Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemisahan diri dari bank induk melalui skema spin off masih menjadi salah satu agenda berkelanjutan Permata Bank Syariah.
Dengan posisi aset saat ini yang masih relatif jauh dari minimal aset Rp 50 triliun untuk melaksanakan kewajiban spin off, Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah Permata Bank, Rudy Basyir Ahmad, menyebut pihaknya kini lebih fokus untuk mendiversifikasi balance sheet neraca bank.
Lebih rinci, ia bilang posisi terkini aset Permata Bank Syariah masih di kisaran Rp 37 triliun. “Jadi tidak hanya fokus pada segmen-segmen tertentu,” kata Rudy dalam media briefing di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Saat ini, Rudy bilang neraca Permata Bank Syariah masih didominasi korporasi dan kredit pemilikan rumah (KPR).
Untuk memperluas pasar, bank berupaya agar bisa menyentuh lini pembiayaan lain yang selama ini belum maksimal tergarap.
Baca Juga: Pembiayaan Bank Syariah Kompak Naik di Kuartal I-2026, Segmen Konsumer Jadi Penopang
“Bagaimana agar kita kuat di komersil, kuat di UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah), dan juga kuat di ritel di luar KPR,” katanya.
Untuk mendukung misi itu, ia menyebut Permata Bank Syariah juga bakal memperkuat pendanaan. Itu ditempuh salah satunya dengan turut memaksimalkan sumber pendanaan ritel.
Di samping itu, bank juga berupaya untuk terus berinovasi untuk mengeluarkan produk-produk syariah sebagai nilai saing dengan bank konvensional. Di antaranya yaitu pembiayaan ibadah menuju Baitullah dan pembiayaan emas.
Rudy menilai pembiayaan emas menjadi salah satu solusi yang semakin diminati sebagai instrumen investasi jangka panjang yang stabil.
Permata Bank Syariah menghadirkan program cicilan emas Permata KTA iB Multiguna yang memungkinkan nasabah langsung memiliki emas fisik sejak awal pembiayaan.
Dengan produk-produk syariah yang melengkapi layanan Permata Bank Syariah, Rudy bilang tantangan yang juga dihadapi industri keuangan syariah selanjutnya adalah edukasi dan literasi masyarakat yang masih terbatas.
Baca Juga: Ramadan Dongkrak Dana Murah Bank Mega Syariah, DPK Baru Tembus Rp 709 Miliar
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat perbankan syariah terus mencatatkan pencapaian yang positif meskipun berada di tengah dinamika geopolitik dan geoekonomi global.
Per Desember 2025, total aset industri keuangan syariah Indonesia mencapai Rp 3.100 triliun atau meningkat 8,61% secara tahunan.
Namun, indeks literasi keuangan syariah tercatat baru mencapai 43,42% dan inklusi hanya 13,41%, jauh di bawah angka nasional.
“Maka edukasi dan perluasan akses layanan tetap menjadi kebutuhan penting,” tegas Rudy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













