kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.541.000   10.000   0,40%
  • USD/IDR 18.174   21,00   0,12%
  • IDX 4.904   -192,54   -3,78%
  • KOMPAS100 629   -27,90   -4,25%
  • LQ45 497   -20,62   -3,98%
  • ISSI 164   -6,52   -3,83%
  • IDX30 280   -11,04   -3,79%
  • IDXHIDIV20 378   -13,42   -3,43%
  • IDX80 73   -3,14   -4,14%
  • IDXV30 105   -3,49   -3,20%
  • IDXQ30 94   -3,48   -3,57%

Biaya Dana dan Tekanan Margin Bayangi Efisiensi Bank Besar


Selasa, 03 November 2026 / 20:27 WIB
Biaya Dana dan Tekanan Margin Bayangi Efisiensi Bank Besar
ILUSTRASI. terjadi kenaikan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) dan cost to income ratio (CIR) di sejumlah bank (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Efisiensi sejumlah bank besar menghadapi tekanan pada kuartal III 2026. Hal ini tercermin dari kenaikan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) dan cost to income ratio (CIR) di sejumlah bank, di tengah pertumbuhan pendapatan yang belum mampu mengimbangi kenaikan biaya.

Berdasarkan riset Kontan, dari delapan bank yang diamati, enam bank mencatatkan kenaikan CIR secara tahunan atau year on year (YoY). Kenaikan tertinggi terjadi pada Maybank Indonesia dengan CIR meningkat 10,92% menjadi 82,09% pada September 2026.

Selanjutnya, CIR Bank Permata naik 6,84% menjadi 51,55%, disusul CIMB Niaga yang meningkat 5,19% menjadi 47,59%. Bank Danamon juga mencatatkan kenaikan CIR 0,58% menjadi 53,35%.

Baca Juga: LPS Likuidasi 14 BPR &BPRS hingga Oktober 2026, Klaim Simpanan Capai Rp 643,94 Miliar

Sementara itu, CIR BCA meningkat 1,78% menjadi 29,71%. Adapun CIR BNI relatif stabil di level 45,8%, atau turun tipis 0,02% secara tahunan.

Di tengah tren tersebut, Bank Mandiri dan OCBC masih mampu memperbaiki efisiensi. CIR Bank Mandiri turun 16,19% menjadi 36,08%, sedangkan CIR OCBC turun 1,73% menjadi 46,71%.

Dari sisi BOPO, kenaikan juga dialami sejumlah bank. Maybank Indonesia mencatatkan BOPO tertinggi sebesar 94,93%, naik dari 90,17% pada September 2025. CIMB Niaga mencatatkan BOPO 75,47%, meningkat dari 72,65%.

Bank Permata juga mengalami kenaikan BOPO 1,32% menjadi 76,72%, sedangkan BNI naik 1,40% menjadi 73,26%. BCA mencatatkan kenaikan tipis 0,29% menjadi 40,97%.

Sebaliknya, BOPO Bank Mandiri turun 6,60% menjadi 59,29% dan Bank Danamon turun 0,32% menjadi 78,06%. OCBC mencatatkan kenaikan tipis 0,22% menjadi 69,36%.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, tekanan efisiensi paling terlihat pada BNI dan BCA karena pertumbuhan beban operasional lebih cepat dibandingkan pendapatan.

Pada kuartal III 2026, beban operasional BNI tumbuh 12% menjadi Rp 24,20 triliun. Pertumbuhan tersebut sedikit lebih cepat dibandingkan pendapatan, sehingga PPOP hanya tumbuh 11,6% menjadi Rp 27,53 triliun.

Baca Juga: LKM Sebut Ketentuan Baru Soal Penetapan Paling Sedikit 1 PSP Dapat Berdampak Positif

Sementara itu, beban operasional BCA meningkat 3,7%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan operasional yang sebesar 2,9%.

Berbeda dengan kedua bank tersebut, Bank Mandiri berhasil menurunkan beban operasional sebesar 1,6%. Perbaikan tersebut turut mendorong CIR perseroan turun menjadi 36,08%.

Yusuf menjelaskan, tekanan efisiensi perbankan tidak semata-mata berasal dari kenaikan biaya struktural akibat ekspansi, pengembangan layanan digital, dan investasi teknologi. Perlambatan pertumbuhan pendapatan justru menjadi faktor yang lebih dominan.

Menurutnya, penurunan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) turut memengaruhi kemampuan bank menghasilkan pendapatan. NIM industri perbankan turun dari 4,56% pada akhir 2025 menjadi 4,29% pada September 2026.

Persaingan bunga kredit, terutama pada segmen korporasi, membuat imbal hasil kredit tertekan. Di sisi lain, biaya dana belum mudah turun karena persaingan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) masih ketat.

"Jadi, kenaikan rasio efisiensi saat ini lebih tepat dibaca sebagai tekanan margin yang kemudian memengaruhi efisiensi. Ketika pendapatan bunga melambat dan biaya operasional tetap bertambah, BOPO dan CIR secara otomatis memburuk," jelas Yusuf kepada kontan.co.id, Selasa (3/11/2026).

Yusuf memperkirakan, ruang perbaikan efisiensi perbankan pada kuartal IV 2026 masih terbatas. Kebutuhan dana perbankan dan biaya dana yang tinggi berpotensi menahan perbaikan rasio. Selain itu, periode akhir tahun biasanya diikuti peningkatan belanja teknologi, promosi, dan pencadangan bonus.

Baca Juga: Perbankan Optimistis Kerek Target Kredit 2027 di Tengah Ketatnya Likuiditas

Karena itu, bank perlu memperkuat dana murah atau current account and savings account (CASA), meningkatkan pendapatan nonbunga, serta mengevaluasi investasi digital agar benar-benar menghasilkan peningkatan produktivitas.

Adapun, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, tekanan biaya dana atau cost of fund (CoF) dan NIM membuat pertumbuhan pendapatan perbankan lebih lambat dibandingkan kondisi normal.

Meski demikian, Lani menilai efisiensi CIMB Niaga secara konsolidasi masih terjaga. Perseroan memperkirakan CIR berada di kisaran 45%-46% hingga akhir 2026.

Sementara itu, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, beban operasional BCA relatif terjaga hingga kuartal III 2026. Perseroan terus mengelola biaya secara efektif dan efisien untuk mendukung pertumbuhan bisnis.

Menurut Hera, salah satu upaya yang dilakukan adalah mengoptimalkan transaksi melalui layanan perbankan digital dan transaksi nontunai, termasuk melalui mobile banking dan internet banking.

Baca Juga: MSIG Life Waspadai Volatilitas Pasar Saham, Perkuat Strategi Investasi

"Selaras dengan hal tersebut, CIR BCA terjaga sebesar 29,71% per kuartal III 2026," ujar Hera.

Ke depan, BCA akan terus memperkuat ekosistem finansial serta memodernisasi infrastruktur teknologi informasi untuk menjaga efisiensi operasional dan meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×