi untuk menjaga efisiensi operasional sekaligus meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah.

Baca Juga: BTPN Syariah Kantongi Laba Rp 1,01 Triliun hingga Kuartal III-2026

Sementara itu, beban operasional PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) tercatat meningkat 2,2% YoY menjadi Rp 6,69 triliun hingga kuartal III-2026, dari sebelumnya Rp 6,54 triliun.

Kenaikan terutama berasal dari pos beban lainnya atau other expenses yang meningkat 9,4% YoY menjadi Rp 1,71 triliun. Adapun beban personalia naik tipis 0,1% menjadi Rp 3,91 triliun, sedangkan beban teknologi turun 0,6% menjadi sekitar Rp 1,08 triliun.

Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menjelaskan, kenaikan beban operasional secara tahunan tersebut dipengaruhi oleh adanya pembalikan beban atau one-off reversal pada periode tahun sebelumnya.

"Sebetulnya YoY tidak ada kenaikan sama sekali untuk opex. Terlihat ada kenaikan karena ada one-off reversal opex tahun lalu," ujar Lani.

Menurut Lani, dari sisi efisiensi, CIMB Niaga mampu menjaga CIR di bawah 45%. Perseroan juga akan terus mengoptimalkan biaya melalui digitalisasi dan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ke depan.

Di sisi lain, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) justru berhasil menekan beban operasional hingga kuartal III-2026.

Beban operasional Bank Mandiri tercatat sebesar Rp 40,31 triliun, turun 1,6% YoY dibandingkan Rp 40,97 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Laba Bank Mandiri (BMRI) Tumbuh 20,7% hingga Kuartal III 2026

Penurunan tersebut terutama ditopang efisiensi pada pos beban umum dan administrasi yang turun 6,11% YoY menjadi Rp 15,96 triliun dari sebelumnya Rp 16,99 triliun.

Sementara itu, beban personalia relatif stabil dengan kenaikan tipis 0,26% YoY menjadi Rp 16,79 triliun. Adapun beban lain-lain meningkat 4,68% YoY menjadi Rp 7,56 triliun.

Di tengah penurunan beban operasional, pendapatan operasional Bank Mandiri justru tumbuh 9,4% YoY menjadi Rp 105,97 triliun hingga September 2026.

Kondisi tersebut mendorong PPOP Bank Mandiri tumbuh 17,5% YoY menjadi Rp 65,56 triliun, lebih tinggi dibandingkan Rp 55,86 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, kenaikan biaya overhead perbankan pada kuartal III-2026 dipengaruhi oleh aktivitas ekspansi dan investasi bank.

Menurut dia, sejumlah komponen yang mendorong kenaikan biaya antara lain belanja barang dan jasa, biaya tenaga kerja, promosi, penyusutan dan amortisasi, pajak, serta investasi teknologi dan keamanan digital.

Baca Juga: Bank Mandiri Catat Laba Rp 45,5 Triliun hingga Kuartal III 2026

Investasi teknologi dan keamanan digital semakin besar seiring transformasi layanan perbankan yang terus berjalan.

Trioksa memperkirakan, biaya overhead perbankan masih berpotensi tinggi hingga akhir tahun.

Meski demikian, bank masih memiliki ruang untuk menekan pertumbuhan biaya melalui efisiensi belanja vendor dan pengadaan, evaluasi promosi yang kurang produktif, serta pengurangan proses manual dan pekerjaan yang tumpang tindih.

Bank juga dapat mengoptimalkan penggunaan aplikasi dan sistem teknologi yang selama ini berjalan secara bersamaan, serta mengevaluasi produktivitas jaringan kantor.

Baca Juga: Laba Bank Besar Hingga September 2026 Masih Tumbuh, Tapi Margin Bunga Mulai Tergerus

"Strateginya bukan sekadar memangkas biaya, melainkan meningkatkan produktivitas setiap rupiah biaya melalui otomasi, digitalisasi, konsolidasi sistem dan vendor, penguatan CASA serta fee-based income," kata Trioksa.

Ia menambahkan, efisiensi tetap perlu dilakukan secara selektif tanpa mengurangi belanja penting untuk manajemen risiko, kepatuhan, dan keamanan siber.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×