Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) berhasil menjaga momentum profitabilitasnya dengan mencatatkan laba bersih setelah pajak sebesar Rp 430,98 miliar hingga kuartal III 2026.
Pencapaian ini ditopang oleh tren positif pada pendapatan bunga bersih dan perbaikan efisiensi operasional yang sejalan dengan strategi penguatan fundamental perusahaan.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk Adrian Soewardjo menjelaskan, pencapaian kinerja hingga September 2026 ini merupakan manifestasi dari langkah strategis perusahaan. Hal ini dilakukan untuk memperkokoh fundamental bisnis sebelum memasuki fase ekspansi di masa depan.
Baca Juga: OCBC Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2% pada 2026, Ini Peluang Investasinya
Dari sisi perolehan top line, bank bersandi saham BBYB ini sukses membukukan Pendapatan Bunga Bersih atau Net Interest Income (NII) sebesar Rp 1,69 triliun hingga kuartal ketiga tahun ini.
Berdasarkan data perusahaan, perolehan NII tersebut secara konsisten terus mendaki pada setiap kuartalnya, yakni dari Rp 548,14 miliar di kuartal I 2026, lalu naik menjadi Rp 562,55 miliar di kuartal II 2026, dan kembali terangkat ke level Rp 576,04 miliar pada kuartal III 2026.
"Kami terus mempertahankan profitabilitas, meningkatkan efisiensi, menjaga kualitas aset, serta memastikan bahwa setiap langkah pengembangan bisnis dilakukan secara terukur dan dengan prinsip kehati-hatian. Kami percaya bahwa fondasi yang semakin kuat akan memberikan kemampuan bagi BNC untuk tumbuh secara lebih sehat dan berkelanjutan ke depannya," jelas Adrian dalam keterangannya, (3/10/2026).
Pertumbuhan pendapatan tersebut nyatanya diimbangi oleh kemampuan BNC dalam menekan pos beban. Hal ini tercermin dari Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) BNC yang membaik menjadi 81,77% per September 2026, turun dari posisi 82,81% pada periode yang sama tahun lalu. Setali tiga uang, Cost to Income Ratio (CIR) turut mencatatkan perbaikan ke angka 31,45%.
Lebih lanjut, penguatan fundamental bank digital ini juga disokong oleh struktur permodalan yang makin tebal.
Rasio Kecukupan Modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) BNC melonjak pesat menjadi 53,40% di kuartal III-2026 dibandingkan 46,73% pada tahun sebelumnya, seiring dengan peningkatan modal inti sebesar 10,41% secara tahunan menjadi Rp4,35 triliun.
Dari sisi kualitas aset, rasio Non Performing Loan (NPL) Gross sukses ditekan ke level 2,78% serta NPL Nett berada di angka 0,27%.
Terkait dengan portofolio pembiayaan, perusahaan. tercatat telah menyalurkan total kredit sebesar Rp6,73 triliun yang difokuskan pada pendekatan selektif terhadap kualitas debitur maupun profil risikonya.
"Strategi pertumbuhan yang kami jalankan saat ini bukan semata-mata mengejar peningkatan skala bisnis, melainkan memastikan bahwa setiap aktivitas usaha memberikan kontribusi yang sehat bagi perusahaan. Kami melihat bahwa disiplin dalam pengelolaan portofolio kredit, penguatan proses operasional, serta pengembangan sumber pendapatan yang semakin beragam merupakan elemen penting untuk membangun bisnis yang lebih tangguh," ungkap Adrian.
BNC juga sukses meraup Fee Based Income sebesar Rp 90,55 miliar, tumbuh 5,67% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Adapun dari sisi pendanaan, bank digital ini telah menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) senilai Rp 11,86 triliun hingga September 2026.
Porsi dana murah (Current Account Saving Account/CASA) mencatatkan pertumbuhan menjadi Rp 3,92 triliun, yang sekaligus sukses mendongkrak rasio CASA perusahaan. menjadi 33,05%.
Secara total, per kuartal III 2026, aset Bank Neo Commerce tercatat semakin kokoh dan bertumbuh di angka Rp 17,19 triliun.
Baca Juga: Mizuho Leasing Indonesia Membalik Rugi Jadi Laba Rp 2,48 Miliar per Kuartal III-2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














